Produksi CPO Diprediksi Merosot Tahun Depan, GAPKI Dorong Percepatan PSR

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 22:53:41 WIB
Perkebunan kelapa sawit.

JAKARTA (RA) - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memprediksi produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Indonesia tahun depan berpotensi turun sekitar 5 juta ton akibat fenomena El Nino.

Kondisi tersebut dinilai bisa memicu tekanan terhadap pasokan CPO nasional. Terlebih, program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) hingga kini dinilai belum berjalan optimal.

Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan, persoalan PSR menjadi salah satu faktor yang menghambat peningkatan produksi sawit nasional. Padahal, dana untuk program tersebut telah disiapkan melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit.

"Masalah utama yang membebani produksi kita sebenarnya adalah terkendalanya Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Seharusnya produksi kita tahun lalu sudah bisa di atas 60 juta ton apabila PSR itu berhasil. Kendala utamanya ada pada perizinan, padahal dana dari BPDP sudah disediakan tetapi tidak pernah bisa dicapai karena realisasi PSR yang sangat lambat," kata Eddy dalam keterangan resminya. 

Menurutnya, percepatan PSR menjadi penting untuk menjaga produktivitas kebun sawit rakyat. Lambannya peremajaan membuat potensi peningkatan produksi nasional tidak dapat dimaksimalkan.

GAPKI juga memperhitungkan faktor cuaca dalam proyeksi produksi tahun depan. Fenomena Strong El Nino dan kondisi Positive Indian Ocean Dipole (IOD) yang berpotensi menyebabkan kekeringan hingga akhir tahun dinilai dapat memberikan dampak terhadap produksi sawit.

Eddy menyebut, tanpa memperhitungkan dampak El Nino, produksi CPO nasional pada tahun depan diperkirakan dapat mencapai 59,5 juta ton.

"Namun akibat dampak El Nino, kami memproyeksikan terjadi penurunan produksi sebesar 9,85% atau berkurang sekitar 5 juta ton, sehingga total produksi bisa turun menjadi 53 juta ton," ujarnya.

Proyeksi tersebut menjadi perhatian karena kebutuhan CPO di dalam negeri terus meningkat. Salah satunya berasal dari program biodiesel yang membutuhkan alokasi CPO dalam jumlah besar.

GAPKI memperkirakan kebutuhan CPO untuk biodiesel mencapai lebih dari 17,4 juta ton atau sekitar 16,5% dari produksi nasional.

Jika produksi turun hingga sekitar 53 juta ton, ruang untuk ekspor pun diperkirakan semakin terbatas. Indonesia disebut harus memprioritaskan pemenuhan kebutuhan domestik.

Volume ekspor CPO yang sebelumnya mencapai sekitar 32 juta ton diproyeksikan turun menjadi sekitar 27 juta ton atau berkurang 5 juta ton.

Penurunan ekspor tersebut juga berpotensi memengaruhi penerimaan dana kelolaan BPDP Kelapa Sawit yang digunakan untuk mendukung program biodiesel.

Di sisi lain, keterbatasan pasokan CPO juga dapat berdampak terhadap pasar domestik, termasuk harga tandan buah segar (TBS) yang diterima petani.

GAPKI pun menyambut positif langkah pemerintah yang mulai melakukan penyederhanaan terhadap hambatan perizinan dalam pelaksanaan PSR.

Eddy menegaskan percepatan PSR perlu menjadi prioritas agar produktivitas perkebunan sawit rakyat dapat kembali meningkat dan pasokan CPO nasional tetap terjaga.

Bagi GAPKI, percepatan peremajaan kebun sawit rakyat menjadi langkah penting untuk mengantisipasi tekanan produksi sekaligus menjaga keberlanjutan industri sawit Indonesia.

Tags

Terkini

Terpopuler