Pencarian

Podcast Kelupas

Ekonom: Kabut Asap Bisa Bikin Investor Berpikir Ulang Tanam Modal di Pekanbaru

Rabu, 26 Agustus 2026 • 13:51:40 WIB
Ekonom: Kabut Asap Bisa Bikin Investor Berpikir Ulang Tanam Modal di Pekanbaru
Ekonom Unri, Dahlan Tampubolon.

PEKANBARU (RA) - Kabut asap yang menyelimuti Pekanbaru dan sejumlah wilayah Riau tak hanya mengganggu aktivitas masyarakat. Kondisi yang berulang juga dinilai berpotensi memengaruhi daya tarik investasi di Kota Pekanbaru.

Ekonom senior Universitas Riau, Dahlan Tampubolon, mengatakan investor memiliki sejumlah pertimbangan sebelum menentukan lokasi penanaman modal. Potensi pasar bukan satu-satunya faktor yang dilihat, tetapi juga stabilitas operasional dan kondisi lingkungan.

"Investor tidak menilai Pekanbaru berdasarkan potensi pasar semata, tapi berdasarkan locational advantage yang mencakup stabilitas operasional," ujar Dahlan, Rabu (26/8/2026).

Menurutnya, kabut asap yang hanya terjadi sesekali dan dalam waktu singkat masih dapat dianggap sebagai risiko acak. Namun, persoalan menjadi berbeda apabila kabut asap terus berulang setiap tahun.

Kondisi tersebut, kata Dahlan, dapat dipandang sebagai risiko sistematis regional yang kemudian masuk dalam perhitungan investor ketika menentukan lokasi usaha.

Dampaknya bisa berimbas terhadap biaya investasi. Investor dapat meminta tingkat pengembalian yang lebih tinggi sebagai kompensasi risiko, menghadapi biaya asuransi yang lebih mahal, hingga memilih memindahkan rencana investasi ke daerah lain.

"Risiko sistematis inilah yang dihargai pasar lewat kenaikan risk premium, secara praktis termanifestasi sebagai tuntutan return lebih tinggi, kontrak asuransi lebih mahal, atau langsung pengalihan lokasi investasi ke kota lain dengan profil risiko lingkungan lebih rendah. Batam dan Medan misalnya," jelasnya.

Respons Pemerintah Ikut Jadi Pertimbangan

Tak hanya kondisi udara, respons pemerintah dalam menghadapi kabut asap juga dapat memengaruhi persepsi investor.

Dahlan menyebut kecepatan pemerintah daerah dalam menangani krisis, koordinasi antarlembaga, hingga keterbukaan data menjadi indikator yang diperhatikan investor. Hal itu dapat menjadi gambaran mengenai kapasitas institusional pemerintah daerah.

"Bagaimana pemerintah daerah merespons krisis kabut asap, cepat, terkoordinasi, transparan datanya, menjadi sinyal bagi investor tentang kapasitas institusional daerah secara umum," katanya.

Sebaliknya, penanganan yang lambat dan tidak terkoordinasi berpotensi menimbulkan persepsi adanya risiko tata kelola atau governance risk.

Menurut Dahlan, dampaknya bahkan bisa lebih luas dibandingkan persoalan lingkungan yang menjadi pemicunya.

Ia menjelaskan, dampak ekonomi juga bergantung pada durasi dan pola terjadinya kabut asap. Jika hanya berlangsung beberapa pekan kemudian mereda, kondisi tersebut masih dapat dikategorikan sebagai transitory shock.

Dalam kondisi itu, aktivitas ekonomi dapat kembali pulih setelah gangguan berakhir. Kerugian yang muncul pun lebih banyak berupa hilangnya pendapatan sementara.

Namun, situasinya berbeda jika kabut asap kembali terjadi setiap tahun dengan intensitas yang semakin tinggi.

Dahlan menyebut data karhutla 2026 menunjukkan luas lahan yang terbakar telah mencapai 16.231 hektare dalam delapan bulan pertama tahun ini.

Menurutnya, pola kebakaran yang terus berulang dapat menciptakan dampak yang lebih permanen terhadap perekonomian.

"Jika pola ini berulang setiap tahun dengan intensitas meningkat, maka ada risiko masuk ke fenomena hysteresis. Guncangan yang berulang bisa meninggalkan bekas permanen pada kapasitas ekonomi," ungkapnya.

Kondisi tersebut dapat mendorong pelaku usaha dan investor melakukan penyesuaian struktural. Salah satunya dengan melakukan relokasi atau mendiversifikasi investasi ke luar Riau.

Keputusan tersebut, lanjut Dahlan, tidak selalu berubah begitu kualitas udara kembali normal. Sebab, investor telah memperhitungkan risiko jangka panjang dari lokasi usaha yang dipilih.

Karena itu, ia menilai kerugian ekonomi akibat kabut asap tidak cukup jika hanya dihitung dari hilangnya pendapatan selama periode bencana.

"Inilah kenapa framing kerugian ekonomi kabut asap seharusnya tidak hanya dihitung sebagai kerugian arus (flow loss) tahunan, tapi juga sebagai potensi kerugian terhadap stok kapasitas ekonomi jangka panjang kota," pungkasnya.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks