Hujan Turun di Sejumlah Wilayah, OMC Dinilai Efektif Tekan Karhutla Riau

Jumat, 28 Agustus 2026 | 15:06:36 WIB
Helikopter penyemai garam untuk Operasi Modifikasi Cuaca di Riau.

PEKANBARU (RA) - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dinilai efektif membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau. Melalui teknologi tersebut, hujan yang dihasilkan dari penyemaian awan mampu membawa potensi air hingga sekitar 170 juta meter kubik.

Kepala Dinas Operasi (Kadisops) Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Kolonel Andri Setiawan, mengatakan efektivitas OMC terlihat jika dibandingkan dengan metode pemadaman karhutla secara manual melalui darat maupun operasi water bombing.

"Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bisa kita katakan sangat efektif karena, dengan dibantu dengan OMC, air hujan yang turun bisa mencapai 170 juta kubik air, dari data BMKG. Sehingga jika kita komparasi dengan pemadaman yang dilakukan manual melalui darat, atau dengan water bombing yang hanya 200 ribu liter air, bisa kita bandingkan bahwa OMC sangat signifikan," kata Andri.

Meski demikian, Andri menegaskan pelaksanaan OMC tidak bisa dilakukan sembarangan. Keberhasilannya sangat bergantung pada kondisi alam, terutama ketersediaan awan yang berpotensi berkembang menjadi awan hujan atau awan konvektif.

"Tapi memang yang harus diperhatikan bahwa OMC sangat bergantung dengan potensi awan. Kita sangat bergantung dengan alam yang mendukung terbentuknya awan hujan atau awan konvektif," ujarnya.

Menurutnya, dampak OMC telah dirasakan dalam beberapa hari terakhir. Penyemaian garam pada awan yang memenuhi syarat memicu hujan di sejumlah wilayah Riau. Bahkan, beberapa titik api dilaporkan langsung padam setelah diguyur hujan.

"Kita rasakan bersama beberapa hari lalu, kita semai garam, cukup merata hujan terjadi di sejumlah wilayah, beberapa titik api juga langsung padam dengan turunnya hujan," jelasnya.

Namun, selain keberadaan awan, faktor angin juga menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum penyemaian dilakukan. Tim harus menganalisis arah dan kecepatan angin untuk memperkirakan ke mana awan akan bergerak dan di mana hujan berpotensi turun.

"Selain itu, kita juga memperhatikan kondisi angin, baik kecepatan maupun arahnya. Sehingga kita bisa prediksi hujannya akan turun di mana," katanya.

Andri mencontohkan, penyemaian awan di suatu wilayah tidak akan efektif apabila awan yang menjadi sasaran justru terdorong angin ke wilayah lain.

"Contoh, misalnya kita semai garam di daerah Bengkalis, lalu awannya malah terdorong angin ke Selat Malaka, ini kan mubazir," tuturnya.

Karena itu, koordinasi dengan BMKG terus dilakukan untuk memastikan pelaksanaan OMC dilakukan pada waktu dan lokasi yang tepat. Analisis terhadap potensi awan konvektif, arah angin, serta kecepatannya menjadi dasar dalam menentukan wilayah penyemaian.

"Jadi rekan-rekan BMKG akan terus menganalisis, potensi awan konvektif tadi, maupun arah angin dan kecepatannya," kata Andri.

Ia berharap hujan hasil OMC dapat turun tepat di wilayah yang membutuhkan, khususnya lokasi yang sedang terbakar maupun kawasan yang perlu dibasahi sebagai langkah pencegahan karhutla.

"Sehingga, turunnya hujan kita harapkan bisa tepat berada di lokasi atau lahan-lahan yang terbakar. Atau lahan yang ingin kita basahi, sehingga bisa menekan terjadinya karhutla," pungkasnya.

Tags

Terkini

Terpopuler