RIAUAKTUAL (RA) - Lepas dari kecanduan media sosial bukan perkara mudah, terutama bagi orang yang sudah terbiasa menghabiskan banyak waktu untuk scrolling, mengecek notifikasi, atau mengikuti berbagai informasi terbaru. Agar proses detoks media sosial lebih optimal, ada tiga aktivitas yang bisa dilakukan, yakni olahraga, interaksi tatap muka, dan istirahat.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Adam Prabata, mengatakan mengurangi penggunaan media sosial dapat memberikan kesempatan bagi pikiran untuk beristirahat dari berbagai rangsangan digital. Menurut dia, media sosial yang digunakan secara berlebihan dapat memicu overstimulasi hingga berujung pada kecemasan dan kelelahan mental.
“Media sosial memang bisa memicu overstimulasi yang berujung pada kecemasan dan kelelahan mental. Durasi detoks yang optimal bervariasi antar penelitian, namun sebagian menyebutkan durasi satu sampai dua minggu,” ujar dr Adam, dikutip melalui iNews.
Detoks media sosial tidak hanya dilakukan dengan berhenti membuka aplikasi. Waktu yang biasanya digunakan untuk scrolling juga perlu dialihkan ke aktivitas lain agar seseorang tidak kembali pada kebiasaan lama.
dr Adam menyarankan aktivitas offline untuk mendapatkan manfaat detoks media sosial secara lebih optimal. Ada tiga kegiatan yang dapat dilakukan selama mengurangi penggunaan media sosial.
1. Olahraga
Olahraga dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengisi waktu yang sebelumnya digunakan untuk bermain media sosial. Aktivitas fisik juga membuat seseorang lebih banyak menghabiskan waktu tanpa terpaku pada layar ponsel.
Selain menjaga kebugaran tubuh, olahraga dapat menjadi bagian dari rutinitas yang membantu seseorang memiliki kegiatan terstruktur selama menjalani detoks media sosial.
2. Interaksi Tatap Muka
Menghabiskan waktu bersama keluarga, teman, atau orang-orang terdekat juga dapat menjadi alternatif selama mengurangi penggunaan media sosial. Interaksi secara langsung memberikan kesempatan untuk berkomunikasi tanpa perantara layar.
Aktivitas ini juga dapat membantu seseorang tidak terus-menerus bergantung pada interaksi virtual dan informasi yang muncul di media sosial.
3. Istirahat
Memberikan waktu bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat menjadi bagian penting dalam proses detoks. Mengurangi paparan notifikasi dan aktivitas digital dapat memberikan ruang untuk menjalani waktu tanpa terus memeriksa ponsel.
“Untuk manfaat yang lebih optimal, bisa dikombinasikan dengan meningkatkan aktivitas offline seperti olahraga, interaksi tatap muka, dan istirahat,” katanya.
Menurut dr Adam, tujuan detoks media sosial bukan hanya mengurangi durasi penggunaan aplikasi. Langkah tersebut juga bertujuan mengurangi kebiasaan melihat notifikasi terus-menerus, membandingkan diri dengan orang lain, serta mengurangi FOMO atau Fear of Missing Out*.
“Tujuan detoks media sosial adalah mengurangi melihat notifikasi terus menerus, menurunkan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, dan menurunkan fomo (fear of missing out),” ucapnya.
Bagi orang yang mulai merasa lelah setiap membuka media sosial, mengambil jeda dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kembali kebiasaan digital. Dengan mengisi waktu menggunakan aktivitas offline, proses detoks diharapkan tidak hanya menjadi upaya berhenti scrolling, tetapi juga membangun pola hidup yang lebih seimbang.