Ironi Pacu Jalur 2026, Puluhan Ponton PETI Disebut Masih Beroperasi di Sungai Kuantan

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:00:34 WIB
Puluhan ponton PETI diduga masih beroperasi saat Pacu Jalur 2026 di Kuansing, Riau.

KUANSING (RA) - Festival Pacu Jalur 2026 baru saja dimulai di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Namun, di tengah kemeriahan pesta budaya tersebut, puluhan ponton Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) disebut masih beroperasi di aliran Sungai Kuantan.

Aktivitas tersebut disebut terjadi di wilayah Desa Koto Cerenti, Kecamatan Cerenti, yang merupakan bagian hilir Sungai Kuantan.

Bahkan, aktivitas penambangan ilegal itu disebut berlangsung pada hari pertama Festival Pacu Jalur 2026, Rabu (19/8/2026).

Kondisi tersebut menjadi sorotan karena sehari sebelumnya, Wakapolda Riau Brigjen Pol Dr Hengki Haryadi menyatakan aliran Sungai Kuantan yang masuk wilayah hukum Polres Kuansing telah bersih dari aktivitas PETI setelah digelarnya operasi pada 1-14 Agustus 2026.

Namun, informasi yang dihimpun Riauaktual.com dari warga di lapangan menunjukkan adanya dugaan aktivitas PETI yang masih berlangsung di kawasan tersebut.

Seorang sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku melihat puluhan ponton PETI beraktivitas di aliran Sungai Kuantan, Desa Koto Cerenti, pada Rabu pagi, bertepatan dengan dimulainya Festival Pacu Jalur 2026.

"Dari pagi mereka beraktivitas, jumlahnya puluhan. Saat ini sejumlah ponton sedang hilir mudik mencari tempat untuk menambang," ujar sumber yang dipercaya kepada Riauaktual.com, Kamis (20/8/2026).

Menurut sumber itu, hingga Kamis pagi sejumlah ponton juga disebut masih berdatangan ke kawasan tersebut.

Ponton-ponton tersebut dilengkapi mesin ketinting yang memungkinkan sarana PETI berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain tanpa harus membongkar peralatan.

Aktivitas PETI yang disebut masih berlangsung itu juga dikhawatirkan berdampak terhadap kehidupan masyarakat sekitar.

Sumber tersebut mengatakan belasan warga setempat sempat mendatangi tepian Sungai Kuantan untuk melihat aktivitas ponton PETI. Namun, warga hanya dapat menyaksikan aktivitas tersebut dari seberang sungai.

Menurutnya, aktivitas penambangan tidak hanya berpotensi mengancam kelestarian Sungai Kuantan, tetapi juga berdampak terhadap mata pencaharian masyarakat.

Salah satunya usaha budidaya ikan menggunakan keramba yang berada di aliran sungai.

"Sudah menghancurkan usaha budidaya kerambah ikan warga. Sungai mendangkal, air keruh sehingga ikan mati," katanya.

Ia menyebut aktivitas PETI membuat kondisi sungai semakin dangkal dan air menjadi keruh. Kondisi tersebut disebut berdampak terhadap ikan yang dibudidayakan warga dalam keramba.

Aktivitas ponton PETI tersebut juga disebut sempat dilaporkan warga kepada pihak kepolisian.

Namun, sumber tersebut mengklaim petugas tidak langsung tiba di lokasi saat laporan disampaikan.

"Kemarin pagi sempat ada warga yang lapor ke Polisi, namun pihak kepolisian tidak sempat datang segera dengan alasan sedang menanam jagung. Agak sore mereka datang dan membubarkan ponton-ponton itu," ujarnya.

Meski demikian, informasi mengenai dugaan aktivitas PETI tersebut masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut dari pihak kepolisian dan instansi terkait.

Terlebih, sebelumnya Polda Riau menyatakan telah melakukan operasi pemberantasan PETI di wilayah Kuansing pada 1-14 Agustus 2026.

Aktivitas PETI di Sungai Kuantan menjadi perhatian tersendiri karena sungai tersebut juga menjadi lokasi utama pelaksanaan Festival Pacu Jalur 2026, salah satu agenda budaya terbesar di Kabupaten Kuantan Singingi.

Riauaktual.com masih berupaya mendapatkan konfirmasi dari pihak terkait mengenai dugaan kembali beroperasinya ponton PETI di wilayah Cerenti tersebut.

Tags

Terkini

Terpopuler