BENGKALIS (RA) - Dari balik bangunan tua yang menyimpan cerita masa lalu, lahir sebuah gagasan tentang masa depan.
Penjara Belanda Huis Van Bewering di Jalan Pahlawan Bengkalis, Jumat (14/8/2026) malam, berubah menjadi ruang kreativitas.
Cahaya panggung, karya anak muda, pelaku UMKM, komunitas hingga seniman berpadu dalam Ekraforia 2026 Simfoni Simetria.
Kegiatan yang digelar Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Bengkalis itu bukan sekadar perhelatan seni.
Ekraforia membawa pesan lebih besar: bagaimana sejarah, budaya dan kreativitas lokal dapat diubah menjadi kekuatan ekonomi baru.
Sambutan Bupati Bengkalis Kasmarni, yang dibacakan Wakil Bupati Bagus Santoso, menegaskan pemerintah daerah ingin menjadikan ekonomi kreatif sebagai ruang tumbuh bagi masyarakat, khususnya generasi muda dan pelaku UMKM.
“Kreativitas harus melahirkan nilai tambah. Karya harus melahirkan peluang usaha. Potensi lokal harus melahirkan kesejahteraan.”
Pesan itu menjadi ruh Ekraforia. Sebab, karya yang bagus tidak cukup hanya dipuji. Produk kreatif harus mampu masuk pasar, membuka peluang usaha dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, penguatan sumber daya manusia, jejaring, kelembagaan hingga akses pasar menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif Bengkalis.
Sejarah Bukan Sekadar Kenangan
Pemilihan Huis Van Bewering sebagai lokasi kegiatan juga memiliki makna tersendiri.
Bangunan peninggalan Belanda tersebut tidak hanya dipandang sebagai situs sejarah, tetapi juga memiliki potensi menjadi ruang kreatif dan inovasi. Tentu dengan tetap menjaga karakter serta nilai sejarah yang melekat pada bangunan.
Balai Pelestarian Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Wilayah Riau, Rio Hardiansyah, melihat potensi besar tersebut.
Menurutnya, ekonomi kreatif dapat memberikan dampak luas, mulai dari pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja hingga membuka peluang investasi.
Generasi muda Bengkalis pun didorong memperluas koneksi hingga tingkat nasional dan internasional.
Selain itu, penguatan kapasitas melalui akademi kreatif dan inkubasi bisnis dinilai penting agar para pelaku kreatif tidak hanya mampu menghasilkan karya, tetapi juga mampu mengelola karya menjadi usaha yang berkelanjutan.
Bengkalis juga didorong mengikuti program Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia agar potensi daerah mendapatkan ruang pengembangan dan dukungan lebih luas.
Dari Kreativitas ke Pasar
Satu persoalan yang kerap dihadapi pelaku ekonomi kreatif adalah bagaimana membawa karya dari panggung ke pasar.
Kementerian Koperasi melihat koperasi dapat menjadi salah satu jalan untuk menjawab tantangan tersebut.
Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Wisnu Gunadi bersama Asisten Deputi Bidang Literasi dan Penyuluhan Kementerian Koperasi Edy Haryana menekankan pentingnya kelembagaan koperasi dalam memperkuat pelaku UMKM dan ekonomi kreatif.
Koperasi dapat menjadi wadah untuk memperluas akses fasilitas, pendampingan dan pemasaran. Termasuk mendorong sertifikasi produk seperti sertifikasi halal sebagai bagian dari peningkatan daya saing.
“Intinya meningkatkan akses pasar dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan bagi kita yang tergabung dalam UKM yang bergerak di bidang kreativitas,” ujar Edy.
Panggung Berakhir, Tantangan Dimulai
Ekraforia 2026 akhirnya bukan hanya tentang apa yang berlangsung di atas panggung malam itu.
Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi titik awal untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif Bengkalis secara berkelanjutan.
Sejarah menjadi identitas. Kreativitas menjadi kekuatan. Sumber daya manusia menjadi penggerak. Sementara koperasi dan pasar menjadi jembatan menuju nilai ekonomi.
Tantangannya kini adalah menjaga agar semangat Ekraforia tidak ikut berakhir ketika lampu panggung dipadamkan.
Ruang kreatif, akademi, inkubasi usaha, peningkatan keterampilan, sertifikasi dan perluasan pasar membutuhkan tindak lanjut yang nyata.
Jika semua itu mampu berjalan beriringan, Bengkalis tidak hanya akan dikenal karena sejarahnya, tetapi juga karena keberhasilannya melahirkan generasi kreatif, produk unggulan dan peluang ekonomi baru dari kekayaan lokal.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Ketua II DPRD Bengkalis Hendrik Firnanda Pangaribuan, Anggota DPRD Bengkalis Irmi Syakip Arsalan dan Dr. H. Muhammad Isa Selamat, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Riau Tekad Parbatas Setia Dewa, Plt Kepala Disparbudpora Bengkalis Ardiansyah, Ketua Harian ICCN Viki Arif Herinadarma, Ketua BCN Bengkalis Riza Zuhelmy, Ketua BRCN Risky Bagus Oka serta sejumlah pejabat, komunitas, pelaku UMKM dan masyarakat Bengkalis.