RIAUAKTUAL (RA) - Kasus pasien BPJS Kesehatan yang mengeluhkan belum mendapatkan ruang rawat inap setelah menunggu selama delapan jam menjadi sorotan di media sosial. Unggahan tersebut justru dibanjiri komentar bernada merendahkan, termasuk dari sejumlah akun yang diduga milik tenaga kesehatan dan dokter.
Terlepas dari kronologi lengkap maupun penyebab kematiannya, kasus ini menjadi refleksi tentang bagaimana seseorang dapat kehilangan empati terhadap orang lain yang sedang berada dalam kondisi sulit.
Psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan dalam psikologi, terdapat konsep displacement. Konsep ini terjadi saat seseorang mengalihkan emosi, terutama kemarahan atau frustrasi, dari sumber masalah yang sebenarnya kepada sasaran lain yang lebih mudah dijangkau.
Dalam konteks pelayanan kesehatan, seorang tenaga kesehatan mungkin sebenarnya merasa frustrasi terhadap sistem yang memiliki berbagai keterbatasan. Namun, emosi tersebut dapat beralih dan dilampiaskan kepada pasien yang sedang menyampaikan keluhan.
Sebaliknya, pasien yang telah berjam-jam menahan sakit dan menghadapi ketidakpastian juga dapat mengalami frustrasi. Emosi tersebut bisa saja dilampiaskan kepada petugas yang ditemui, meskipun petugas tersebut belum tentu memiliki kewenangan untuk mengubah keadaan.
Dengan kata lain, kemarahan yang sebenarnya bersumber dari persoalan tertentu dapat dialihkan kepada orang yang bukan merupakan sumber masalah. Namun, memahami mekanisme tersebut bukan berarti membenarkan perilaku yang merugikan orang lain.
"Sayangnya, media sosial sering kali memperburuk situasi," katanya seperti dikutip dari detikcom.
dr Lahargo mengatakan, terdapat fenomena yang disebut online disinhibition effect. Fenomena ini terjadi ketika seseorang cenderung lebih berani berkata kasar saat berinteraksi di balik layar.
Ketika berkomentar di media sosial, seseorang tidak berhadapan langsung dengan orang yang menjadi sasaran ucapannya. Tidak ada kontak mata, ekspresi wajah, maupun respons emosional yang terlihat secara langsung.
"Akibatnya, rem sosial menjadi melemah," ucapnya lagi.
Media sosial juga dapat mempermudah terjadinya dehumanisasi. Seseorang yang sedang sakit tidak lagi dilihat sebagai manusia dengan perasaan dan kehidupannya sendiri, melainkan hanya berdasarkan label tertentu.
"Korban tidak lagi dipandang sebagai seorang ayah, ibu, anak, atau seseorang yang sedang kesakitan. Ia hanya dilihat sebagai "pasien BPJS", "netizen yang mencari perhatian", atau "orang yang suka mengeluh". Ketika identitas kemanusiaan hilang, empati pun ikut memudar," ucapnya.