Aspekpir Sebut Kemitraan Petani dengan PTPN IV PalmCo Layak Jadi Role Model Sawit Nasional

Kamis, 02 Juli 2026 | 07:00:00 WIB
Aspekpir Sebut Kemitraan Petani dengan PTPN IV PalmCo Layak Jadi Role Model.

PEKANBARU (RA) - Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia menilai pola kemitraan antara petani sawit dan PTPN IV PalmCo layak dijadikan role model pengembangan perkebunan sawit nasional.

Kemitraan tersebut dinilai terbukti mampu meningkatkan produktivitas kebun rakyat, memperkuat tata kelola, sekaligus mendorong kesejahteraan petani secara berkelanjutan.

Ketua DPP Aspekpir Indonesia, Setiyono, mengatakan masa depan sawit rakyat Indonesia sangat bergantung pada kemitraan yang sehat antara petani, perusahaan, dan pemerintah. Menurutnya, pola kemitraan yang diterapkan PTPN IV PalmCo menjadi contoh bagaimana hubungan tersebut dapat berjalan secara inklusif dan saling menguntungkan.

"Produksi sawit petani meningkat karena kemitraan. Masa depan sawit rakyat Indonesia adalah kemitraan, dan bermitra dengan PTPN IV merupakan pilihan yang tepat," kata Setiyono saat diskusi panel dalam peluncuran buku Setiyono, Kisah dan Rahasia Sukses Petani Sawit Plasma Transmigrasi di Hotel Pangeran, Pekanbaru, Rabu (1/7/2026) kemarin.

Kegiatan itu dihadiri Ketua Dewan Pengawas Aspekpir Indonesia Rusman Heriawan, Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo Arya Sandhiyuda, perwakilan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Togu Rudianto Saragih, Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono, serta ratusan pengurus organisasi petani sawit dari berbagai daerah.

Setiyono menjelaskan, melalui kemitraan, petani memperoleh pendampingan dalam menerapkan Good Agricultural Practices (GAP), mulai dari penggunaan bibit unggul, pengelolaan lahan, pemupukan, pengendalian hama hingga proses panen sesuai standar. 

Penerapan praktik budidaya tersebut dinilai menjadi kunci peningkatan produktivitas sekaligus menjaga daya saing industri sawit Indonesia di pasar global.

Berdasarkan data Aspekpir Indonesia, program kemitraan melalui pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR) maupun Kredit Koperasi Primer untuk Anggota (KKPA) kini tersebar di 20 provinsi dengan luas kebun plasma lebih dari 813 ribu hektare dan melibatkan sekitar 406 ribu kepala keluarga pekebun.

Menurutnya, sebagian besar kebun sawit plasma kini telah memasuki generasi kedua sehingga membutuhkan program peremajaan agar produktivitas tetap terjaga. Aspekpir sendiri telah menjalankan program peremajaan sejak 2012 melalui Revitalisasi Perkebunan dan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

Setiyono menambahkan, salah satu keunggulan kemitraan bersama PTPN IV PalmCo adalah penerapan pola single management, yakni sistem pengelolaan terpadu mulai dari peremajaan hingga panen dengan standar operasional perusahaan.

Sistem tersebut mencakup penerapan operational excellence, kesetaraan produktivitas antara kebun inti dan plasma, pemberdayaan petani melalui program cash for works, penguatan kelembagaan petani, serta transparansi dalam pengelolaan kebun.

"Kalau B50 ingin berhasil, maka produktivitas petani harus naik. Cara paling efektif mewujudkannya adalah melalui kemitraan yang sehat antara petani dan perusahaan," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Supriadi, mengatakan pola kemitraan telah memberi dampak besar terhadap kehidupan masyarakat di sentra-sentra perkebunan sawit di Riau.

Menurutnya, hubungan antara Aspekpir dan PTPN IV PalmCo tidak hanya sebatas kerja sama bisnis, tetapi juga membangun ikatan sosial yang kuat di tengah masyarakat perkebunan.

"Kemitraan yang dijalankan Aspekpir telah banyak mengubah kehidupan masyarakat dan menggerakkan ekonomi di akar rumput. Saya sudah enam tahun di Riau dan mengikuti banyak kegiatan. Suasana di Aspekpir terasa berbeda karena dibangun dengan semangat kekeluargaan," katanya.

Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyuda, mengatakan penguatan kemitraan menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan pasokan minyak sawit nasional, terutama menghadapi peningkatan kebutuhan bahan baku untuk program mandatori biodiesel B50.

Menurut Arya, peningkatan produktivitas kebun rakyat melalui kemitraan akan memperkuat ketersediaan crude palm oil (CPO) bagi industri pangan dan energi nasional.

"Kebijakan B50 akan meningkatkan kebutuhan CPO domestik secara signifikan. Karena itu, keberhasilan program tersebut tidak hanya bergantung pada perkebunan perusahaan, tetapi juga pada kemampuan jutaan petani sawit rakyat meningkatkan produktivitas dan mempercepat peremajaan kebun," ujarnya.

Ia menambahkan, dengan luas perkebunan rakyat yang mencapai lebih dari 40 persen dari total areal sawit nasional, petani memegang peran strategis dalam menjaga ketahanan energi sekaligus memastikan manfaat ekonomi industri sawit dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Tags

Terkini

Terpopuler