Warisan di Ujung Jemari: Dedikasi Menjaga Budaya Melayu di Tengah Arus Modernisasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 22:10:38 WIB
Pengrajin songket di Jalan Inpres, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru.

PEKANBARU (RA) - Di sebuah rumah sederhana di Jalan Inpres, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, denting alat tenun masih terdengar pelan. Di balik lembaran-lembaran kain berhiaskan benang emas, seorang perempuan bernama Winda tekun merangkai benang demi benang, menjaga agar warisan budaya Melayu tetap hidup di tengah derasnya arus modernisasi.

Bagi sebagian orang, songket hanyalah selembar kain tradisional yang dikenakan saat upacara adat atau acara resmi. Namun bagi Winda, setiap helai songket adalah cerita panjang tentang sejarah, kesabaran, dan identitas masyarakat Melayu yang tak boleh hilang ditelan zaman.

Di ruang tamunya, kain-kain songket tertata rapi di dalam lemari kaca. Warna-warna cerah dengan motif khas Melayu menghiasi setiap sudut ruangan, menjadi saksi perjalanan panjang seorang perempuan yang memilih mempertahankan tradisi dibanding mengikuti arus pekerjaan modern.

Perjalanan Winda sebagai penenun bermula sejak duduk di bangku SMK Negeri 4 Pekanbaru. Selepas lulus, ia mengasah kemampuannya di Tenun Wan Fitri selama sekitar lima tahun sebelum akhirnya memberanikan diri membuka usaha sendiri setelah berumah tangga.

“Keahlian ini saya pelajari sejak sekolah. Setelah bekerja beberapa tahun, akhirnya saya mencoba membuka usaha sendiri,” ujarnya.

Meski usahanya masih berjalan cukup baik, tantangan terus menghampiri. Salah satunya berasal dari kenaikan harga bahan baku impor yang dipengaruhi nilai tukar dolar. Kondisi tersebut membuat biaya produksi ikut meningkat.

“Penjualan masih cukup baik, hanya saja bahan baku impor menjadi kendala akibat kenaikan nilai dolar,” katanya.

Namun tantangan terbesar justru bukan berasal dari persoalan ekonomi, melainkan dari perubahan pola pikir generasi muda. Di era digital yang serba cepat, pekerjaan menenun yang membutuhkan ketelitian dan waktu panjang mulai dipandang kurang menarik.

Menurut Winda, banyak anak muda menganggap songket hanya identik dengan orang tua atau acara adat. Padahal, di balik proses pembuatannya tersimpan nilai-nilai kehidupan yang sangat relevan hingga saat ini.

“Jangan berharap mereka langsung berminat. Yang paling penting adalah mengenalkan terlebih dahulu. Kalau mereka sudah tahu dan mengenal songket, ketertarikan itu akan tumbuh dengan sendirinya,” tuturnya.

Baginya, memperkenalkan songket bukan sekadar mengenalkan kain tradisional, tetapi juga menanamkan karakter seperti kesabaran, ketelitian, dan ketekunan yang lahir dari proses menenun.

Harapan itu mulai menemukan jalannya melalui program Praktik Kerja Lapangan (PKL) bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Setiap tahun, para pelajar datang ke tempat usahanya untuk belajar secara langsung mengenai proses pembuatan songket.

Di sana, mereka tidak hanya mempelajari teknik menenun, tetapi juga memahami filosofi di balik setiap motif, proses merangkai benang, hingga makna budaya yang diwariskan turun-temurun.

Melalui pengalaman tersebut, pembelajaran tidak lagi sebatas teori di ruang kelas. Para siswa diajak menyentuh langsung warisan budaya yang selama ini hanya mereka lihat dalam buku pelajaran atau dikenakan saat acara adat.

Bagi Winda, cara seperti inilah yang paling efektif untuk menjaga agar songket tetap memiliki tempat di hati generasi muda.

Ia berharap suatu hari nanti akan semakin banyak anak muda yang bangga mengenakan, mempelajari, bahkan menjadi pengrajin songket sehingga warisan budaya Melayu tidak berhenti pada generasinya.

“Saya berharap usaha songket ini bisa lebih maju, lebih dikenal, dan lebih diminati, terutama oleh anak muda. Jangan sampai berhenti di sini saja. Harus ada yang melanjutkan,” ungkapnya penuh harap.

Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan budaya populer, perjuangan para pengrajin seperti Winda menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan akar budaya.

Sebab di balik setiap helai songket yang ditenun dengan sabar, tersimpan identitas Melayu yang terus dijaga dari waktu ke waktu. Warisan itu mungkin lahir dari seutas benang, tetapi sesungguhnya sedang merajut sejarah agar tetap hidup di ujung jemari generasi penerus.

Penulis: Dini Syakirah Bhayangkara

Terkini

Terpopuler