JAKARTA (RA) - Kesepakatan kerja sama antara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Solvent Extractors' Association of India (SEA), dan Asian Palm Oil Alliance (APOA) yang diteken pada ajang GlobOil India 2025 diharapkan mampu mendongkrak perdagangan minyak sawit Indonesia ke pasar India.
Namun, hingga semester I 2026, peningkatan permintaan yang diharapkan belum sepenuhnya terealisasi akibat ketidakpastian geopolitik global yang masih memengaruhi arus perdagangan komoditas.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, mengatakan kerja sama tersebut sejatinya memberikan sentimen positif bagi pasar minyak sawit Indonesia di India.
Menurutnya, berbagai program promosi bersama, pertukaran informasi, hingga penguatan hubungan antarpelaku industri telah berjalan sesuai kesepakatan yang tertuang dalam nota kesepahaman.
"Kalau tidak terganggu perang sebenarnya permintaan ke India naik," kata Eddy, kepada riauaktual.com, Minggu (31/5/2026).
Ia menjelaskan, kondisi geopolitik yang terjadi di kawasan timur tengah telah memengaruhi stabilitas perdagangan internasional, termasuk pasar minyak nabati. Ketidakpastian tersebut membuat sebagian pelaku usaha dan importir mengambil langkah lebih hati-hati dalam melakukan pembelian.
Meski demikian, Eddy menilai fondasi kerja sama yang telah dibangun bersama SEA dan APOA tetap memberikan manfaat jangka panjang bagi industri sawit nasional. Hubungan yang semakin erat antara produsen dan konsumen dinilai mampu memperkuat posisi minyak sawit Indonesia di pasar Asia.
"Kerja sama ini tetap penting karena membuka komunikasi yang lebih intensif antara industri sawit Indonesia dan pengguna minyak sawit di India. Jadi ketika kondisi pasar kembali normal, peluang peningkatan perdagangan akan lebih besar," ujarnya.
India sendiri masih menjadi salah satu pasar ekspor minyak sawit terbesar bagi Indonesia. Tingginya kebutuhan minyak nabati negara tersebut membuat prospek permintaan jangka panjang tetap dinilai menjanjikan.
Melalui kerja sama tiga pihak tersebut, GAPKI bersama SEA dan APOA terus mendorong berbagai program peningkatan pemahaman mengenai minyak sawit berkelanjutan, penguatan rantai pasok, serta pembukaan akses pasar yang lebih luas bagi produk-produk turunan sawit.
GAPKI mencatat, hingga Maret 2026 menunjukkan total volume ekspor produk sawit ke India mencapai 988 ribu ton, meningkat sekitar 28 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 770 ribu ton.
Peningkatan terbesar terjadi pada ekspor Crude Palm Oil (CPO) yang melonjak dari 359 ribu ton pada Maret 2025 menjadi 817 ribu ton pada Maret 2026. Sementara ekspor produk oleokimia juga naik dari 68 ribu ton menjadi 75 ribu ton.
Dari sisi nilai, ekspor sawit Indonesia ke India juga mengalami kenaikan signifikan. Hingga Maret 2026, total nilai ekspor mencapai US$ 1,069 miliar, meningkat sekitar 23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar US$ 866 juta.
Eddy optimistis, apabila situasi geopolitik global membaik dan hambatan perdagangan dapat diminimalkan, permintaan minyak sawit Indonesia ke India berpotensi meningkat signifikan sejalan dengan target kerja sama yang telah disepakati kedua belah pihak.
"India tetap menjadi pasar yang sangat penting bagi Indonesia. Karena itu kami berharap kondisi global segera kondusif sehingga manfaat kerja sama ini bisa lebih maksimal dirasakan oleh kedua negara," pungkasnya.