GAPKI: Produksi dan Ekspor Sawit Maret 2026 Turun, Stok Nasional Naik Jadi 2,568 Juta Ton

Kamis, 28 Mei 2026 | 09:00:00 WIB

JAKARTA (RA) - Industri kelapa sawit nasional mengalami penurunan produksi dan ekspor pada Maret 2026. Meski demikian, secara tahunan atau year on year (YoY), kinerja industri sawit Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan positif.

Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono menyampaikan produksi CPO pada Maret 2026 tercatat sebesar 4.403 ribu ton atau turun 12,22 persen dibanding Februari 2026 yang mencapai 5.015 ribu ton.

“Produksi CPO bulan Maret 2026 mencapai 4.403 ribu ton, turun -12,22% dari bulan sebelumnya 5,015 ribu ton,” ujar Mukti Sardjono dalam keterangan resminya yang diterima riauaktual.com, Kamis (28/5/2026).

Ia menjelaskan, penurunan juga terjadi pada produksi palm kernel oil (PKO) yang turun menjadi 418 ribu ton dari 485 ribu ton pada Februari 2026.

“Sehingga total produksi CPO+PKO Maret 2026 mencapai 4.821 ribu ton lebih kecil -12,35% dari bulan sebelumnya 5.500 ribu ton,” katanya.

Meski turun secara bulanan, Mukti menyebut secara kumulatif hingga Maret 2026 produksi sawit nasional masih lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.

“Secara YoY sampai Maret, produksi CPO+PKO 2026 naik menjadi 15.558 ribu ton atau 18,44% lebih tinggi dari produksi 2025 sebesar 13.135 ribu ton,” ungkapnya.

Dari sisi konsumsi domestik, GAPKI mencatat total konsumsi dalam negeri pada Maret 2026 turun menjadi 2.115 ribu ton dari 2.305 ribu ton pada Februari 2026.

“Total konsumsi dalam negeri mengalami penurunan -8,25% dari 2.305 ribu ton di bulan Februari menjadi 2.115 ribu ton pada bulan Maret 2026,” kata Mukti.

Penurunan terbesar terjadi pada konsumsi pangan yang turun menjadi 897 ribu ton dari sebelumnya 986 ribu ton. Konsumsi biodiesel juga turun menjadi 1.056 ribu ton dari 1.144 ribu ton, sedangkan konsumsi oleokimia turun menjadi 162 ribu ton dari 175 ribu ton.

Namun secara tahunan, konsumsi domestik masih tumbuh positif.

“Secara YoY sampai Maret, konsumsi 2026 naik menjadi 6.524 ribu ton atau 7,47% lebih tinggi dari konsumsi 2025 sebesar 6.071 ribu ton,” ujarnya.

Sementara itu, ekspor produk sawit Indonesia pada Maret 2026 mengalami penurunan tajam. Total ekspor tercatat sebesar 2.168 ribu ton atau turun 34,25 persen dibanding Februari 2026 sebesar 3.297 ribu ton.

“Total ekspor produk sawit pada bulan Maret 2026 turun menjadi 2.168 ribu ton atau -34,25% dari ekspor bulan Februari sebesar 3.297 ribu ton,” jelas Mukti.

Penurunan ekspor terjadi pada hampir seluruh produk utama sawit. Ekspor CPO turun menjadi 96 ribu ton dari 395 ribu ton pada Februari atau turun 75,61 persen. Ekspor olahan minyak inti sawit turun menjadi 94 ribu ton dari 171 ribu ton, sedangkan ekspor olahan minyak sawit turun menjadi 1.506 ribu ton dari 2.267 ribu ton.

Di sisi lain, ekspor oleokimia justru mengalami kenaikan tipis.

“Sedangkan kenaikan ekspor terjadi pada oleokimia yang naik menjadi 468 ribu ton dari 462 ribu ton pada bulan sebelumnya (+1,42%),” katanya.

Menurut data GAPKI, penurunan ekspor terbesar terjadi ke sejumlah negara tujuan utama seperti China, India, Pakistan, Bangladesh, Afrika, Timur Tengah, Malaysia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Sementara ekspor ke Rusia mengalami kenaikan sebesar 24 ribu ton.

Meski secara bulanan turun, secara kumulatif hingga Maret 2026 total ekspor produk sawit Indonesia masih tumbuh dibanding tahun lalu.

“Secara YoY sampai Maret, ekspor 2026 naik menjadi 8.546 ribu ton atau 11,91% lebih tinggi dari ekspor 2025 sebesar 7.637 ribu ton,” ujar Mukti.

Nilai ekspor produk sawit juga mengalami penurunan pada Maret 2026, dari US  2,61 miliar atau turun 29,27 persen.

Namun secara YoY, nilai ekspor Januari-Maret 2026 meningkat menjadi US  8,75 miliar.

“Peningkatan nilai ekspor secara YoY terjadi karena meningkatnya volume ekspor dan juga karena harga rata-rata Januari-Maret 2026 sebesar US  1.230/ton Cif Rotterdam,” kata Mukti.

Di tengah penurunan produksi dan ekspor bulanan, stok minyak sawit nasional pada akhir Maret 2026 justru mengalami kenaikan.

“Dengan stok awal Maret 2026 sebesar 2.026 ribu ton, produksi 4.821 ribu ton, konsumsi 2.115 ribu ton dan ekspor 2.168 ribu ton, maka stok di akhir Maret 2026 menjadi 2.568 ribu ton lebih besar dari 2.026 ribu ton pada stok di akhir Februari 2026,” tutupnya.

Tags

Terkini

Terpopuler