PEKANBARU (RA) - Di tengah lesunya harga kelapa sawit beberapa tahun lalu, seorang pemuda asal Kabupaten Rokan Hilir, Riau, justru melihat peluang besar dari sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai.
Dari tangan Hendra Dermawan, limbah kelapa sawit yang biasanya dibuang kini berubah menjadi produk kerajinan hingga barang bernilai ekspor yang menembus pasar internasional.
Melalui Rumah Tamadun yang didirikannya pada 2017, Hendra berhasil membuktikan bahwa limbah sawit tidak hanya bisa diolah menjadi produk kreatif, tetapi juga mampu membuka lapangan pekerjaan, memberdayakan masyarakat, dan membawa nama Riau ke panggung dunia.
Perjalanan Rumah Tamadun bermula dari langkah sederhana. Saat itu, Hendra mencoba bertahan secara ekonomi dengan menjadi reseller tanjak, aksesoris tradisional Melayu yang cukup diminati masyarakat.
Namun di balik aktivitas itu, ia melihat persoalan yang lebih besar ketika harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit anjlok pada 2018 dan berdampak pada ekonomi masyarakat di kampungnya.
Di tengah situasi tersebut, Hendra mulai mengumpulkan ibu-ibu PKK di desa untuk memanfaatkan lidi sawit yang selama ini hanya dianggap limbah. Dari bahan sederhana itu, mereka mulai membuat piring lidi dan berbagai kerajinan tangan lainnya.
"Inisiatif ini ternyata menarik perhatian pemerintah daerah, sehingga kami mendapatkan pelatihan keterampilan untuk mengembangkan produk dari limbah sawit," ujar Hendra, kepada riauaktual.com, Senin (11/5/2026).
Dari sinilah Rumah Tamadun perlahan tumbuh. Tidak hanya fokus memproduksi kerajinan berbahan lidi sawit, usaha ini kemudian berkembang menjadi pusat inovasi produk berbasis limbah kelapa sawit yang mengedepankan konsep keberlanjutan dan ekonomi kreatif.
Perjalanan panjang itu mulai membuahkan hasil. Pada 2018, Rumah Tamadun dinobatkan sebagai UMKM terbaik di Kabupaten Rokan Hilir. Setahun berselang, penghargaan serupa diraih di tingkat Provinsi Riau.
Nama Rumah Tamadun pun mulai dikenal lebih luas. Pada 2019, Hendra diundang mengikuti pameran internasional di Malaka dan mendapat undangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur untuk memperkenalkan produk-produk olahan limbah sawit.
Masih di tahun yang sama, Rumah Tamadun ditetapkan sebagai produk unggulan Provinsi Riau oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Riau. Pengakuan tersebut semakin memperkuat posisi mereka sebagai UMKM kreatif yang berhasil mengubah limbah sawit menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Tidak berhenti di situ, Rumah Tamadun juga meraih penghargaan Diddakarya dari Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Riau sebagai UMKM yang tumbuh dan berkembang.
Tahun 2020 menjadi titik penting dalam perjalanan usaha tersebut. Rumah Tamadun berhasil melakukan ekspor perdana ke Malaysia dan Macau. Produk seperti tas lidi sawit dan piring lidi mulai diterima pasar luar negeri.
Kesuksesan itu membuat Rumah Tamadun mendapat pengakuan sebagai "Local Hero" dari Bank Syariah Indonesia (BSI). Penghargaan tersebut membawa Hendra ke Jakarta untuk memperkenalkan UMKM unggulan asal Riau di tingkat nasional.
Momentum besar kembali terjadi pada 2021 ketika Rumah Tamadun berhasil menembus pasar Amerika Serikat. Produk-produk berbahan limbah sawit dikirim secara mandiri ke Washington DC.
"Ini pertama kali kami melakukan ekspor ke Amerika secara mandiri, dengan tujuh produk unggulan yang diterima di sana," kata Hendra.
Produk yang dikirim tidak hanya berupa tas dan piring lidi, tetapi juga keranjang buah, mangkok, bakul nasi, hingga berbagai produk inovatif lainnya.
Di tahun yang sama, Rumah Tamadun juga meraih juara tiga dalam lomba UMKM Expo di Universitas Gadjah Mada (UGM). Capaian tersebut menjadi bukti bahwa usaha dari daerah mampu bersaing di level nasional maupun internasional.
Selain memperkuat pasar ekspor, Rumah Tamadun juga terus memperluas pemasaran digital melalui berbagai platform e-commerce dan strategi promosi berbasis teknologi.
Inovasi pun terus berkembang. Tidak hanya memanfaatkan lidi sawit, Rumah Tamadun mulai mengolah bagian lain dari limbah kelapa sawit menjadi produk baru. Salah satunya teh dari daun kelapa sawit. Mereka juga memproduksi lilin aromaterapi dan sabun mandi berbahan minyak jelantah.
"Kami berusaha memanfaatkan sebanyak mungkin limbah kelapa sawit agar tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga mendukung praktik keberlanjutan," ujar Hendra.
Pada 2022, Rumah Tamadun mengikuti berbagai pelatihan ekspor dan berhasil menjalin kemitraan dengan buyer dari Amerika Serikat. Kerja sama itu membuat produk mereka kembali dikirim secara mandiri ke Washington DC.
Di tahun yang sama, Hendra memperoleh sertifikasi profesi UMKM dari BNSP. Rumah Tamadun juga berhasil mendapatkan hak kekayaan intelektual (HKI) atas produk-produknya sebagai langkah memperkuat daya saing di pasar global.
Kini, Rumah Tamadun tidak lagi sekadar usaha kerajinan berbahan lidi sawit. Usaha ini telah berkembang dengan menghadirkan Tamadun Workshop, Tamadun Coffee, hingga Tamadun Studio Foto.
Perkembangan itu menunjukkan bagaimana sebuah usaha berbasis desa mampu tumbuh menjadi ekosistem bisnis kreatif yang terus berkembang.
Selain mengelola usaha, Hendra juga aktif menjadi instruktur nasional di berbagai pelatihan UMKM yang digelar asosiasi besar seperti SAMADE dan APKASINDO. Bersama PHR dan BPDP, ia berkeliling Indonesia memberikan pelatihan kepada pelaku UMKM dari Sabang sampai Merauke.
Pada 2024, Rumah Tamadun kembali mendapat kehormatan mengikuti pameran di Washington DC dalam rangka peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Amerika Serikat.
Ke depan, Hendra menargetkan pasar Eropa sebagai tujuan ekspor berikutnya. Ia juga aktif dalam kampanye “Sawit Baik” yang bertujuan memperkenalkan sisi positif industri sawit Indonesia di tengah maraknya kampanye negatif di sejumlah negara Eropa.
"Cara kami membalas kampanye negatif tersebut adalah dengan mengirimkan produk-produk berbahan limbah sawit ke pasar Eropa," jelasnya.
Tidak hanya berbicara soal bisnis, Hendra juga memiliki mimpi besar agar Riau memiliki museum sawit sebagai pusat edukasi dan sejarah industri sawit Indonesia.
"Riau adalah pusat sawit dunia, sudah sepatutnya kita punya museum sawit agar generasi mendatang memahami betapa pentingnya komoditas ini," ungkapnya.
Dengan dukungan masyarakat sekitar dan para petani sawit di Rokan Hilir, Rumah Tamadun kini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana inovasi dari daerah mampu menciptakan dampak besar.
Dari limbah yang dulu dianggap tak bernilai, Rumah Tamadun berhasil menghadirkan produk kreatif yang dikenal hingga mancanegara.
Lebih dari sekadar UMKM, Rumah Tamadun menjadi simbol bagaimana sawit dapat diolah secara berkelanjutan, memberi nilai tambah ekonomi, sekaligus membawa pesan positif Indonesia ke dunia internasional.