PEKANBARU (RA) – Isu defisit anggaran daerah menjadi perhatian serius kalangan akademisi. Hal itu dibahas dalam Diskusi Publik dan Policy Brief bertema "Pajak Air Permukaan (PAP): Jawaban Defisit Anggaran dan Wujudkan Keadilan Ekonomi?" yang digelar di Universitas Muhammadiyah Riau.
Rektor UMRI, Saidul Amin, dalam sambutannya mengatakan kegiatan diskusi seperti ini penting untuk membangun cara berpikir rasional dan memperluas wawasan mahasiswa terhadap persoalan strategis daerah.
"Saya mengucapkan selamat datang di kampus ini. Diskusi seperti ini akan memantik rasionalitas dan intelektualitas. Kalau mahasiswa diajak membahas hal besar, maka cakrawala berpikir mereka akan semakin luas," ujarnya.
Menurut Saidul, pembahasan Pajak Air Permukaan menjadi relevan karena saat ini persoalan defisit anggaran tengah menjadi perbincangan hangat di Provinsi Riau. Namun, ia menegaskan solusi tidak bisa hanya bersifat jangka pendek.
"Kita bicara PAP dalam rangka menyelesaikan permasalahan defisit anggaran di Riau. Tapi kita tidak hanya berhenti di situ. Dalam jangka panjang kita harus membahas hal yang lebih esensial," katanya.
Ia mencontohkan negara Malaysia yang dinilai berhasil meningkatkan nilai tambah sektor perkebunan melalui penguasaan teknologi, khususnya dalam pengolahan kelapa sawit menjadi berbagai produk turunan.
"Malaysia mampu mengolah sawit menjadi banyak produk, bahkan lebih beragam dari Indonesia. Kuncinya teknologi. Kalau ini bisa kita benahi, maka Pendapatan Asli Daerah (PAD) bisa meningkat luar biasa," jelasnya.
Saidul juga menyoroti bahwa selama ini daerah penghasil sumber daya alam seperti Riau belum sepenuhnya menikmati manfaat ekonomi yang optimal.
"Selama ini kita hanya menerima dampak seperti kerusakan jalan dan persoalan lingkungan. Padahal kalau ditata dengan baik, sawit bisa menjadi komoditas yang menguntungkan semua pihak," ungkapnya.
Ia menegaskan, Riau memiliki potensi kekayaan alam yang sangat besar. Namun, kemajuan daerah sangat ditentukan oleh penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi.
"Riau sebetulnya kaya raya. Tapi kuncinya ada pada keilmuan dan teknologi agar kekayaan itu benar-benar memberikan nilai tambah bagi daerah," tutupnya