RIAUAKTUAL (RA) - Minum oralit saat sahur diklaim bisa membuat tubuh lebih tahan haus selama berpuasa karena kandungan elektrolitnya membantu penyerapan cairan. Meski terdengar masuk akal, oralit sejatinya dirancang untuk mengatasi dehidrasi akibat diare atau muntah, bukan untuk konsumsi rutin orang sehat.
Bahkan, kandungan natrium dalam oralit berpotensi memicu rasa haus pada orang yang tidak sedang mengalami kekurangan cairan, karena tubuh akan berusaha menyeimbangkan kembali konsentrasi garam dalam darah.
Lalu, bagaimana sebenarnya cara kerja oralit dan apakah benar efektif untuk puasa?
Seperti dilansir dari detikcom, oralit, yang secara internasional dikenal sebagai Oral Rehydration Salts (ORS), adalah larutan yang dirancang untuk menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang akibat diare, muntah, atau kondisi dehidrasi lainnya. Komposisinya terdiri dari air, natrium klorida, glukosa, kalium, serta trisodium sitrat yang berperan menjaga keseimbangan asam-basa tubuh.
Berbeda dari air putih biasa, oralit bekerja melalui mekanisme biologis spesifik di usus halus. Glukosa membantu penyerapan natrium melalui mekanisme co-transport, yakni proses ketika glukosa dan natrium masuk ke dalam sel usus secara bersamaan. Ketika natrium terserap, air mengikuti secara osmotik ke dalam aliran darah, sehingga pemulihan cairan berlangsung lebih cepat dan efisien. Mekanisme inilah yang membuat ORS efektif dalam mencegah dan mengatasi dehidrasi akut.
World Health Organization (WHO) merekomendasikan ORS sebagai terapi rehidrasi standar dalam penanganan diare karena efektivitasnya dalam menurunkan risiko komplikasi akibat kehilangan cairan. Sejumlah tinjauan ilmiah juga menegaskan bahwa ORS dikembangkan sebagai terapi rehidrasi pada kondisi kehilangan cairan, bukan sebagai minuman hidrasi rutin bagi individu sehat (Munthali et al., 2015).
Larutan ini tidak mengatasi penyebab dehidrasi, melainkan menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang secara cepat dan terukur. Dalam konteks kesehatan masyarakat global, penggunaan ORS telah berkontribusi signifikan terhadap penurunan angka kesakitan dan kematian akibat diare, terutama di negara berkembang. Lalu, apakah mekanisme ini juga membuat oralit bermanfaat bagi orang sehat yang berpuasa?
Secara teori, minuman yang mengandung elektrolit memang membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh. Natrium atau garam, misalnya, berperan penting dalam mengatur jumlah cairan di dalam dan di luar sel tubuh. Saat seseorang kehilangan banyak cairan, seperti ketika diare atau muntah, minuman yang mengandung natrium terbukti membantu tubuh menyerap air lebih cepat dibanding air putih biasa (WHO, 2005; Binder et al., 2014).
Namun pada orang yang sehat dan tidak sedang dehidrasi, efeknya bisa berbeda. Jika kadar natrium dalam darah meningkat, tubuh justru akan memicu rasa haus. Hal ini terjadi karena otak mendeteksi darah menjadi lebih "pekat" dan memberi sinyal agar kita minum untuk mengencerkan kembali konsentrasi garam tersebut (Verbalis, 2003). Dengan kata lain, minuman tinggi natrium tidak otomatis membuat seseorang lebih tahan haus, bahkan bisa memicu keinginan minum lebih cepat.
Selain itu, kemampuan tubuh menahan cairan tidak hanya ditentukan oleh kandungan elektrolit dalam satu kali minum. Faktor lain seperti total asupan cairan sejak berbuka, konsumsi makanan asin, suhu lingkungan, aktivitas fisik, hingga kerja hormon pengatur cairan dan fungsi ginjal juga berperan (Popkin et al., 2010).
Karena itu, pada orang sehat yang tidak mengalami dehidrasi, konsumsi oralit belum terbukti secara ilmiah membuat lebih tahan haus saat puasa.