Soal Gaduh 'Anak Jangan WNI', Ini Hal yang Terlupakan di Balik Konten Haus Validasi

Selasa, 24 Februari 2026 | 05:00:08 WIB
Ilustrasi.

RIAUAKTUAL (RA) - Ramai seorang alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) berinisial DS dikecam publik gegara pernyataan kontroversi 'cukup saya yang WNI, anak jangan'. Kasus ini tengah diproses oleh Divisi Hukum dan Komunikasi LPDP, Mohammad Lukmanul Hakim.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa ikut menindak tegas alumni penerima beasiswa LPDP tersebut. Purbaya memastikan suami si alumni yang juga awardee LPDP bakal mengembalikan seluruh dana beasiswa beserta bunganya.

"Jadi, bos LPDP sudah bicara dengan suami terkait dan dia sepertinya sudah setuju untuk mengembalikan uang yang dipakai LPDP, termasuk bunganya," beber Purbaya saat konferensi pers APBN KiTA di Jakarta Pusat, dikutip dari detikcom.

Berkaca dari kasus terkait, psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menyinggung soal dinamika psikologis yang terlibat di balik unggahan hal pribadi dan cenderung sensitif. Misalnya, berkaitan dengan kebutuhan validasi dan cara individu mengelola emosi di ruang digital, seperti media sosial.

Maka dari itu, perlu kesadaran seseorang dalam bijak memilah apa saja yang memang aman untuk dibagikan di media sosial. dr Lahargo menekankan secara psikologis dan etika digital, ada tiga hal yang perlu dipikirkan.

"Tanyakan, ini kebutuhan atau impuls? Kalau diposting saat emosi memuncak, biasanya lebih impulsif dan berisiko disalahpahami," kata dr Lahargo.

"Perhatikan juga dampak sosial. Isu identitas negara, keluarga, atau anak sering menjadi sensitif karena menyangkut nilai kolektif masyarakat," tambahnya.

dr Lahargo juga menekankan prinsip 'future self'. Ini dilakukan dengan bertanya pada diri sendiri, apakah akan tetap merasa nyaman jika postingan ini dilihat lima tahun ke depan.

Sebab, media sosial merupakan ruang publik yang permanen. dr Lahargo merasa tidak semua yang terasa benar untuk diucapkan, akan aman untuk dipublikasi.

"Fenomena stres terkait identitas kebangsaan bukan sekadar soal nasionalisme, tapi refleksi kecemasan masa depan. Yang perlu dijaga adalah keseimbangan antara mengekspresikan keresahan dan menjaga kesehatan mental secara nyata," pungkasnya.

Terkini

Terpopuler