PEKANBARU (RA) – Saat bulan suci Ramadhan hingga menjelang Hari Raya Idulfitri, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit secara historis kerap mengalami penurunan.
Namun, Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Dr. Gulat Medali Emas Manurung, menegaskan bahwa petani kini semakin kritis dan siap mengawal proses penetapan harga agar tetap adil.
Menurut Gulat, tren penurunan harga TBS menjelang hari-hari besar keagamaan sudah berlangsung lama dan hampir selalu terjadi setiap tahun.
"Biasanya pertengahan Ramadhan, menjelang lebaran, harga sawit itu selalu turun. Dari dulu memang begitu. Setiap menjelang hari besar, penurunannya cukup signifikan dengan berbagai alasan yang kadang tidak masuk akal," kata Gulat, Senin (23/2/2026).
Selama ini, lanjutnya, penurunan harga kerap dikaitkan dengan kondisi pasar global, seperti kenaikan harga minyak nabati lain atau fluktuasi harga crude palm oil (CPO). Namun, petani kini memahami bahwa faktor tersebut bukan penyebab utama.
"Petani sawit sekarang sudah generasi kedua, sudah pandai berhitung. Dan ternyata penyebab utamanya bukan itu. Yang terjadi adalah pembebanan biaya-biaya yang dikeluarkan PKS, seperti THR manajemen dan berbagai biaya lainnya, yang kemudian diakumulasikan dan dibebankan ke harga TBS petani," jelasnya.
Gulat menilai, praktik pembebanan biaya internal perusahaan kepada petani melalui mekanisme harga menjadi salah satu faktor yang menekan pendapatan petani setiap menjelang Lebaran.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Apkasindo bersama berbagai organisasi petani sawit lainnya dalam dua tahun terakhir memperkuat pengawasan terhadap struktur biaya yang digunakan dalam penetapan harga TBS.
"Alhamdulillah, dua tahun terakhir petani sawit di seluruh Indonesia cukup solid. Kami bersama asosiasi lain mengawal harga TBS dengan memeriksa item-item dalam BOL (Biaya Operasional Langsung) dan BOTL (Biaya Operasional Tidak Langsung). BOTL ini yang harus lebih teliti karena di situ sering terjadi pembengkakan," katanya.
Upaya pengawasan tersebut, menurutnya, terbukti mampu menjaga stabilitas harga TBS menjelang Hari Raya dalam dua tahun terakhir.
Ia berharap kondisi serupa dapat terjaga pada tahun ini. "Mudah-mudahan di lebaran tahun ini harga TBS tidak turun, karena semua pihak sudah lebih melotot terhadap tata cara penetapan harga," ujarnya.
Gulat juga mengingatkan pabrik kelapa sawit (PKS), khususnya pabrik komersial yang tidak memiliki kebun sendiri, agar tidak menetapkan harga secara sepihak.
"Pabrik-pabrik komersial jangan macam-macam, jangan ingin menang sendiri. Penetapan harga harus transparan dan adil," tegasnya.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan petani untuk menjaga kualitas hasil panen agar memiliki posisi tawar yang lebih kuat di pasar.
"Petani juga harus disiplin, menjual TBS dengan kualitas yang baik. Kalau kualitas bagus, maka harga juga lebih mudah dipertahankan," tutupnya.
Dengan meningkatnya kesadaran dan soliditas petani serta pengawasan terhadap komponen biaya, Apkasindo optimistis harga TBS tahun ini dapat tetap stabil dan tidak lagi mengalami penurunan tajam menjelang Lebaran.