JAKARTA (RA) - Di tengah perekonomian global terus bergerak dinamis sepanjang 2025, pengelolaan dana haji nasional justru menunjukkan ketahanan.
Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) mencatat nilai manfaat sebesar Rp12,09 triliun, dengan total dana kelolaan mencapai Rp180,72 triliun.
Capaian ini menjadi penanda bahwa di tengah fluktuasi pasar, dana umat tetap terjaga dan tumbuh.
Sepanjang tahun lalu, BPKH mengelola dana jemaah dengan prinsip kehati-hatian tinggi.
Pengelolaan dilakukan secara aman, transparan, serta berlandaskan prinsip syariah.
Di tengah berbagai tekanan ekonomi global, pendekatan prudent menjadi fondasi utama agar dana haji tetap stabil sekaligus produktif.
Tidak hanya itu, dana haji yang dikelola juga dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Jaminan tersebut memberikan kepastian tambahan bahwa keamanan dana jemaah tetap terlindungi, meski dinamika pasar keuangan terus berlangsung.
Cerminan kepercayaan masyarakat terlihat dari meningkatnya jumlah pendaftar haji baru.
Pada 2025, realisasi pendaftar mencapai 488.419 jemaah, melampaui target Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) yang ditetapkan sebesar 422.000 jemaah.
Lonjakan ini menjadi indikator kuat bahwa publik menaruh keyakinan pada tata kelola dana haji di Indonesia.
Di tengah situasi ekonomi yang tidak selalu pasti, keputusan untuk mendaftar haji menunjukkan optimisme sekaligus kepercayaan terhadap pengelolaan dana yang aman dan profesional.
Strategi investasi yang terukur turut menghasilkan imbal hasil sebesar 6,86 persen sepanjang 2025.
Angka ini berkontribusi langsung pada pencapaian nilai manfaat Rp12,09 triliun, yang pada akhirnya mendukung keberlanjutan penyelenggaraan ibadah haji.
Kepala Badan Pelaksana BPKH, Fadlul Imansyah menegaskan, komitmen lembaganya dalam menjaga amanah dana umat.
"BPKH berkomitmen menjaga dana haji tetap aman, dikelola secara hati-hati, dan memberi manfaat berkelanjutan bagi jemaah," ujarnya.
Ke depan, BPKH menyatakan akan terus memperkuat tata kelola, manajemen risiko, serta strategi investasi syariah yang terukur.
Langkah ini penting untuk memastikan dana haji tetap tumbuh secara berkelanjutan sekaligus menjaga kepercayaan publik.
Di balik angka-angka triliunan rupiah itu, tersimpan harapan jutaan calon jemaah.
Karena bagi mereka, dana haji bukan sekadar investasi, melainkan titipan menuju panggilan suci yang menunggu waktu untuk ditunaikan.