Riauaktual.com - Dunya Saboori (8) meminta kepada ibunya agar membiarkannya mengenakan seragam berwarna biru. Gadis cilik itu tidak ingin terlambat masuk sekolah pada awal pekan ini yang menandai tahun ajaran baru di Afghanistan.
"Ini hampir jam 07.00 dan kita akan terlambat," keluh Dunya ketika duduk di ruang keluarga, di rumahnya, di Kabul.
Dia menyendok sarapan paginya berupa telur goreng dengan potongan roti, sementara ibunya menyiapkan ransel dan jilbab Dunya.
Setelah liburan panjang selama lebih dari dua bulan, Dunya tak sabar bertemu dengan teman-temannya.
Aktivitas semacam itu seperti yang dialami jutaan anak di seluruh dunia menjelang berangkat sekolah.
Namun di Afghanistan yang sedang dianda perang, rutinitas mengantar dan menjemput anak-anak di sekolah merupakan hal yang penuh dengan bahaya.
Dalam konflik tanpa garis depan, warga sipil kerap terjebak situasi kekerasan mematikan.
Pelaku serangan cenderung mengeksekusi terornya pada saat jam sibuk, di mana jalanan penuh sesak oleh pejalan kaki dan kendaraan. Sementara, orangtua sering mengantar atau menjempit anak-anak sekolah.
Keamanan di ibu kota Afghanistan kian memburuk. Taliban dan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) meluncurkan beberapa serangan mematikan dalam beberapa bulan terakhir.
Ibu Dunya, Maliha tentu khawatir dengan keselamatan anaknya. Namun, dia tetap memastikan anak-anaknya meninggalkan rumah tepat waktu.
Dunya dan kedua adiknya, Sana dan Sama, memakai seragamnya yang rapi disetrika, menutupi rambut hitam mereka dengan syal hitam, dan membawa tas punggung baru mereka menuju ke sekolah.
Bersama ayahnya, Baqi, keduanya di antar ke sekolah melewati jalan-jalan yang sibuk di Kabul.
Dunya dan Sana, termasuk di antara lebih dari 8 juta anak yang terdaftar di sekolah di seluruh Afghanistan tahun ini dan sekitar 40 persennya merupakan murid perempuan.