JAKARTA (RA) - Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menghangat menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27-29 Agustus 2026.
Sejumlah nama mulai mencuat dan disebut memiliki peluang untuk memperebutkan posisi Ketua Umum PBNU. Founder Citra Institute, Yusak Farchan, menilai persaingan akan berlangsung dinamis karena masing-masing figur memiliki kelebihan dan kekurangan.
"Dari enam hingga delapan nama kandidat Ketum PBNU yang beredar, saya kira masing-masing memiliki plus-minus," ujar Yusak dilansir dari RMOL.id, Ahad (16/8/2026).
Menurut Yusak, tantangan PBNU ke depan tidak hanya berkaitan dengan persoalan internal organisasi. Dinamika geopolitik serta kompleksitas persoalan global juga membutuhkan figur pemimpin yang memiliki wawasan dan pengalaman internasional.
"Ketua Umum PBNU ke depan tidak cukup hanya memiliki kemampuan mengelola organisasi dan jejaring internal, tetapi juga perlu memiliki pengalaman diplomasi internasional serta rekam jejak global," tutur Yusak.
Ia menilai kemampuan membangun komunikasi dan jejaring di tingkat internasional menjadi salah satu modal penting bagi Ketua Umum PBNU mendatang.
Menurutnya, PBNU sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia memiliki posisi strategis dalam memperkenalkan Islam moderat khas Indonesia di tengah dinamika global.
Lebih lanjut, Yusak menyebut empat nama yang menurutnya layak dipertimbangkan dalam bursa calon Ketua Umum PBNU.
"Nama-nama seperti KH Nasaruddin Umar, KH Zulfa Mustofa, KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), dan KH Marsudi Syuhud saya kira sangat layak dipertimbangkan sebagai Ketua Umum PBNU," ungkapnya.
Yusak menilai keempat tokoh tersebut memiliki rekam jejak kepemimpinan dan pengalaman dalam berbagai aktivitas keumatan. Selain itu, mereka dinilai memiliki kapasitas dalam membangun dialog antaragama dan hubungan lintas peradaban.
"Serta memiliki kapasitas dalam memperkenalkan model Islam moderat khas Indonesia dalam percaturan global," pungkasnya.