PEKANBARU (RA) – Belantara Foundation mengajak generasi muda Jepang untuk ambil bagian dalam aksi nyata menghadapi perubahan iklim melalui kegiatan penanaman pohon secara simbolis di kawasan Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim (Tahura SSH), Riau, Kamis (30/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026.
Sebanyak 25 pelajar, mahasiswa, dan guru dari University of Tsukuba Senior High School at Sakado (UTSS), Ehime University Senior High School, dan University of Tsukuba mengikuti aksi penghijauan tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian lingkungan sekaligus mendukung upaya penurunan emisi gas rumah kaca di Indonesia.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Belantara Foundation bersama Kesatuan Pengelola Hutan Produksi (KPHP) Minas Tahura dan Kelompok Tani Hutan Sultan Syarif Hasyim.
Bibit pohon yang ditanam terdiri atas balangeran (Shorea balangeran), kulim (Scorodocarpus borneensis), dan tampui (Baccaurea macrocarpa). Balangeran dipilih karena merupakan spesies langka yang memiliki kemampuan menyerap karbon, menjaga cadangan air, serta berperan penting dalam restorasi ekosistem gambut. Sementara kulim dikenal sebagai pohon bernilai ekonomi tinggi karena kayunya dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi, sedangkan tampui menghasilkan buah yang menjadi sumber pakan satwa liar seperti burung dan primata.
Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna, mengatakan penanaman pohon dalam rangka menyambut HKAN 2026 bertujuan menumbuhkan kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, agar berpartisipasi aktif menjaga kelestarian alam.
"Pelibatan pelajar dan mahasiswa dari Jepang dalam kegiatan penanaman pohon merupakan investasi bagi masa depan. Belantara Foundation berharap mereka menjadi agen perubahan yang mampu menginspirasi lebih banyak orang untuk berkontribusi dalam pelestarian alam dan lingkungan serta mendukung target pengurangan emisi gas rumah kaca Indonesia melalui restorasi hutan," ujar Dolly.
Ia menambahkan, tema HKAN 2026, "Kerja Bersama Merawat Alam Indonesia", menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi lintas generasi dan lintas negara dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Sementara itu, Kepala KPHP Minas Tahura, Sri Wilda Hasibuan, menjelaskan Tahura Sultan Syarif Hasyim merupakan kawasan konservasi yang ditetapkan Menteri Kehutanan pada 1999 dengan luas lebih dari 6.000 hektare. Namun, sebagian besar kawasan tersebut kini mengalami deforestasi dan degradasi akibat aktivitas ilegal seperti perambahan dan pembalakan liar.
"Kami sangat mengapresiasi upaya Belantara Foundation yang telah mendorong berbagai pihak, termasuk pelajar dan mahasiswa dari Jepang, untuk terlibat aktif dalam gerakan menanam pohon di kawasan Tahura SSH yang telah terdegradasi. Keterlibatan generasi muda dari berbagai negara memperkuat fungsi Tahura SSH sebagai laboratorium alam yang mendukung kegiatan pendidikan, penelitian, dan konservasi biodiversitas," katanya.
Head Teacher of International Studies Senior High School at Sakado, University of Tsukuba, Yoshikazu Tatemoto, menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman langsung kepada para peserta dalam memahami tantangan konservasi hutan tropis sekaligus pentingnya kerja sama internasional menghadapi perubahan iklim.
"Melalui partisipasi aktif dalam penanaman pohon, mereka tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga menanamkan kesadaran ekologis sejak dini serta dapat berkontribusi dalam mencegah dampak perubahan iklim yang saat ini menjadi perhatian dunia," ujar Tatemoto.
Selain mengikuti aksi penanaman pohon di Riau, para pelajar dan mahasiswa dari Jepang juga dijadwalkan mengikuti Belantara Biodiversity Class bertajuk "Mengenal Biodiversitas Kebun Raya Bogor" pada 1 Agustus 2026. Kegiatan tersebut akan memberikan pelatihan mengenai pendataan dan identifikasi biodiversitas di kawasan perkotaan sebagai bagian dari penguatan edukasi konservasi bagi generasi muda.