Pencarian

Podcast Kelupas

Buka Pendidikan Bintara Polri SPKT 2026, Kapolda Riau Tekankan Pelayanan Humanis dan Larang Kekerasan di Lemdik

Senin, 20 Juli 2026 • 09:45:53 WIB
Buka Pendidikan Bintara Polri SPKT 2026, Kapolda Riau Tekankan Pelayanan Humanis dan Larang Kekerasan di Lemdik
Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan membuka Pendidikan Pembentukan Bintara Polri Berkemampuan SPKT Tahun Anggaran 2026, Senin (20/7/2026).

KAMPAR (RA) - Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan membuka Pendidikan Pembentukan Bintara Polri Berkemampuan Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Tahun Anggaran 2026, Senin (20/7/2026).

Dalam amanatnya, Herry menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar mengubah status masyarakat menjadi anggota Polri, tetapi menjadi proses membentuk karakter, moral, integritas, hingga kemampuan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Kapolda mengawali amanatnya dengan mengajak seluruh peserta upacara memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesempatan mengikuti pembukaan pendidikan dalam keadaan sehat.

Ia kemudian mengucapkan selamat kepada seluruh peserta didik yang berhasil lolos seleksi dari ribuan pendaftar di seluruh Indonesia.

"Saudara adalah putra-putri terbaik bangsa yang berhasil menyisihkan ribuan pendaftar untuk mengikuti pendidikan di lembaga ini. Jalani pendidikan ini dengan sebaik-baiknya," kata Herry.

Ia menjelaskan, pendidikan pembentukan Bintara Polri Berkemampuan SPKT akan berlangsung selama lima bulan dengan total 4.799 peserta didik Se Indonesia. Rinciannya, sebanyak 709 polisi wanita mengikuti pendidikan di Sepolwan, sedangkan 4.090 polisi pria mengikuti pendidikan  di 31 Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda di seluruh Indonesia.

Menurut Herry, besarnya jumlah peserta didik serta luasnya penyebaran satuan pendidikan menunjukkan bahwa program tersebut merupakan langkah strategis Polri dalam memperkuat pelayanan kepada masyarakat.

"Pendidikan ini bukan sekadar mengubah status seseorang menjadi anggota Polri, melainkan proses transformasi pengetahuan, keterampilan, sikap, karakter, mental, dan budaya agar menjadi personel yang profesional. Untuk Polda Riau 119 siwa didik," ujarnya.

Tahun ini, pendidikan mengusung tema “Membangun Keutamaan Pendidikan Polri Berbasis Moral dan Literasi untuk Mendukung Program Kedaulatan Pangan, Energi, dan Ekonomi yang Produktif serta Inklusif.”

Kapolda menegaskan, tema tersebut memiliki makna mendalam karena pendidikan Polri tidak hanya membentuk personel yang tangguh secara fisik dan terampil dalam bertugas, tetapi juga memiliki moralitas, integritas, kemampuan berpikir kritis, serta mampu memahami perkembangan lingkungan strategis.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari kerasnya latihan yang dijalani peserta, melainkan dari lahirnya personel Polri yang mampu menjalankan tugas dengan profesional, berintegritas, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Sebagai calon personel SPKT, lanjut Herry, para peserta didik nantinya akan berada di garis terdepan pelayanan kepolisian. Mereka akan menjadi pihak pertama yang menerima masyarakat saat datang ke kantor polisi membawa berbagai persoalan.

"Masyarakat datang ke kantor polisi sering kali membawa masalah, ketakutan, kebingungan, bahkan keputusasaan. Karena itu, personel SPKT harus mampu menerima laporan dengan cepat, berkomunikasi secara santun, memberikan kepastian hukum, serta menghadirkan pelayanan prima," katanya.

Ia menambahkan, lulusan pendidikan SPKT diharapkan menjadi pelaksana utama tugas kepolisian yang profesional, berkarakter kebhayangkaraan, memiliki kompetensi pelayanan publik, serta menjunjung tinggi hak asasi manusia, demokrasi, dan prinsip-prinsip humanis.

Dalam kesempatan itu, Herry juga menyampaikan sejumlah pesan kepada seluruh peserta didik. Ia meminta mereka meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai bekal menjalani pendidikan yang tidak ringan selama lima bulan ke depan.

Selain itu, peserta diminta segera menyesuaikan diri dengan kehidupan di lingkungan pendidikan, mempersiapkan fisik dan mental, mematuhi seluruh aturan, menghormati para pendidik, serta menjaga solidaritas antarsesama peserta.

Kapolda juga mengingatkan agar seluruh peserta meninggalkan kebiasaan buruk, sikap manja, perilaku individualistis, maupun keinginan untuk selalu menang sendiri.

Ia bahkan memberikan motivasi kepada peserta didik agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi tekanan selama menjalani pendidikan.

"Kalau kalian lelah, ingat kembali tujuan datang ke tempat ini. Kalau merasa tertekan, ingat bahwa tekanan yang dikelola dengan baik akan membentuk ketangguhan. Jika ingin menyerah, ingatlah orang tua dan keluarga yang menitipkan harapan dan kebanggaan kepada kalian," pesannya.

Menurut Herry, seluruh ilmu yang diperoleh selama pendidikan akan menjadi modal utama dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat ketika nantinya bertugas sebagai anggota Polri.

Tak hanya memberikan arahan kepada peserta didik, Kapolda Riau juga menyampaikan perintah tegas kepada seluruh kepala SPN, tenaga pendidik, instruktur, pengasuh, serta tenaga kependidikan.

Ia meminta proses pendidikan dilaksanakan secara profesional, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kualitas lulusan.

Kapolda secara khusus menekankan agar tidak ada praktik kekerasan maupun hukuman yang merendahkan martabat peserta didik.

"Terapkan disiplin secara tegas, adil, dan konsisten. Hindari segala bentuk kekerasan, hukuman yang merendahkan martabat, serta tindakan yang bertentangan dengan hukum dan nilai-nilai kemanusiaan," tegasnya.

Ia juga mengingatkan seluruh tenaga pendidik untuk memperhatikan kondisi kesehatan peserta, termasuk dampak cuaca panas selama proses latihan.

Menurut Herry, pendidikan yang keras tidak identik dengan kekerasan.

"Latihan boleh berat, tetapi tidak boleh kehilangan martabat. Ketegasan harus membentuk karakter, bukan menumbuhkan dendam. Tekanan latihan harus memperkuat daya juang, bukan merusak fisik dan mental peserta didik," ujarnya.

Di akhir amanatnya, Kapolda meminta seluruh pendidik menjadi teladan bagi peserta didik, baik dalam sikap, ucapan, kedisiplinan, maupun integritas.

Ia juga mengingatkan agar seluruh tenaga pendidik mengenali kondisi setiap peserta didik sehingga tidak ada satu pun yang tertinggal dalam proses pembentukan menjadi Bhayangkara yang profesional, humanis, dan siap melayani masyarakat.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks