JAKARTA (RA) - Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Golkar, Firman Subagyo mengingatkan Indonesia tak boleh terus bergantung pada impor pangan, energi, dan teknologi jika ingin memiliki fondasi ekonomi yang kuat dan tahan terhadap guncangan global. Ia menilai ancaman geopolitik modern kini tidak lagi hanya berbentuk perang militer.
“Perang sekarang ini tidak cuma pakai rudal, tetapi juga menggunakan tarif, rantai pasok, dan data,” katanya dalam Dialektika Demokrasi bertema 'Hari Kebangkitan Nasional, Strategi Memperkuat Ekonomi di Tengah Bayang-bayang Geopolitik' di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Menurut Firman, Indonesia membutuhkan strategi ekonomi baru yang lebih mandiri dan realistis agar tak mudah terjebak dalam ketergantungan terhadap negara lain. Firman menyebut sedikitnya ada beberapa strategi utama yang perlu dilakukan pemerintah untuk memperkuat ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Strategi pertama, mengurangi ketergantungan kritis terhadap impor pangan, energi, chip teknologi, dan obat-obatan. Ia menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai dari Amerika Serikat untuk kebutuhan tahu dan tempe.
“Ironisnya, menurut penelitian ahli gizi internasional, kedelai terbaik di dunia justru berasal dari Indonesia. Tetapi kita malah tidak serius menanam kedelai sendiri,” ujarnya.
Firman juga menyinggung ketergantungan besar Indonesia terhadap gandum impor yang selama ini dikuasai kelompok oligarki. Padahal, menurut dia, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan diversifikasi pangan berbasis singkong dan komoditas lokal lainnya.
Ia mencontohkan inovasi di China yang telah mengembangkan singkong menjadi tepung mokaf hingga bahan baku roti dan beras sintetis. Namun, inovasi serupa di Indonesia dinilai tidak pernah mendapat dukungan serius dari pemerintah.
“Setiap hari kita makan mi, tetapi bahan bakunya bukan dari Indonesia. Kita hanya menjadi produsen dengan keuntungan kecil, sedangkan keuntungan besar dinikmati negara produsen gandum,” kata Firman.
Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago menilai persoalan ekonomi Indonesia masih berkutat pada isu mendasar. Seperti mahalnya harga kebutuhan pokok, lemahnya layanan publik, hingga ketergantungan terhadap impor pangan.
“Data menunjukkan kebutuhan masyarakat tidak bergeser dari persoalan ekonomi, lapangan pekerjaan, harga kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan, jalan dan jembatan,” kata Pangi.