PEKANBARU (RA) - Suasana Ramadan 1447 Hijriah di Provinsi Riau diwarnai dengan gelombang kepulangan ratusan Pekerja Migran Indonesia (PMI) bermasalah yang dideportasi dari Malaysia.
Sebanyak 165 PMI dipulangkan ke tanah air melalui Pelabuhan Dumai dalam dua tahap pemulangan. Para pekerja ini sebelumnya harus menjalani masa penahanan di depot imigrasi otoritas Malaysia akibat berbagai persoalan administratif dan prosedural.
Gelombang pertama kepulangan terjadi pada Sabtu (28/2/2026) sore, di mana sebanyak 114 PMI tiba menggunakan Kapal Indomal Dynasty sekitar pukul 16.25 WIB. Setibanya di dermaga, para pekerja langsung disambut oleh petugas gabungan untuk menjalani serangkaian pemeriksaan.
Pemulangan ini merupakan hasil koordinasi intensif antara Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, BP3MI Riau, dan instansi pelabuhan terkait.
Menyusul gelombang pertama, sebanyak 51 PMI lainnya tiba pada Sabtu (7/3/2026) dalam gelombang kedua melalui rute Johor Bahru. Rombongan ini merapat ke Pelabuhan Dumai menggunakan Kapal Indomal Kingdom pada pukul 15.55 WIB.
Meskipun jumlahnya lebih sedikit dibanding gelombang pertama, prosedur pengamanan dan pendampingan tetap dilakukan secara maksimal oleh petugas di lapangan.
Kepala BP3MI Riau, Fanny Wahyu Kurniawan, mengungkapkan pada gelombang pertama ditemukan beberapa kasus yang memerlukan penanganan medis khusus. Di antara mereka, terdapat seorang perempuan yang tengah hamil enam bulan, serta PMI yang menderita TBC, hernia, hingga gangguan mental.
"Seluruhnya telah mendapatkan perawatan medis sebelum dipulangkan ke daerah asal masing-masing. Kondisi pada gelombang kedua cenderung lebih stabil, di mana hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan seluruh PMI dalam keadaan sehat," ujar Fanny Senin (9/3/2026).
Menariknya, terdapat satu PMI perempuan asal Riau yang sedang hamil empat bulan dalam rombongan ini, namun ia dinyatakan bugar untuk melanjutkan perjalanan. Pemeriksaan kesehatan ini menjadi langkah krusial untuk memastikan tidak ada penyakit menular yang terbawa ke tanah air.
"Selain pemeriksaan kesehatan dan dokumen imigrasi, para PMI juga difasilitasi untuk melakukan registrasi IMEI perangkat komunikasi di kantor Bea Cukai setempat," jelasnya.
Langkah ini diambil agar perangkat komunikasi yang mereka bawa dari luar negeri dapat langsung digunakan saat sampai di kampung halaman. Hal ini merupakan bentuk pelayanan terpadu yang diberikan negara kepada para pahlawan devisa tersebut.
Setelah seluruh proses di pelabuhan selesai, para pekerja migran dibawa ke Rumah Ramah Pekerja Migran Indonesia di P4MI Kota Dumai untuk menjalani pendataan lanjutan.
Selama berada di penampungan sementara (shelter), mereka diberikan edukasi mengenai risiko besar bekerja secara ilegal atau nonprosedural. Harapannya, pengalaman pahit dideportasi ini menjadi pelajaran agar mereka lebih berhati-hati di masa depan.
Menutup rangkaian proses pemulangan di bulan suci, petugas BP3MI Riau juga menggelar kegiatan buka puasa bersama para PMI yang masih menunggu jadwal kepulangan.
"Kegiatan ini bertujuan memberikan dukungan psikologis dan rasa nyaman agar mereka tetap merasakan kekeluargaan di tengah situasi sulit. Negara hadir untuk memastikan kepulangan mereka berjalan aman hingga kembali ke pelukan keluarga," pungkasnya.