Pencarian

Podcast Kelupas

Revitalisasi Tangsi Belanda di Siak Habiskan Rp5,2 Miliar APBN 2018, Kok Bisa Ambruk?

Sabtu, 31 Januari 2026 • 17:53:00 WIB
Revitalisasi Tangsi Belanda di Siak Habiskan Rp5,2 Miliar APBN 2018, Kok Bisa Ambruk?
Bangunan Tangsi Belanda di Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

SIAK (RA) - Tangsi Belanda di Kabupaten Siak, Provinsi Riau, merupakan bangunan bersejarah yang pernah direvitalisasi Kementerian PUPR tahun 2018 dan menghabiskan APBN sebesar Rp.5,2 miliar.

Berdasarkan data yang dihimpun Riauaktual.com, revitalisasi dilakukan pada Gedung A yang paling depan) dan Gedung F (belakang kompleks tangsi).

Kondisinya saat ini Gedung A yang pernah direvitalisasi ambruk dan melukai guru serta pelajar dari SD IT Baitul Ridho Kampung Rawang Kao, Kecamatan Lubuk Dalam, Kabupaten Siak, yang sedang study tour, Sabtu (31/1/2026).

Revitalisasi Tangsi Belanda pada tahun 2018, rupanya melibatkan Tim Arkeolog dan Tim Ahli Cagar Budaya dalam hal pengkajian.

Namun, kondisinya saat ini lantai 2 Tangsi Belanda yang berbahan kayu membuat pelajar dan guru terjatuh dari ketinggian sekitar 4 meter, karena lantai kayu tidak kuat menopang beban.

Sementara itu, Kapolres Siak AKBP Sepuh Ade Irsyam Siregar mengatakan, berdasarkan laporan awal, runtuhnya lantai diduga kondisi kayu bangunan yang sudah rapuh.

"Menurut laporan sementara, runtuhnya lantai dua Tangsi Belanda diduga akibat usia kayu atau papan yang sudah dimakan rayap. Kami masih melakukan penelusuran lebih lanjut," ujar Kapolres.

Ia menambahkan, aspek perawatan bangunan cagar budaya juga menjadi perhatian dalam penyelidikan awal insiden tersebut.

"Diduga karena kurangnya perawatan dari Pemerintah Daerah dalam menjaga cagar budaya peninggalan Belanda yang ada di Kabupaten Siak, hingga saat ini kamì masih melakukan penelusuran," ungkapnya.

Terpisah, Bupati Siak Afni Zulkifli saat ditanya perihal pernah adanya revitalisasi Tangsi Belanda tahun 2018 oleh Kementerian PUPR, menjawab kalau dirinya tidak mau mengomentari.

"Soal ini no comentlah saya ya. Kita menatap ke depan ajalah. Mari jadikan peristiwa ini sebagai bahan evaluasi untuk merawat dan menjaga warisan. Kita akan sampaikan kondisi dan kejadian ini pada pihak Kementerian Kebudayaan," kata Afni.

Ditambahkan Afni, bahwa pihaknya sudah mengajukan permohonan bantuan revitalisasi Cagar Budaya dan Museum Nasional yang ada di Siak pada pihak Kementerian.

"Permohonan bantuan ini sudah diajukan juga saat pertemuan kami dgn Bapak Menteri Kebudayaan Fadli Zon beberapa waktu lalu," ujar Bupati Afni.

Dalam kompleks tangsi atau benteng itu terdapat enam unit bangunan yang membentuk formasi melingkar dengan halaman di bagian dalam yang memiliki beragam fungsi seperti sebagai penjara, asrama, kantor, gudang senjata, dan logistik.

Tangsi Belanda ini didirikan setelah pembangunan Istana Siak. Tempat ini juga dijadikan markas Belanda untuk memata-matai pergerakan Sultan Siak yang ada di seberang sungai.

Tangsi Belanda telah berdiri sejak tiga abad silam atau tepat pada abad ke 18, atau pada masa Sultan Siak ke-9, Sultan Asy-Syaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Jalaluddin. Sultan yang berkuasa sejak tahun 1827-1864, peninggalannya menjadi cagar budaya.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks