PEKANBARU (RA) - Nama Delvi Nurfadillah kini menjadi kebanggaan Riau dan Indonesia. Atlet tarung campuran asal Kabupaten Rokan Hulu itu tampil gemilang dengan meraih medali emas pada ajang 3rd AMMA Championship 2026 yang berlangsung di Luzhou, China, pada 9–11 Januari 2026.
Di usia 20 tahun, Delvi menjadi satu-satunya atlet Indonesia yang sukses mempersembahkan emas dari total 11 wakil Merah Putih yang berlaga di kejuaraan tingkat Asia tersebut. Ajang ini diikuti oleh atlet dari 34 negara Asia dan menjadi panggung pembuktian kualitas petarung muda Indonesia.
Delvi memastikan emas di nomor Traditional MMA kelas 49 kilogram putri usai menundukkan atlet tangguh asal Kazakhstan. Penampilannya dinilai sangat dominan, dengan teknik matang serta konsistensi tinggi sepanjang pertandingan. Atas performa luar biasa itu, ia dianugerahi Most Outstanding Athlete Award oleh Asian Mixed Martial Arts (AMMA).
Secara keseluruhan, kontingen Indonesia membawa pulang satu medali emas dan tiga medali perunggu, dengan Delvi sebagai peraih prestasi tertinggi.
Delvi merupakan anak ketiga dari empat bersaudara, putri dari pasangan Amir (51) dan Sri Marlinda (50). Ayahnya adalah prajurit TNI Angkatan Darat berpangkat Pembantu Letnan Satu (Peltu) yang bertugas sebagai Babinsa di Koramil 11/Tambusai, Kodim 0313/KPR. Saat ini, Delvi juga tengah menempuh pendidikan di Stikom Tunas Bangsa Pematang Siantar, Sumatera Utara.
Sebagai atlet binaan Persatuan Tarung Campuran Indonesia (Pertacami), Delvi memiliki rekam jejak prestasi yang panjang. Ia telah mencatatkan kemenangan di berbagai cabang bela diri, mulai dari Wushu Sanda dan Kick Boxing pada 2023, Muaythai dan Kungfu pada 2024, hingga Tarung Derajat sejak 2019.
"Yang terakhir saya mengikuti kejuaraan MMA tingkat Asia tahun ini dan berhasil meraih medali emas sekaligus piagam pemain terbaik," ujar Delvi, Minggu kemarin.
Ia mengungkapkan, kunci keberhasilannya terletak pada disiplin dan kekuatan mental. "Saya lebih menekankan disiplin, kesiapan mental, dan menjaga konsistensi saat bertanding," tuturnya.
Meski pernah mengalami kegagalan saat mengikuti seleksi Pekan Olahraga Nasional (PON), Delvi tidak patah semangat. Ia terus berlatih keras hingga akhirnya merasakan manisnya prestasi di level internasional.
"Dukanya saya pernah gagal ikut PON. Tapi sukanya, saya pernah dibina Pertacami Jakarta dan akhirnya bisa meraih kejuaraan ini. Saya sangat senang dan bangga," katanya.
Di balik sederet prestasi itu, Delvi menyimpan cita-cita mulia. Ia ingin mengikuti jejak sang ayah mengabdi kepada negara. "Sejak kecil, cita-cita saya ingin menjadi seorang prajurit TNI," ujarnya.