Kuning sampai Ungu, Dokter Ungkap Arti Perubahan Warna Kuku

Jumat, 06 November 2026 | 03:44:00 WIB
Ilustrasi kuku tidak sehat.

RIAUAKTUAL (RA) - Kuku sering kali menjadi bagian tubuh yang diperhatikan saat seseorang merawat penampilan. Penggunaan kuteks, perawatan manikur, hingga pemilihan warna cat kuku biasanya menjadi perhatian agar kuku terlihat bersih dan menarik.

Namun, bagaimana jika warna kuku berubah dengan sendirinya, padahal tidak sedang menggunakan pewarna kuku?

Perubahan tersebut terkadang tidak disertai rasa sakit sehingga mudah diabaikan. Padahal, warna kuku yang berbeda dari biasanya bisa berkaitan dengan sejumlah faktor, mulai dari kebiasaan sehari-hari hingga kondisi kesehatan tertentu.

Mengutip Kompas.com, Dermatolog bersertifikat di New York, Amerika Serikat, Dr. Dana Stern menjelaskan, perubahan warna kuku merupakan istilah umum untuk menggambarkan variasi warna dari tampilan kuku normal.

Arti perubahan warna kuku menurut dokter

1. Kuku kuning dan cokelat 
Kuku kuning termasuk salah satu perubahan warna yang cukup umum. Kondisi ini bisa disebabkan infeksi jamur yang terkadang disertai warna kecokelatan, kuku rapuh, dan mudah rusak.

Penggunaan kuteks juga dapat meninggalkan noda karena pigmennya terserap ke dalam kuku. Kebiasaan merokok dan pertambahan usia turut memengaruhi warna kuku sehingga terlihat kekuningan.

Sementara itu, warna cokelat bisa muncul akibat benturan, penggunaan obat tertentu, infeksi bakteri atau jamur, hingga noda dari produk seperti krim penggelap kulit dan bahan makanan, misalnya kunyit.

2. Kuku hitam dan putih 
Warna hitam pada kuku umumnya berasal dari darah atau memar akibat benturan. Selain itu, kotoran yang terperangkap di bawah kuku dan tahi lalat jinak pada dasar kuku juga bisa menjadi penyebabnya.

Pada orang dengan warna kulit lebih gelap, garis hitam vertikal pada kuku juga dapat muncul dan tidak selalu berbahaya.

Adapun kuku putih dikenal dengan istilah leukonychia. Stern menjelaskan, salah satu bentuknya berupa bintik-bintik putih pada lempeng kuku yang sering ditemukan pada anak-anak.

"Bintik putih tersebut tidak berkaitan dengan kekurangan kalsium," katanya.

Bercak putih juga bisa muncul akibat penggunaan kuteks dalam waktu lama, infeksi jamur, atau kondisi tertentu yang memengaruhi kuku.

3. Kuku hijau hingga ungu 
Kuku yang berubah menjadi hijau dapat mengindikasikan infeksi bakteri Pseudomonas aeruginosa.

Bakteri ini biasanya berkembang pada bagian kuku yang lembap, termasuk area kuku yang terangkat dari dasarnya.

Warna merah di bawah kuku umumnya berkaitan dengan perdarahan atau peradangan. Sementara itu, bentuk setengah lingkaran berwarna kemerahan di pangkal kuku pernah dikaitkan dengan penyakit peradangan, seperti rheumatoid arthritis.

Adapun warna ungu bisa berasal dari darah yang sedang mengalami proses penyembuhan setelah cedera. Infeksi jamur, paparan suhu dingin, dan rendahnya kadar oksigen dalam darah juga dapat menyebabkan kuku tampak keunguan atau kebiruan.

Ahli gizi holistik bersertifikat, Jennifer Hanway menjelaskan, tampilan kuku dapat mencerminkan kondisi nutrisi seseorang. Meski demikian, perubahan warna kuku tidak bisa digunakan untuk memastikan kekurangan zat gizi tertentu.

"Kuku dapat mencerminkan aspek status gizi seseorang, tetapi tidak bisa menunjukkan secara pasti zat gizi apa yang kurang," terang Hanway.

Ia menambahkan, kekurangan vitamin B12 terkadang dapat menyebabkan pigmentasi kuku. Anemia akibat kekurangan zat besi bisa membuat dasar kuku terlihat pucat.

Dalam beberapa kasus, kondisi tersebut juga berkaitan dengan koilonychia, yaitu kuku yang melengkung ke dalam seperti sendok.

Selain itu, kekurangan zinc juga dapat memengaruhi pertumbuhan dan tampilan kuku.

"Namun, tidak satu pun dari perubahan tersebut dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar diagnosis," tegas Hanway.

Karena itu, perubahan warna kuku yang tidak biasa sebaiknya diperiksakan ke dokter spesialis kulit untuk mengetahui penyebabnya.

Stern menyarankan penggunaan lapisan dasar atau base coat sebelum mengaplikasikan kuteks untuk membantu mencegah munculnya bercak putih. Penggunaan kuteks dalam waktu terlalu lama juga sebaiknya dihindari.

Untuk mencegah infeksi bakteri, ia menyarankan agar perawatan kuku dilakukan oleh tenaga profesional yang berpengalaman. Sementara itu, Hanway mengingatkan pentingnya memenuhi kebutuhan protein karena kuku sebagian besar tersusun dari keratin, yaitu protein struktural.

"Protein yang cukup dari makanan membantu menjaga kesehatan kuku secara keseluruhan," katanya.

Sumber protein tersebut bisa diperoleh dari telur, ikan, dan yoghurt Yunani. Makanan seperti daging merah dan kerang juga menyediakan zat besi serta zinc.

Hanway turut mengingatkan agar suplemen tidak dikonsumsi sembarangan, termasuk biotin yang kerap dipasarkan untuk memperkuat kuku.

"Bukti manfaatnya pada orang yang tidak mengalami kekurangan biotin masih terbatas," ucapnya.

Konsumsi biotin dosis tinggi juga dapat mengganggu hasil sejumlah pemeriksaan laboratorium. Karena itu, konsultasikan penggunaannya dengan tenaga kesehatan, terutama sebelum menjalani tes darah.

Terkini

Terpopuler