Cerita Warga Pekanbaru Lihat Sosok Perempuan Berdarah di Tol, Teman Kesurupan

Kamis, 08 Oktober 2026 | 21:40:40 WIB
Foto : Ilustrasi (AI)

PEKANBARU - Perjalanan Dila bersama dua teman perempuan dan seorang pria dari Pekanbaru menuju Kelok 9, Sumatera Barat, pada akhir 2024 silam berubah menjadi pengalaman mistis yang sulit dilupakan.

Mereka mengaku mengalami sejumlah kejadian aneh dalam perjalanan pulang. Mulai dari mendengar suara tepukan misterius di tengah hutan, menemukan ular besar di tengah jalan, hingga melihat sosok perempuan yang disebut berlumuran darah.

Cerita tersebut disampaikan Dila, salah seorang anggota rombongan. Untuk menjaga privasi, nama sejumlah orang dalam kisah ini disamarkan. Peristiwa itu disebut terjadi sekitar Oktober atau November 2024.

Saat itu, mereka awalnya hanya berniat pergi ke Kelok 9 untuk makan mi rebus. Dila dan dua temannya berangkat dari Pekanbaru, kemudian menjemput seorang teman di Bangkinang.

Dengan demikian, ada empat orang di dalam mobil.

Perjalanan dari Pekanbaru menuju Bangkinang berlangsung normal. Sekitar pukul 20.00-21.00 WIB, mereka melanjutkan perjalanan menuju Kelok 9.

Sekitar satu jam sebelum tiba di lokasi, kendaraan mulai memasuki kawasan yang dipenuhi hutan. Saat itulah terdengar suara tepukan.

"Suara satu tepukan. Bukan tepuk tangan, tapi sekali tepuk. Anehnya, kami berempat mendengarnya jelas di telinga kiri masing-masing," kata Dila.

Teman yang mengemudikan mobil kemudian berusaha mencairkan suasana. Dia menduga suara tersebut hanya berasal dari batu yang terlontar.

Mereka pun melanjutkan perjalanan hingga tiba di Kelok 9. Di sana, mereka makan dan berbincang sekitar satu jam sebelum memutuskan kembali ke Pekanbaru sekitar pukul 01.00 WIB.

Dalam perjalanan pulang, mereka menemukan sebuah pohon besar tumbang di jalan.

Menurut Dila, pohon tersebut tidak ada ketika mereka melewati lokasi yang sama saat berangkat.

Beruntung, masih terdapat bagian jalan yang bisa dilewati sehingga perjalanan dapat dilanjutkan.

Sekitar pukul 04.00 WIB, rombongan memasuki ruas tol menuju Pekanbaru. Kondisi jalan saat itu sangat sepi.

Teman yang mengemudikan mobil bahkan sempat menghentikan kendaraan untuk menunggu mobil lain di belakang. Namun, setelah sekitar lima menit, tidak ada kendaraan yang melintas.

Mereka kemudian kembali melaju dengan kecepatan rendah.

Di tengah perjalanan, Dila dan temannya sempat membicarakan cerita mistis serta kepercayaan masyarakat mengenai hewan tertentu.

"Kalau harimau kita bilang atuk, kalau ular apa? Nenek?" ujar Dila mengingat percakapan mereka.

Tidak lama setelah pembicaraan tersebut, mereka melihat seekor ular besar berwarna kuning berada di tengah jalan.

Menurut Dila, ular itu menyerupai piton. Tubuhnya besar, tetapi hanya terlihat melingkar satu putaran.

Mereka kemudian melewati ular tersebut.

Namun, sekitar satu kilometer kemudian, muncul kejadian lain.

Dari kejauhan, mereka melihat sesuatu berwarna merah yang tampak bercahaya di pinggir jalan. Ketika mobil semakin dekat, Dila dan teman yang mengemudi mengaku melihat sosok perempuan berdiri di dekat pembatas jalan.

"Saya dan teman yang menyetir melihat perempuan seperti berlumuran darah. Darahnya dari leher sampai ke jalan. Bibirnya seperti sobek dan posisinya membungkuk," tuturnya.

Keduanya langsung mengucapkan istighfar.

Meski demikian, mereka tidak langsung mengira sosok tersebut sebagai makhluk gaib. Mereka justru menduga telah melihat korban kecelakaan atau pembunuhan.

Sekitar satu kilometer kemudian, mereka menemukan pos petugas. Rombongan langsung menghentikan kendaraan dan menceritakan apa yang mereka lihat.

Menurut Dila, petugas tersebut mengatakan kawasan sekitar kilometer 11-12 sebelumnya merupakan lokasi pemakaman.

"Petugas bilang itu dulu bekas kuburan yang tidak bisa diambil. Katanya di situ memang sering ada penampakan kuntilanak merah," ujarnya.

Mendengar penjelasan tersebut, rombongan mengaku semakin terkejut.

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan dan berhenti untuk salat Subuh di sebuah SPBU di Pekanbaru.

Namun, kejadian aneh kembali terjadi.

Teman yang sebelumnya mengemudikan mobil hendak mengambil benda yang terjatuh ke kolong kendaraan. Saat tangannya dimasukkan ke bawah mobil, dia mengaku seperti merasakan ada tangan yang memegang tangannya.

"Dia langsung kaget dan bilang, 'Tangan abang ada yang pegang dari bawah'," kata Dila.

Karena temannya mulai panik dan kelelahan, Dila kemudian mengambil alih kemudi.

Dalam perjalanan menuju rumah salah seorang teman, kondisi pria yang diberi nama samaran Jordi mulai berubah. Dia hanya diam dan mematung.

Jordi tidak menjawab ketika dipanggil maupun diguncang. Namun, tubuhnya masih bisa dipindahkan dan dibopong oleh dua temannya.

Sekitar pukul 07.00 WIB, mereka tiba di rumah Wawan, nama samaran teman lainnya.

Setelah berdiskusi dengan sejumlah teman, mereka memutuskan membawa Jordi ke tempat ruqyah.

Sekitar pukul 09.00 WIB, mereka tiba di sebuah masjid di kawasan Jalan Sumatera, Pekanbaru.

Saat hendak diturunkan dari mobil, tubuh Jordi tiba-tiba terasa sangat berat. Dua orang yang mencoba mengangkatnya tidak mampu memindahkan tubuhnya.

Mereka kemudian meminta bantuan petugas keamanan. Menurut Dila, Jordi baru bisa dipindahkan setelah dibantu tiga sekuriti bersama Wawan.

Sebelum menjalani ruqyah, Jordi diminta berwudu. Namun, dia disebut kesulitan menggerakkan kakinya dan sempat marah ketika tubuhnya terkena air.

Proses ruqyah kemudian dimulai.

Dila mengaku melihat perubahan perilaku Jordi ketika ustaz mulai membacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Jordi disebut meliuk-liukkan tubuh seperti ular.

Tidak lama kemudian, gerakannya berubah seperti harimau. Dia merayap dan mengeluarkan suara menyerupai auman.

Menurut Dila, perilaku Jordi membuat mereka terkejut karena sebelumnya mereka sempat membicarakan ular dan harimau dalam perjalanan.

Saat proses ruqyah berlangsung, Dila juga tiba-tiba menangis tanpa mampu mengendalikan dirinya.

Dia kemudian muntah. Setelah itu, tangisnya berhenti dan kondisinya kembali normal.

Sementara Jordi masih dalam kondisi tidak sadar dan terus menunjukkan perilaku seperti hewan.

Setelah beberapa kali ustaz membacakan ayat sambil memegang bagian kepala Jordi, pria tersebut akhirnya sadar.

Menurut Dila, Jordi hanya mengingat kejadian sampai dirinya ketakutan dan menelepon keluarganya saat berada di SPBU.

Setelah itu, dia mengaku tidak mengingat apa pun yang terjadi hingga proses ruqyah selesai.

Bagi Dila dan teman-temannya, perjalanan ke Kelok 9 tersebut menjadi pengalaman yang tidak terlupakan.

Mereka meyakini berbagai kejadian yang dialami sejak perjalanan pulang saling berkaitan. Namun, cerita mengenai penampakan dan kesurupan tersebut tetap merupakan pengalaman pribadi rombongan yang tidak dapat dipastikan penyebabnya.

Terkini

Terpopuler