RIAUAKTUAL (RA) - Pernah merasa stres, sulit berkonsentrasi, atau suasana hati sedang buruk, tetapi kemudian mood lebih tenang setelah membereskan kamar?
Ternyata, kebiasaan membersihkan kamar tidak hanya membuat ruangan terlihat lebih rapi.
Menurut psikoterapis Dr Chandni Tugnait, aktivitas tersebut dapat memengaruhi bagaimana seseorang memandang lingkungan sekitar, menggunakan waktu, hingga merasakan kendali atas keadaan di sekitarnya.
“Kamar yang berantakan juga bukan berarti seseorang malas atau tidak terorganisasi. Kesibukan sehari-hari dapat membuat barang menumpuk tanpa disadari,” ujar Dr Tugnait, seperti dikutip Only My Health.
Namun, ketika ruangan terasa sesak dan tidak tertata, membereskannya bisa memberikan rasa lega. Berikut sejumlah alasan bersih-bersih kamar dapat membuat perasaan menjadi lebih baik.
Otak terus menerima informasi dari lingkungan sekitar. Ketika pakaian, kertas, piring, dan berbagai barang berserakan, semakin banyak pula hal yang dapat menarik perhatian. Merapikan kamar dapat mengurangi gangguan visual tersebut, sehingga seseorang lebih mudah memusatkan perhatian pada satu kegiatan. Tidak harus langsung menata seluruh ruangan.
Membersihkan meja kerja atau memasukkan pakaian ke tempatnya saja dapat membuat ruang terasa lebih mudah dikelola.
Selain itu, membersihkan kamar memberikan kesempatan untuk menentukan sendiri barang yang ingin disimpan, dipindahkan, atau dibuang. Hasilnya pun dapat terlihat dalam waktu singkat.
“Perubahan yang terlihat tersebut dapat menimbulkan rasa bahwa seseorang masih memiliki kendali atas setidaknya satu bagian dari kehidupannya,” tutur dia.
Membersihkan kamar terdiri dari berbagai tugas sederhana, seperti melipat pakaian, merapikan tempat tidur, menyusun buku, membersihkan permukaan, hingga membuang sampah.
Setiap tugas yang selesai dapat memberikan rasa pencapaian kecil. Alih-alih hanya melihat banyaknya pekerjaan yang belum dilakukan, seseorang dapat melihat hasil nyata dari apa yang sudah diselesaikan. Perasaan tersebut juga dapat menciptakan momentum untuk mengerjakan tugas berikutnya, baik yang berkaitan dengan pekerjaan rumah maupun tanggung jawab lainnya.
Ketika seseorang sedang cemas atau banyak pikiran, perhatian dapat terus tertuju pada masalah yang sama.
“Membersihkan kamar membuat pikiran beralih pada aktivitas fisik yang lebih konkret,” ucap Dr Tugnait.
Mengambil barang, mengelap permukaan, memilah pakaian, atau menata rak membutuhkan perhatian pada apa yang sedang dilakukan. Aktivitas tersebut untuk sementara dapat mengalihkan fokus dari pikiran yang berulang.
Bagi sebagian orang, proses ini bahkan dapat terasa seperti aktivitas meditatif. Namun, bersih-bersih bukan pengganti penanganan untuk stres, kecemasan, atau kondisi kesehatan mental lainnya.
Lingkungan yang lebih teratur dapat mengurangi berbagai gangguan kecil dalam keseharian. Misalnya, barang yang selalu diletakkan di tempat tertentu membuat seseorang tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk mencarinya. Meja yang bersih juga dapat memudahkan seseorang mulai bekerja, sementara pakaian yang tertata membuat aktivitas memilih pakaian menjadi lebih praktis.
Kondisi kamar juga berkaitan dengan rutinitas tidur. Membersihkan lantai, merapikan tempat tidur, dan menyingkirkan barang yang tidak diperlukan dari area tidur dapat menciptakan suasana yang lebih nyaman.
Selain itu, aktivitas membersihkan kamar melibatkan gerakan fisik ringan seperti menyapu, membawa pakaian, atau memindahkan barang. Gerakan tersebut dapat membantu memutus waktu duduk yang terlalu lama.
Lingkungan yang lebih tertata juga dapat mendukung kebiasaan baik lainnya. Misalnya, menyiapkan pakaian olahraga dapat memudahkan seseorang berolahraga, sedangkan meja kerja yang rapi dapat membuat seseorang lebih siap memulai pekerjaan.