Menhut: Riau Kini Urutan Terakhir Hotspot dan Firespot dari 6 Provinsi Rawan Karhutla

Rabu, 30 September 2026 | 14:15:00 WIB
Menhut Raja Juli Antoni

BENGKALIS (RA) – Provinsi Riau disebut menunjukkan perubahan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menteri Kehutanan (Menhut) RI Raja Juli Antoni mengatakan Riau kini berada di urutan terakhir untuk catatan hotspot dan firespot dibandingkan enam provinsi yang selama ini dikenal rawan karhutla.

Hal itu disampaikan Raja Juli saat mengunjungi Rumah Runding Restorasi di Tanjung Leban, Kabupaten Bengkalis, Rabu (30/9/2026).

Raja Juli mengatakan capaian tersebut menjadi perkembangan penting bagi Riau yang memiliki sejarah panjang dalam persoalan karhutla dan kabut asap.

“Alhamdulillah dari enam provinsi yang langganan Karhutla, biasanya Riau langganan nomor satu. Kalau kita lihat sejarahnya track record, historical record Riau ini nomor satu. Saya sebagai orang Riau merasakan betapa sengsaranya ibu di masa-masa karhutla yang memang sangat tinggi di Riau,” kata Raja Juli.

Menurut Raja Juli, kondisi karhutla di Riau tahun ini menjadi perhatian karena terjadi pada periode yang disebut sebagai puncak El Nino.

Namun, kondisi tersebut dinilai berbeda dibandingkan sejumlah tahun sebelumnya, ketika Riau kerap menghadapi persoalan asap yang lebih pekat.

“Bahkan tahun lalu saja rasanya lebih pekat asapnya ketimbang tahun ini padahal ini puncak El Nino. Nah sekarang saya kira semua pakar nasional maupun internasional yang sempat berinteraksi dengan saya, melihat bahwa Alhamdulillah Riau urutan hot spot dan fire spotnya nomor terakhir,” ujarnya.

Ia menilai kondisi tersebut tidak dapat dikaitkan hanya dengan satu faktor atau keberhasilan satu pihak. Penanganan karhutla, menurutnya, merupakan hasil kerja bersama antara pemerintah dan masyarakat.

“Tentu ini adalah rasa syukur kita, jawabannya tidak bisa singkat bahwa ini tanda Pak Plt Gubernurnya keren, Pak Pangdamnya keren, Pak Kapolda keren, Bu Bupati keren dan masyarakatnya juga keren. Tapi tentu tidak cukup hanya dengan memberikan jawaban sesimpel itu dan saya kira nanti akan banyak-banyak saintis, ilmuwan yang akan melakukan studi ke Riau,” jelasnya.

Raja Juli menyebut perubahan kondisi kawasan yang sebelumnya menjadi lokasi kebakaran berulang sebagai salah satu hal yang perlu diperhatikan.

Ia mencontohkan kawasan Tanjung Leban yang sebelumnya mengalami degradasi gambut dan berulang kali terbakar. Kawasan tersebut kemudian menjalani proses pemulihan melalui restorasi gambut.

“Nah salah satu potongan jawaban terhadap kondisi hari ini saya kira adalah apa yang sedang kita saksikan pada saat sekarang ini. Di mana tadi disampaikan ini dulu (Tanjung Leban) adalah tempat kebakaran hutan berulang terjadi, terjadi degradasi gambut,” katanya.

Menurutnya, pemulihan kawasan menjadi salah satu bagian dari upaya mengurangi risiko kebakaran. Restorasi dilakukan melalui pemulihan lahan dan revegetasi dengan tanaman endemik yang memiliki keterkaitan dengan ekosistem serta kehidupan masyarakat setempat.

“Namun dengan kerja sama gotong royong, daerah yang terdegradasi ini, wilayah yang dulu menjadi tempat kebakaran hutan berulang sekarang berhasil direstorasi. Ada proses pemulihan yang luar biasa terjadi, ada revegetasi, menanam tanaman-tanaman endemik yang memang dikenal secara historis kultural oleh masyarakat di sini,” tuturnya.

Selain revegetasi, pengelolaan tata air menjadi bagian penting dalam menjaga kawasan gambut yang telah dipulihkan.

Raja Juli menyebut telah ada kesepakatan untuk menjaga tata air melalui sistem water sharing di kawasan seluas sekitar 2.400 hektare.

“Terjadi kesepakatan untuk menjaga tata air yang baik, tadi dikatakan water sharing system yang sangat baik di 2.400 hektare kawasan di sini. Dan nampaknya inilah mungkin jawaban, paling tidak sepotong jawaban, yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tadi muncul di banyak kalangan kenapa Riau memiliki kemampuan yang luar biasa,” pungkasnya.

Tags

Terkini

Terpopuler