BREAKING NEWS: Pemko Pekanbaru Kembali Terapkan Sekolah Daring Mulai Senin Besok

Ahad, 06 September 2026 | 22:57:00 WIB
Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho saat meninjau pelaksanaan belajar tatap muka saat bencana asap beberapa waktu lalu.

PEKANBARU (RA) - Kesehatan anak menjadi pertimbangan utama Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru dalam mengambil kebijakan pembelajaran di tengah kondisi kualitas udara yang kembali memburuk.

Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho memutuskan menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama dua hari, yakni Senin (7/9/2026) dan Selasa (8/9/2026), bagi peserta didik PAUD, TK, SD dan SMP sesuai kewenangan Pemerintah Kota Pekanbaru.

Keputusan tersebut diambil setelah Pemko melakukan evaluasi terhadap perkembangan kualitas udara dalam beberapa hari terakhir. Pemerintah memilih langkah pencegahan untuk mengurangi paparan udara tidak sehat, khususnya terhadap anak-anak yang masuk dalam kelompok rentan.

“Kita tentu tidak bisa membuat setiap keputusan menyenangkan semua orang. Ada orang tua yang mungkin ingin anaknya tetap sekolah seperti biasa, ada juga yang khawatir dengan kondisi udara. Tetapi ketika menyangkut kesehatan, terutama kesehatan anak-anak kita, bagi kami keselamatan dan kesehatan harus menjadi nomor satu,” kata Agung usai rapat evaluasi, Minggu (6/9/2026) malam.

Agung menegaskan, keputusan menerapkan PJJ bukan kebijakan yang diambil secara tergesa-gesa. Pemko Pekanbaru telah memantau kondisi kualitas udara secara berkala dalam dua hingga tiga hari terakhir.

Pemantauan dilakukan dengan mengacu pada data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Berdasarkan laporan BMKG, konsentrasi PM2,5 pada pukul 19.00 WIB tercatat mencapai 199,23 µg/m³. Angka tersebut menjadi perhatian pemerintah dan salah satu dasar dalam mengambil langkah pencegahan, terutama untuk melindungi kelompok masyarakat yang rentan.

“Jadi keputusan ini bukan berdasarkan perkiraan kita sendiri. Kita melihat data BMKG, kemudian DLH juga terus melakukan pemantauan melalui ISPU secara berkala. Setelah itu kita dengarkan pertimbangan Dinas Kesehatan dan dokter spesialis paru. Dari situlah keputusan ini kita ambil,” jelas Agung.

Pertimbangan kesehatan semakin menguat setelah dokter spesialis paru dr. Indra Yovi bersama Dinas Kesehatan memberikan masukan terkait dampak kualitas udara terhadap kesehatan masyarakat.

Berdasarkan laporan pelayanan kesehatan, terjadi peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), termasuk pada anak-anak.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta merupakan kelompok yang lebih rentan terhadap paparan udara tidak sehat.

Atas dasar itu, Pemko memilih mengurangi sementara aktivitas anak di luar rumah.

“Atas pertimbangan kesehatan itu, untuk satu sampai dua hari ini kita kurangi dulu paparan terhadap anak-anak. Mereka bukan diliburkan. Anak-anak tetap mendapatkan layanan pendidikan, hanya sementara dilakukan melalui sistem daring dari rumah,” tegas Agung.

Menurutnya, penerapan PJJ hanya dilakukan sementara sembari pemerintah melihat perkembangan kualitas udara dan hasil pemantauan terbaru.

Di tengah kondisi udara yang menjadi perhatian, Agung memastikan saat ini tidak terdapat titik api di wilayah Kota Pekanbaru.

Meski demikian, kondisi asap dan kualitas udara tidak selalu tetap. Pergerakan dan arah angin dapat menyebabkan asap dari wilayah lain masuk ke Pekanbaru sehingga kondisi udara dapat berubah dalam waktu relatif cepat.

Karena itu, Pemko Pekanbaru bersama BMKG dan DLH akan terus melakukan pemantauan secara berkala.

“Alhamdulillah, Pekanbaru sendiri zero titik api. Tetapi kondisi asap bisa berubah mengikuti arah angin. Karena itu kita tidak ingin berspekulasi. Pegangan kita tetap data dan pemantauan yang terus diperbarui,” ujarnya.

Harapan untuk perbaikan kualitas udara juga muncul dari prakiraan cuaca BMKG. Berdasarkan pemaparan BMKG, pada 8, 9 dan 10 September terdapat peluang hujan di sejumlah wilayah Provinsi Riau, termasuk Pekanbaru. Di beberapa wilayah, potensi curah hujan bahkan dapat mencapai lebih dari 25 milimeter.

Pemko Pekanbaru berharap hujan dapat turun lebih merata sehingga membantu membersihkan udara dan menekan dampak kabut asap.

Selain itu, upaya melalui teknologi modifikasi cuaca juga diharapkan dapat membantu mendorong serta memperluas wilayah hujan di Provinsi Riau.

“Ini tentu menjadi harapan kita. Tanggal 8, 9 dan 10 September ada peluang hujan di Riau, termasuk Pekanbaru. Kita berharap hujannya semakin merata sehingga kualitas udara kita segera membaik,” kata Agung.

Agung menegaskan penerapan PJJ selama dua hari bukan berarti seluruh aktivitas masyarakat di Pekanbaru dihentikan.

Kegiatan ekonomi maupun pelayanan publik tetap berjalan seperti biasa. Masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar rumah juga akan mendapat perhatian dari pemerintah.

Untuk melindungi masyarakat dari paparan udara yang tidak sehat, Pemko Pekanbaru akan membagikan masker di sejumlah titik aktivitas warga, seperti pasar, terminal, halte dan persimpangan jalan.

Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap aktivitas masyarakat tetap berjalan, namun risiko paparan udara tidak sehat dapat ditekan sembari menunggu perkembangan kondisi cuaca dan kualitas udara dalam beberapa hari ke depan.

Terkini

Terpopuler