Gorengan Bikin Sendiri di Rumah, Lebih Sehat atau Sama Saja?

Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:06:00 WIB
Ilustrasi gorengan.

RIAUAKTUAL (RA) - Gorengan menjadi salah satu camilan yang sulit dilewatkan. Tempe, tahu, bakwan, hingga pisang goreng kerap tersedia di rumah karena cara membuatnya cukup mudah.

Memasak sendiri juga sering dianggap lebih sehat dibandingkan membeli gorengan di luar. Minyak bisa dipilih sendiri, bahan makanan dapat dicuci dan diolah dengan lebih terkontrol, termasuk memastikan minyak tidak digunakan berkali-kali.

Namun, apakah gorengan yang dibuat di rumah benar-benar lebih sehat?

Spesialis Gizi Klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK mengatakan gorengan rumahan memang memiliki kelebihan dari sisi higienitas. Saat memasak sendiri, penggunaan minyak dapat lebih mudah dikontrol, termasuk memastikan minyak diganti ketika sudah tidak layak digunakan.

"Kalau secara higienitas, ya lebih higienis. Karena kalau kita beli di luar, kita tidak tahu minyaknya sudah digoreng berkali-kali atau tidak. Kalau di rumah, kita tahu minyaknya sudah harus diganti atau belum," kata dr Yaze.

Selain minyak, jumlah bahan yang digunakan dan porsi gorengan juga lebih mudah dikendalikan ketika memasak sendiri. Namun, kondisi tersebut tidak otomatis membuat gorengan menjadi makanan sehat.

"Kalau dibilang lebih higienis, iya. Tapi kalau lebih sehat atau enggak, ya bukan berarti gorengan homemade itu lebih sehat," jelas dr Yaze.

Menurutnya, jumlah gorengan yang dikonsumsi tetap perlu diperhatikan. Gorengan yang dibuat sendiri tetap mengandung minyak sehingga porsinya perlu disesuaikan dengan kebutuhan makan sehari-hari.

"Jadi bukan berarti ini digoreng di rumah jadi sehat. Tetap saja, misalnya sehari bisa lima, tetap porsinya mulai kita kurangi," ujar dr Yaze.

Kebiasaan makan gorengan setiap hari juga sebaiknya mulai dikurangi secara bertahap. Jika biasanya dalam sekali makan mengonsumsi lima gorengan, jumlah tersebut dapat dikurangi menjadi dua atau tiga buah.

"Misalnya hampir setiap hari makan gorengan, berarti seminggu itu tiga kali saja. Misalnya setiap kali makan gorengan biasa lima, sekarang berarti dua saja," kata dr Yaze.

Pengurangan secara bertahap pun lebih realistis untuk membangun pola makan yang bisa dipertahankan. Menghilangkan gorengan dalam kebiasaan makan secara tiba-tiba juga dapat membuat keinginan terhadap makanan gurih dan renyah semakin kuat.

dr Yaze sebelumnya menyarankan pengurangan porsi dan frekuensi dilakukan perlahan agar tubuh lebih mudah beradaptasi. Kebiasaan makan gorengan yang semula hampir setiap hari dapat diturunkan menjadi dua hingga tiga kali dalam seminggu.

Ganti Cara MemasakSaat keinginan makan gorengan muncul, cara pengolahan makanan juga dapat diubah. Air fryer dapat digunakan untuk mendapatkan tekstur renyah dengan minyak yang lebih sedikit.
"Misalnya kayak di air fryer, jadi tetap crunchy, tapi mungkin minyaknya lebih minim. Atau lebih bagus lagi misalnya dipanggang. Bagus lagi kalau misalnya dikukus," ujar dr Yaze.

Cara tersebut dapat menjadi pilihan ketika tetap ingin menikmati tekstur renyah tanpa menggunakan minyak sebanyak metode menggoreng.

Bahan baku gorengan adalah tepung. Ketika makanan berbahan tepung digoreng, asupan karbohidrat dan lemak dapat menjadi cukup tinggi. Konsumsi dalam jumlah banyak dapat membuat asupan kalori harian meningkat.

dr Yaze menjelaskan makanan bertepung dan gorengan tetap boleh dikonsumsi, tetapi porsi dan frekuensinya perlu diperhatikan.

Karena itu, gorengan rumahan tetap dapat masuk dalam pola makan. Memasak sendiri memberikan keuntungan dari sisi higiene serta membuat penggunaan minyak dan porsi lebih mudah dikontrol. Namun, label 'homemade' bukan alasan untuk mengonsumsi gorengan tanpa batas.

"Jadi enggak bisa dibilang sehat juga ya. Tapi kalau secara higiene, ya oke lah," pungkas dr Yaze.

Terkini

Terpopuler