PEKANBARU (RA) - Kabut asap yang menyelimuti Kota Pekanbaru semakin mengkhawatirkan. Kualitas udara yang masuk kategori berbahaya tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
Dokter spesialis THT-BKL, dr Meiza Ningsih, M.Ked, Sp.THT-BKL, mengingatkan masyarakat tidak menganggap remeh paparan kabut asap. Menurutnya, partikulat dan zat iritatif dalam asap dapat masuk ke saluran pernapasan dan menimbulkan gangguan kesehatan mulai dari iritasi hingga penyakit serius.
"Paparan kabut asap dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari iritasi ringan hingga gangguan pada saluran pernapasan dan jantung. Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan perlindungan diri, terutama ketika kualitas udara berada pada kondisi tidak sehat hingga berbahaya," ujar dr Meiza, Rabu (26/8/2026).
Paparan PM2.5 dapat memicu batuk, pilek, sakit tenggorokan dan meningkatkan risiko ISPA. Bagi penderita asma, bronkitis dan PPOK, kondisi tersebut dapat memperburuk penyakit. Kabut asap juga dapat menyebabkan mata merah, perih dan berair serta memicu iritasi kulit.
"Keluhan yang muncul tidak selalu langsung berat. Bisa diawali dengan mata perih, tenggorokan terasa kering atau sakit, batuk dan sesak. Tetapi pada orang yang memiliki penyakit tertentu, paparan asap dapat memperburuk kondisi yang sudah ada," jelas dr Meiza yang juga merupakan Anggota Komisi III DPRD Kota Pekanbaru.
Menurutnya, dampak polusi udara juga dapat menyerang sistem kardiovaskular. Paparan jangka pendek dapat memicu peningkatan tekanan darah, sedangkan paparan jangka panjang dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung koroner dan stroke.
Kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus adalah bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil serta masyarakat yang memiliki penyakit bawaan seperti asma dan penyakit jantung.
dr Meiza mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah, memperbanyak minum air putih, cukup istirahat dan menggunakan masker jika harus keluar rumah. Ia juga menyarankan cuci hidung menggunakan larutan NaCl 0,9 persen setelah terpapar udara berpolusi.
"Untuk masyarakat, yang paling penting adalah mengurangi paparan. Batasi keluar rumah jika tidak diperlukan, perbanyak minum air putih, cukup istirahat dan menjaga kebersihan saluran pernapasan," katanya.
Ia juga meminta pemerintah memperkuat penanganan melalui Posko Terpadu Kabut Asap yang melibatkan BPBD, Dinas Kesehatan, DLHK, Damkar, Dinas Pendidikan, Satpol PP, kecamatan, kelurahan, BMKG serta TNI-Polri.
"Penanganannya harus menjadi satu paket kebijakan. Bukan hanya membagikan masker, tetapi juga bagaimana pemerintah memantau kualitas udara, menyiapkan layanan kesehatan, melindungi kelompok rentan dan mengatur aktivitas masyarakat berdasarkan kondisi udara," ujarnya.
Untuk sektor pendidikan, ia menyarankan adanya parameter yang jelas berdasarkan kualitas udara. Saat kondisi tidak sehat, aktivitas luar ruangan dikurangi.
Jika masuk kategori sangat tidak sehat, kegiatan luar ruangan dihentikan dan pembelajaran tatap muka dievaluasi. Sementara pada kondisi berbahaya, pembatasan aktivitas masyarakat dan peningkatan layanan kesehatan perlu dilakukan.
"Ketika parameter tertentu sudah terlewati, kegiatan luar ruangan bisa langsung dikurangi atau sekolah beralih ke pembelajaran daring," katanya.
Selain itu, pemerintah perlu memperkuat pemantauan titik api, patroli wilayah rawan, edukasi larangan pembakaran lahan serta menyediakan informasi resmi mengenai PM2.5, kualitas udara dan perkembangan titik api.
Menurut dr Meiza, pemerintah juga perlu menyiapkan ruang aman dengan udara lebih bersih di fasilitas publik serta memperhatikan dampak ekonomi yang dirasakan pekerja lapangan dan masyarakat yang bergantung pada aktivitas harian.
Ia menilai Pekanbaru membutuhkan SOP khusus yang dapat langsung diterapkan setiap kali kualitas udara memburuk.
"Pekanbaru sudah menetapkan status siaga darurat karhutla pada 21 Mei hingga 30 November 2026. Jadi, protokol khusus untuk menangani dampak asap sebaiknya disiapkan dan menjadi SOP tetap. Kita tidak perlu menunggu kondisi memburuk baru bergerak," pungkasnya.