RIAUAKTUAL (RA) - Kemarau selalu datang, tetapi cara kita menghadapinya tidak boleh selalu sama.
Bagi Riau, musim kering bukan sekadar persoalan cuaca panas dan berkurangnya hujan. Ada persoalan ketersediaan air, kondisi lahan gambut, perkebunan, pertanian, hingga ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang harus diperhitungkan secara bersamaan.
Ketika hujan berkurang, air di permukaan tanah ikut menurun. Jika kondisi tersebut berlangsung cukup lama, kelembapan gambut dapat berkurang dan risiko kebakaran meningkat.
Karena itu, menghadapi kemarau seharusnya tidak dimulai ketika api sudah muncul atau ketika masyarakat mulai kesulitan memperoleh air. Kesiapan menghadapi kemarau harus dimulai ketika air masih tersedia.
Kemarau dan Persoalan Gambut
Riau memiliki kawasan gambut yang sangat penting bagi sistem hidrologi daerah.
Gambut yang tetap basah dapat menyimpan air dalam jumlah besar. Sebaliknya, gambut yang terlalu kering menjadi lebih rentan terhadap kebakaran.
Persoalan inilah yang membuat tata air menjadi bagian penting dari pencegahan karhutla.
Kita tidak cukup hanya bertanya di mana titik api muncul. Kita juga perlu bertanya mengapa lahan tersebut menjadi kering.
Apakah saluran air terlalu banyak mengeluarkan air? Apakah muka air gambut dapat dipertahankan? Apakah kawasan yang telah direstorasi tetap dalam kondisi basah?
Pertanyaan tersebut penting karena kebakaran adalah kejadian yang terlihat, sedangkan proses pengeringan lahan sering berlangsung jauh sebelumnya.
Karhutla Tidak Bisa Hanya Dilawan dengan Pemadaman
Pemadaman tentu tetap diperlukan. Namun, pemadaman adalah bagian dari penanganan ketika kebakaran sudah terjadi.
Pencegahan harus dimulai dari pengelolaan kondisi lahan.
Jika gambut tetap memiliki kelembapan yang cukup, potensi kebakaran dapat ditekan. Karena itu, pengelolaan kanal, pemantauan muka air, pembasahan kembali kawasan yang mengalami degradasi, pengawasan, serta pelibatan masyarakat harus berjalan bersama.
Dengan kata lain, air adalah salah satu instrumen penting dalam pencegahan karhutla di Riau.
Jangan Membiarkan Air Hujan Terbuang Percuma
Persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah cara kita memperlakukan air hujan.
Saat hujan deras, air sering dianggap sebagai sesuatu yang harus segera dialirkan. Namun, beberapa bulan kemudian, ketika kemarau datang, kita kembali mencari sumber air.
Pola tersebut menunjukkan bahwa kita masih sering mengelola air berdasarkan musim secara terpisah.
Padahal, musim hujan dan musim kemarau merupakan satu rangkaian sistem hidrologi. Air yang datang pada musim hujan seharusnya sebagian dipertahankan sebagai cadangan.
Embung, kolam retensi, pemanenan air hujan, kawasan resapan, dan ruang terbuka dapat berperan dalam mempertahankan air.
Tidak semua air hujan harus dibuang. Sebagian harus disimpan.
Pekanbaru Perlu Memberikan Ruang kepada Air
Pekanbaru berkembang dengan cepat. Permukiman, jalan, pusat perdagangan, dan berbagai fasilitas kota terus bertambah.
Perkembangan tersebut tentu penting bagi ekonomi dan kehidupan masyarakat. Namun, pembangunan juga mengubah perjalanan air.
Permukaan tanah yang tertutup bangunan dan perkerasan membuat air hujan lebih sulit meresap. Akibatnya, ketika hujan turun, limpasan dapat meningkat.
Sementara ketika kemarau datang, cadangan air yang berasal dari proses infiltrasi menjadi semakin penting.
Karena itu, pembangunan kota perlu mempertimbangkan ruang bagi air.
Kolam retensi, ruang terbuka hijau, kawasan resapan, taman yang memiliki fungsi hidrologis, dan pemanenan air hujan bukan sekadar pelengkap kota. Semuanya merupakan bagian dari infrastruktur air.
Perkebunan Juga Harus Beradaptasi
Perkebunan merupakan bagian penting dari perekonomian Riau. Karena itu, persoalan tata air tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan sektor tersebut.
Pada musim hujan, kelebihan air perlu dikendalikan. Pada musim kemarau, kelembapan lahan perlu dipertahankan.
Pendekatan ini semakin penting pada kawasan gambut.
Pengelolaan drainase harus mempertimbangkan kebutuhan air tanaman sekaligus kondisi hidrologis lahan. Jangan sampai sistem yang efektif membuang air ketika musim hujan justru membuat lahan terlalu kering ketika kemarau.
Tata air harus adaptif.
Data Cuaca Harus Menjadi Dasar Kebijakan
Informasi mengenai El Niño, curah hujan, hari tanpa hujan, dan potensi kekeringan tidak boleh berhenti sebagai informasi di media.
Data tersebut harus diterjemahkan menjadi keputusan.
Jika suatu wilayah diprediksi mengalami kekeringan, pemerintah dapat melakukan langkah antisipasi lebih awal. Jika risiko karhutla meningkat, pengawasan dapat diperkuat. Jika sumber air mulai mengalami penurunan, masyarakat dan sektor yang bergantung pada sumber tersebut dapat dipersiapkan.
Artinya, informasi iklim harus menjadi bagian dari sistem peringatan dini.
Kita tidak dapat mengubah kondisi iklim. Tetapi kita dapat mengubah tingkat kesiapan.
Masyarakat Jangan Hanya Menjadi Penerima Informasi
Masyarakat Riau yang tinggal di sekitar kawasan gambut, perkebunan, hutan, dan sungai sebenarnya memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan.
Mereka sering menjadi pihak pertama yang mengetahui ketika kanal mengering, permukaan air sumur menurun, atau muncul tanda-tanda kebakaran.
Karena itu, sistem pemantauan harus melibatkan masyarakat.
Teknologi satelit dan data cuaca dapat memberikan informasi dari atas. Masyarakat memberikan informasi dari lapangan.
Jika keduanya digabungkan, sistem peringatan dini akan menjadi lebih kuat.
Ketahanan Air Harus Dibangun Sebelum Krisis
Kita sering baru membicarakan ketahanan air ketika persoalan sudah muncul.
Ketika sumur mengering, distribusi air dilakukan. Ketika kebakaran terjadi, pemadaman dilakukan. Ketika asap menyebar, respons darurat diperkuat.
Semua tindakan tersebut penting. Namun, ketahanan membutuhkan langkah yang lebih awal.
Pemerintah perlu mengetahui sumber air mana yang strategis, kawasan mana yang rawan kekeringan, wilayah gambut mana yang membutuhkan perhatian, dan bagaimana kondisi tata air pada setiap wilayah.
Pemetaan risiko harus menjadi dasar perencanaan.
Dengan demikian, pemerintah tidak hanya bertindak ketika krisis terjadi, tetapi sudah memiliki skenario sebelum krisis.
Riau Memiliki Modal Alam yang Besar
Riau memiliki sungai, rawa, gambut, dan kawasan vegetasi yang dapat menjadi bagian dari sistem ketahanan air.
Namun, modal alam tersebut tidak otomatis menjadi ketahanan. Ia membutuhkan pengelolaan.
Gambut harus dijaga kelembapannya. Kawasan resapan harus dipertahankan. Air hujan perlu dimanfaatkan. Tata air perkebunan harus diperbaiki. Kota harus menyediakan ruang bagi air. Dan masyarakat harus dilibatkan.
Semua itu membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat.
Jangan Menunggu Kemarau Menjadi Krisis
Kemarau bukan sesuatu yang dapat kita hentikan. Hujan juga bukan sesuatu yang dapat kita perintah untuk turun sesuai kebutuhan.
Tetapi kita dapat menentukan bagaimana air dikelola.
Air hujan dapat disimpan. Gambut dapat dijaga tetap basah. Kawasan resapan dapat dilindungi. Sumber air dapat dipantau. Dan masyarakat dapat dipersiapkan.
Karena itu, kemarau seharusnya tidak hanya menjadi periode ketika kita menunggu hujan.
Kemarau harus menjadi momentum untuk mengevaluasi apakah tata kelola air Riau sudah benar-benar siap menghadapi perubahan iklim.
Ketahanan Riau terhadap kemarau tidak dibangun ketika air sudah langka. Ia dibangun ketika air masih tersedia dan kita memilih untuk menjaganya.
Tentang Penulis
Ir. Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T. adalah dosen pada Program Studi Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu, Institut Teknologi Sumatera (ITERA).
Ia memiliki bidang keahlian pada hidrologi dan sumber daya air serta aktif dalam penelitian mengenai pengelolaan sumber daya air, konservasi lingkungan, dan risiko bencana hidrometeorologi.