Gajah Sumatra Betina Berusia 60 Tahun di Tesso Tenggara Jalani Pengobatan, Kondisinya Kini Stabil

Senin, 06 Juli 2026 | 13:43:00 WIB
Gajah Sumatra Betina Berusia 60 Tahun di Tesso Tenggara Jalani Pengobatan. (Wahyudi)

PEKANBARU (RA) – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bersama PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) melakukan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan terhadap seekor Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) betina berusia lanjut di kawasan kantong gajah Tesso Tenggara, Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan, pada 25-26 Juni 2026.

Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono, mengatakan gajah tersebut diperkirakan berusia sekitar 60 tahun. Satwa liar itu hidup soliter setelah lama memisahkan diri dari kelompoknya.

Menurut Supartono, gajah ini sebelumnya pernah mendapatkan penanganan medis intensif pada 23-26 Juli 2025 karena mengalami kondisi tubuh kurus, lemah, gangguan pencernaan, gigi aus, prolapsus ani, hingga dehidrasi.

"Pasca pengobatan tahun lalu, kondisi gajah menunjukkan perkembangan yang baik. Satwa kembali aktif bergerak dan menjauh dari areal hutan tanaman industri," ujar Supartono, Senin (6/7/2026).

Ia menjelaskan, dalam beberapa kesempatan gajah tersebut terpantau berada di sekitar kebun masyarakat untuk mencari pakan yang lebih lunak seperti ubi kayu, batang pisang, rumput, hingga tanaman sawit muda.

Namun, kemunculan gajah di sekitar kebun sempat memunculkan laporan dari masyarakat yang menduga satwa tersebut kembali sakit karena mengeluarkan feses kasar, sesekali diare, serta mengeluarkan aroma tidak sedap.

Menindaklanjuti laporan tersebut, tim medis BBKSDA Riau yang dipimpin drh. Rini Deswita bersama tim PT RAPP melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh.

Hasil pemeriksaan menunjukkan gajah berada dalam kondisi lincah, agresif, dan bahkan cenderung menyerang apabila didekati manusia. Selama proses pembiusan, gajah juga tetap berada dalam posisi berdiri.

Pemeriksaan lebih lanjut memperlihatkan kondisi tubuh gajah mengalami peningkatan signifikan dibandingkan saat pertama kali ditangani pada Juli 2025. Berat badannya diperkirakan mencapai sekitar 2.600 kilogram, dengan lingkar dada 340 sentimeter dan tinggi badan 230 sentimeter. Tim juga tidak menemukan adanya luka maupun cedera pada tubuh satwa tersebut.

Meski demikian, tim medis menemukan penurunan fungsi otot anus (anismus) yang menyebabkan feses sering menggantung sehingga menimbulkan bau tidak sedap. Selain itu, kondisi gigi yang telah aus akibat faktor usia membuat proses pengunyahan pakan berserat kasar tidak lagi optimal.

Akibatnya, gajah lebih memilih mengonsumsi makanan bertekstur lunak seperti ubi, rumput, umbut, dan batang pisang.

Dalam penanganan tersebut, tim medis juga memberikan terapi berupa obat-obatan suportif serta cairan infus untuk membantu menjaga kondisi fisiologis satwa.

"Secara umum hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi kesehatan gajah berada dalam keadaan baik dan stabil," kata Supartono.

BBKSDA Riau akan terus melakukan pemantauan rutin terhadap individu gajah tersebut mengingat usianya yang sudah sangat lanjut. Menurut Supartono, penurunan fungsi beberapa organ merupakan proses biologis yang wajar pada satwa berusia tua.

"Selama nafsu makan tetap baik, kondisi tubuh terjaga, dan satwa tidak mengalami stres, diharapkan gajah tersebut masih dapat bertahan dan menjalani kehidupannya secara alami di habitatnya," jelasnya.

Supartono juga mengajak masyarakat untuk ikut menjaga kelestarian satwa liar dilindungi dengan menjaga habitatnya, tidak melakukan perburuan maupun perdagangan ilegal, serta segera melaporkan kepada BBKSDA Riau atau aparat setempat apabila menemukan satwa liar yang membutuhkan penanganan.

Tags

Terkini

Terpopuler