LEBAK (RA) – Kerajinan krey berbahan pelapah kelapa sawit di Kabupaten Lebak, Banten, terbukti menjadi sumber penghasilan baru bagi ratusan warga sekaligus membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan.
Usaha yang memanfaatkan limbah pelapah sawit tersebut berkembang di sejumlah wilayah, terutama di Desa Rangkasbitung Timur, Kecamatan Rangkasbitung. Pelapah sawit yang sebelumnya tidak bernilai kini diolah menjadi krey atau tirai tradisional yang digunakan untuk peneduh teras rumah, warung, maupun bangunan lainnya.
Salah seorang perajin, Nursaad (60), mengatakan usaha krey yang telah digelutinya selama 13 tahun mampu membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai pendidikan anak-anaknya.
"Kami sangat terbantu dengan usaha krey ini. Sekarang hidup lebih tenang dan anak-anak bisa sekolah," kata Nursaad, dikutip dari Antara, Senin (11/5/2026).
Ia mengaku bersama keluarganya mampu memproduksi sekitar lima lembar krey per hari. Dengan harga jual Rp30 ribu per lembar kepada pengepul, pendapatan yang diperoleh mencapai sekitar Rp150 ribu per hari atau sekitar Rp4,5 juta per bulan.
Menurut Nursaad, penghasilan tersebut jauh lebih baik dibandingkan saat dirinya bekerja sebagai buruh bangunan dengan pendapatan yang tidak menentu.
Hal serupa dirasakan Mulyadi (45), perajin krey lainnya yang telah menekuni usaha tersebut selama 10 tahun terakhir. Sebelumnya ia bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan yang tidak tetap.
"Kami bersyukur bahan bakunya mudah didapat karena pelapah sawit di sini melimpah," ujarnya.
Ketua Paguyuban Perajin Krey Kabupaten Lebak, Toto (55), mengatakan kerajinan krey sawit mulai diperkenalkan kepada masyarakat Lebak pada 2010. Sejak saat itu jumlah perajin terus bertambah dan kini menjadi salah satu usaha rakyat yang berkembang di daerah tersebut.
Saat ini, kata Toto, terdapat sekitar 290 perajin yang tergabung dalam paguyuban dan tersebar di sejumlah desa. Produk krey dipasarkan ke berbagai daerah, seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
"Permintaan saat ini cukup besar. Kami bisa memasok sekitar 10 ribu lembar per bulan," katanya.
Dengan harga penampungan Rp30 ribu per lembar, nilai transaksi dari satu jaringan pemasaran mencapai sekitar Rp300 juta setiap bulan.
Pemerintah Kabupaten Lebak menilai usaha berbasis limbah sawit tersebut berpotensi menjadi salah satu instrumen pengentasan kemiskinan di daerah.
Bupati Lebak, Mochamad Hasbi Asyidiki, mengatakan pemerintah daerah terus mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk kerajinan krey dan sapu lidi berbahan baku pelapah sawit.
Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapperida) Kabupaten Lebak tahun 2024, tercatat sebanyak 5.698 kepala keluarga atau sekitar 30.115 jiwa masih masuk kategori miskin ekstrem.
Menurut Hasbi, saat ini terdapat sekitar 500 unit usaha krey dan sapu lidi yang tersebar di sejumlah kecamatan, antara lain Rangkasbitung, Maja, Cimarga, Cileles, Banjarsari, dan Leuwidamar.
Rata-rata pelaku usaha memperoleh pendapatan sekitar Rp3 juta per bulan dengan total perputaran uang yang diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar setiap bulan.
"Kami meyakini pendapatan itu bisa meningkatkan kesejahteraan keluarga dan menghapus kemiskinan," kata Hasbi.
Pemanfaatan limbah pelapah sawit menjadi produk bernilai ekonomi tersebut dinilai tidak hanya membuka lapangan kerja baru, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan pendapatan masyarakat dan mendukung upaya pengurangan kemiskinan di Kabupaten Lebak.