Harga TBS Sawit di Riau Anjlok, APKASINDO Menduga Ada Pemain Spekulan

Selasa, 26 Mei 2026 | 10:11:02 WIB
DPW Apkasindo Riau

PEKANBARU (RA) - Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Riau kembali mengalami penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini membuat petani swadaya terpukul lantaran harga jual hasil panen terus merosot, terutama di tingkat agen atau tengkulak.

Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Riau menyebut penurunan harga kali ini mencapai Rp600 hingga Rp800 per kilogram hanya dalam kurun waktu tiga hari. Bahkan di tingkat agen, penurunan disebut menembus Rp860 per kilogram.

Ketua DPW APKASINDO Riau, KH. Suher, menilai anjloknya harga TBS diduga dipengaruhi permainan spekulan dan pihak pabrik kelapa sawit yang memanfaatkan isu kebijakan BUMN Ekspor.

“Kami yakin kebijakan BUMN Ekspor tersebut sebenarnya bertujuan baik untuk tata kelola industri. Namun, di lapangan, isu ini justru digoreng dan dimanfaatkan oleh spekulan serta pihak pabrik untuk menekan harga di tingkat petani,” kata KH. Suher, Selasa (26/5/2026).

Ia mencontohkan penurunan harga yang terjadi di Kabupaten Bengkalis. Pada 20 Mei 2026, harga TBS di tingkat pabrik masih berada di angka Rp3.260 per kilogram. Namun, dua hari kemudian atau pada 22 Mei 2026, harga turun drastis menjadi Rp2.660 per kilogram.

Sementara itu, di tingkat agen, harga juga mengalami penurunan lebih dalam, dari Rp3.100 per kilogram menjadi Rp2.300 per kilogram.

“Ini terjadi hampir di seluruh wilayah Riau,” ujarnya.

Tak hanya kebun sawit swadaya biasa, penurunan harga juga disebut melanda kebun program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Kondisi ini dinilai ironis karena kebun PSR menggunakan bibit bersertifikat dan berkualitas unggul.

Ketua DPD APKASINDO Kabupaten Rokan Hilir, Tommy Sihombing, mengatakan harga TBS dari kebun PSR di wilayahnya juga ikut ambruk dalam waktu singkat.

“Buah sawit di Rokan Hilir yang berasal dari kebun PSR yang ditanam Presiden RI ke-7 awalnya senilai Rp3.570 per kilogram pada 20 Mei, lalu turun menjadi Rp3.270 per kilogram pada 21 Mei, dan kembali anjlok menjadi Rp2.970 per kilogram pada 22 Mei,” ujar Tommy.

Menurutnya, kondisi tersebut sangat merugikan petani karena kebun PSR selama ini dianggap memiliki produktivitas dan kualitas buah yang baik.

Sementara itu, Sekretaris APKASINDO Riau, Dr. (Cn) Djono A. Burhan, S.Kom., MMgt (Int.Bus), CC, CL, mengatakan dampak penurunan harga sawit di Riau sangat besar karena mayoritas masyarakat menggantungkan hidup dari sektor perkebunan sawit.

Ia menyebut total luas kebun sawit milik petani di Riau mencapai 2,4 juta hektare, lebih luas dibandingkan total lahan sawit milik perusahaan swasta dan BUMN yang sekitar 1,6 juta hektare.

“Kami mohon perlindungan nyata dari pemerintah agar nasib petani tidak terus dipermainkan,” katanya.

Djono memperkirakan kerugian petani akibat penurunan harga kali ini mencapai triliunan rupiah. Dengan asumsi rata-rata produksi satu ton TBS per hektare dan penurunan harga sekitar Rp850 per kilogram, maka petani kehilangan sekitar Rp850 ribu per hektare.

“Kalau dikalikan dengan total luas lahan petani di Riau yang mencapai 2,4 juta hektare, kerugian yang terjadi bisa mencapai Rp2 triliun hanya dalam tiga hari. Dan ini baru di Riau saja,” tegasnya.

APKASINDO meminta pemerintah pusat dan daerah segera turun tangan untuk mengawasi tata niaga sawit serta mencegah permainan harga yang dinilai merugikan petani kecil di daerah.

 

Tags

Terkini

Terpopuler