Sawit Terbukti Dongkrak Ekonomi, Petani Pasangkyu Kini Bisa Raup Puluhan Juta per Bulan

Jumat, 22 Mei 2026 | 14:32:06 WIB
Petani Pasangkayu memanen tandan buah segar (TBS) sawit. (Foto: Astra Agro Lestari)

PASANGKAYU (RA) - Industri kelapa sawit terus menunjukkan dampak besar terhadap peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. Komoditas ini tidak hanya menjadi sumber penghasilan utama warga, tetapi juga membuka peluang kesejahteraan yang semakin luas bagi para petani.

Perubahan itu dirasakan langsung oleh Idris Lambang, Ketua Kelompok Tani Bina Bersama Lestari. Menurutnya, sawit telah menjadi penopang hidup banyak keluarga di daerah tersebut.

“Rata-rata pendapatan petani di kelompok koperasi kami, satu orang bisa mencapai Rp 35 juta setiap bulan,” ujar Idris seperti dikutip dari situs resmi Astra Agro Lestari, Jumat (22/5/2026).

Pendapatan tersebut diperoleh dari hasil panen tandan buah segar (TBS) yang dilakukan hampir setiap hari. Dalam satu bulan, produksi kelompok tani mereka bahkan mampu mencapai 1.000 hingga 1.100 ton TBS.

Bagi Idris, sawit membawa perubahan besar dibanding usaha pertanian yang pernah ia jalani sebelumnya. Ia mengaku sempat menjadi petani kakao, namun tingginya biaya perawatan, serangan hama, dan harga jual yang tidak stabil membuat usaha tersebut sulit berkembang.

“Banyaknya kesulitan saat menjadi petani coklat, hingga akhirnya saya memutuskan beralih ke petani sawit. Sawit menawarkan pasar yang jelas dan keuntungan jangka panjang yang lebih pasti,” ungkap pria 53 tahun itu.

Kini, hasil panen para petani dipasarkan ke PT Letawa, anak usaha Astra Agro, yang telah bermitra dengan kelompok tani selama hampir 19 tahun. Kehadiran perusahaan dinilai ikut membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui akses pasar yang lebih pasti dan pendampingan budidaya.

Menurut Idris, petani kini tidak lagi kesulitan menjual hasil panen. Selain itu, kualitas buah sawit juga semakin meningkat berkat pelatihan rutin yang diberikan perusahaan.

“Banyak sekali manfaat yang kami rasakan. Kami rutin mendapatkan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kualitas panen,” katanya.

Pendampingan dilakukan mulai dari teknik pemupukan, pengelolaan kebun, hingga metode panen yang lebih efektif dan berkelanjutan. Upaya itu juga diperkuat melalui kolaborasi Astra Agro bersama Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) dalam pelatihan petani sawit mandiri di Pasangkayu.

Pelatihan yang digelar di Palu pada 28-29 April 2026 itu menitikberatkan pada penerapan Good Agricultural Practices (GAP) agar produktivitas kebun meningkat sekaligus tetap ramah lingkungan.

Idris mengaku pelatihan tersebut membuat petani semakin memahami cara mengelola kebun secara maksimal sehingga hasil panen terus meningkat.

“Pelatihan seperti ini yang menjadi salah satu pendukung kami untuk menjadi petani sawit yang semakin berkualitas,” ujarnya.

Direktur Sustainability and Smallholder CPOPC, Antonius Yudi, mengatakan petani kecil memiliki peran penting dalam rantai pasok industri sawit global. Karena itu, peningkatan kapasitas petani menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan sektor sawit.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Pertanian Kabupaten Pasangkayu, Abidin, menilai sektor sawit telah menjadi salah satu motor penggerak ekonomi daerah.

Hal itu terlihat dari capaian Pasangkayu yang berhasil meraih penghargaan sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sulawesi Barat pada Musrenbang RKPD 2027.

Sektor perkebunan kelapa sawit dan industri turunannya disebut memberikan kontribusi besar terhadap perputaran ekonomi masyarakat, mulai dari penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan petani, hingga mendorong aktivitas usaha di daerah.

Dengan produktivitas yang terus meningkat dan dukungan pelatihan berkelanjutan, sektor sawit dinilai masih akan menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Pasangkayu dalam beberapa tahun ke depan.

Tags

Terkini

Terpopuler