JAKARTA (RA) - Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia, Gulat Medali Emas Manurung, menilai implementasi program biodiesel B50 menjadi langkah strategis pemerintah dalam memperkuat hilirisasi sawit nasional sekaligus menjaga stabilitas harga tandan buah segar (TBS) petani.
Hal itu disampaikan Gulat dalam webinar bertajuk “Implementasi B50 Mendukung Hilirisasi dan Kesejahteraan Pekebun Sawit” yang digelar Tabloid Sinar Tani, Rabu (20/5/2026).
Menurut Gulat, sejak awal program biodiesel memang dirancang sebagai instrumen untuk menjaga harga sawit rakyat agar tidak terlalu bergejolak melalui peningkatan serapan domestik crude palm oil (CPO).
“Roh utama biodiesel itu menjaga stabilitas harga TBS petani sawit. Sebelum ada biodiesel, harga sawit sangat fluktuatif, bisa naik tajam lalu jatuh bebas. Sekarang lebih stabil karena ada kebutuhan domestik,” ujar Gulat.
Ia menjelaskan, implementasi B50 diperkirakan mampu menyerap sekitar 18 hingga 20 juta ton CPO nasional atau hampir 30 persen dari total produksi nasional. Menurutnya, kondisi tersebut akan semakin memperkuat pasar domestik sawit Indonesia.
Namun demikian, Gulat menegaskan tantangan utama sawit nasional saat ini bukan berasal dari korporasi, melainkan masih rendahnya produktivitas kebun rakyat.
Ia memaparkan, kebun sawit rakyat yang belum mengikuti program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) rata-rata hanya menghasilkan 400 hingga 800 kilogram TBS per hektare per bulan dengan rendemen sekitar 18 sampai 21 persen.
Sementara itu, petani yang telah mengikuti program PSR mampu memproduksi 2,5 hingga 3,5 ton TBS per hektare per bulan dengan rendemen mencapai 26 persen.
Karena itu, APKASINDO meminta pemerintah mempermudah akses petani terhadap program PSR agar produktivitas sawit nasional meningkat dan pasokan bahan baku B50 tetap terjaga.
“Kami hanya meminta PSR dipermudah. Kalau produktivitas naik, otomatis program B50 juga semakin kuat,” tegasnya.
Selain itu, ia meminta pemerintah memberikan perhatian lebih serius terhadap sektor perkebunan sawit rakyat yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung ekonomi nasional.
“Jangan sampai sawit yang menjadi penopang ekonomi nasional justru kurang mendapatkan perhatian serius,” katanya.