Tes Kesehatan Sebelum Menikah, Apa Saja yang Harus Dicek?

Selasa, 19 Mei 2026 | 06:08:50 WIB
Ilustrasi pasangan cek kesehatan.

RIAUAKTUAL (RA) - Menjelang pernikahan, banyak pasangan mulai memikirkan berbagai persiapan, mulai dari acara hingga kehidupan setelah menikah. Salah satu hal yang juga tak kalah penting untuk diperhatikan adalah tes kesehatan sebelum menikah.

Bukan sekadar formalitas, pemeriksaan ini sebenarnya punya tujuan baik serta krusial, memastikan kondisi kesehatan pasangan, sekaligus mempersiapkan kehamilan yang lebih aman jika memang direncanakan.

Umumnya, tes kesehatan sebelum menikah bisa dibagi menjadi dua, pemeriksaan kesehatan dasar untuk pasangan, dan pemeriksaan pra-kehamilan (preconception) bagi yang berencana memiliki anak.

Berikut beberapa tes dan pemeriksaan yang paling sering direkomendasikan, melansir CNN Indonesia.

1. Pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan
Dikutip dari American Collage of Obstetricians and Gynecologist (ACOG), ini jadi langkah awal yang penting. Dokter biasanya akan menilai tekanan darah, berat badan, riwayat penyakit, siklus menstruasi, penggunaan obat, hingga gaya hidup seperti merokok atau konsumsi alkohol. Pemeriksaan ini lebih ke arah evaluasi menyeluruh untuk melihat kondisi kesehatan secara umum.

2. Tes darah lengkap
Tes ini membantu mendeteksi anemia atau gangguan darah lainnya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan bahwa anemia masih menjadi masalah kesehatan yang cukup umum, terutama pada perempuan usia reproduktif, sehingga penting diketahui sebelum kehamilan.

3. Golongan darah dan faktor Rhesus (Rh)
Pemeriksaan ini penting jika ada rencana hamil. Jika ibu memiliki Rh negatif dan janin Rh positif, bisa terjadi komplikasi pada kehamilan berikutnya. Karena itu, disarankan status Rh diketahui sejak awal.

4. Gula darah
Skrining ini biasanya disarankan jika ada faktor risiko seperti obesitas, riwayat diabetes, atau sindrom ovarium polikistik (PCOS).Mengontrol gula darah sebelum hamil penting untuk mengurangi risiko komplikasi selama kehamilan.

5. Skrining infeksi
Tes untuk HIV, sifilis, dan hepatitis B termasuk yang paling penting. Melansir dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), pemeriksaan ini bisa membantu mencegah penularan ke pasangan maupun ke bayi jika kehamilan terjadi.

Dalam beberapa kasus, dokter juga bisa menyarankan skrining infeksi menular seksual (IMS) lain seperti gonore atau klamidia, tergantung faktor risiko.

6. Cek vaksinasi dan kekebalan
Status vaksinasi, terutama untuk rubella (campak Jerman) dan varisela (cacar air), perlu diperiksa. Vaksin tertentu diberikan sebelum kehamilan, karena tidak semua vaksin aman diberikan saat hamil.

7. Skrining thalassemia dan genetik
Pemeriksaan ini penting terutama di wilayah dengan risiko tinggi, termasuk Asia. ACOG menyebut carrier screening idealnya dilakukan sebelum kehamilan untuk mengetahui apakah pasangan membawa gen penyakit tertentu yang bisa diturunkan ke anak.

8. Konseling gizi dan suplemen
Selain tes, dokter biasanya juga akan membahas pola makan dan kebutuhan nutrisi. Konsumsi asam folat sebelum dan pada awal kehamilan untuk mengurangi risiko cacat tabung saraf pada bayi.

Tidak semua orang membutuhkan semua jenis pemeriksaan.Jenis tes yang disarankan biasanya disesuaikan dengan kondisi masing-masing, seperti usia, riwayat kesehatan, hingga rencana memiliki anak.

Misalnya, tes kesuburan tidak otomatis diperlukan untuk semua pasangan. Pemeriksaan ini biasanya baru dilakukan jika ada indikasi tertentu atau setelah mencoba hamil dalam periode tertentu tanpa hasil.

Tes sebelum menikah bukan hanya soal lulus atau tidak, tetapi lebih ke memahami kondisi tubuh masing-masing.Dengan mengetahui kondisi kesehatan lebih awal, pasangan bisa membuat keputusan yang lebih tepat, baik untuk kehidupan rumah tangga maupun rencana memiliki anak.

Terkini

Terpopuler