Rupiah Melemah, SAMADE: Sawit Untung

Senin, 18 Mei 2026 | 19:55:05 WIB
Ilustrasi

JAKARTA (RA) - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai masih memberi keuntungan bagi pelaku usaha kelapa sawit. Kenaikan harga komoditas sawit disebut mampu menopang pendapatan petani maupun perusahaan di tengah tekanan ekonomi global.

Bendahara Asosiasi Sawitku Masa Depanku (SAMADE), Hendri Cen mengatakan pelemahan rupiah justru membuat harga sawit cenderung meningkat karena perdagangan crude palm oil (CPO) menggunakan dolar AS.

“Pelaku usaha sawit untung. Karena harga akan cenderung naik,” ujar Hendri kepada riauaktual.com, Senin (18/5/2026).

Menurutnya, dampak positif tersebut membuat harga tandan buah segar (TBS) sawit ikut terdorong naik sehingga masih mampu menutupi kenaikan biaya produksi di sektor perkebunan.

Meski demikian, Hendri mengakui pelemahan rupiah juga membawa konsekuensi terhadap naiknya harga pupuk. Pasalnya, Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku maupun produk pupuk dari luar negeri.

“Harga pupuk pasti naik, tapi harga pokok produksi (HPP) masih bisa tercover dengan kenaikan harga TBS,” katanya.

Ia menjelaskan, selama harga jual sawit masih mengalami kenaikan, beban tambahan akibat mahalnya pupuk dan biaya operasional lainnya belum terlalu membebani pelaku usaha maupun petani.

Terkait besaran keuntungan yang diperoleh petani dan pengusaha sawit akibat pelemahan rupiah, Hendri menilai hal itu sulit dihitung secara pasti karena harga CPO ditentukan oleh mekanisme pasar global.

“Gak bisa hitung gitu karena harga CPO kan open market, cuman selisih mata uang bisa menjaga harga jual,” jelasnya.

Menurut Hendri, selisih kurs rupiah terhadap dolar AS setidaknya memberi ruang bagi industri sawit untuk menjaga stabilitas harga jual di tengah fluktuasi pasar internasional.

Industri sawit sendiri masih menjadi salah satu sektor yang cukup sensitif terhadap pergerakan nilai tukar rupiah. Sebab, sebagian besar ekspor CPO dan produk turunannya menggunakan mata uang dolar AS, sementara sejumlah kebutuhan produksi masih mengandalkan komponen impor.

Tags

Terkini

Terpopuler