Rupiah Melemah, GAPKI Ingatkan Ancaman Kenaikan Biaya Industri Sawit

Senin, 18 Mei 2026 | 12:40:08 WIB
Ketua Umum GAPKI Eddy Martono.

JAKARTA (RA) - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai dapat memberi tekanan terhadap industri kelapa sawit nasional apabila berlangsung dalam jangka panjang. Kenaikan biaya produksi menjadi salah satu dampak yang paling dikhawatirkan pelaku usaha.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, Eddy Martono mengatakan, industri sawit masih bergantung pada sejumlah komponen impor, mulai dari pupuk hingga suku cadang alat berat dan mesin pabrik.

“Rupiah melemah kalau berkepanjangan, biaya yang masih menggunakan komponen impor seperti pupuk, suku cadang kendaraan, alat berat dan pabrik akan naik,” ujar Eddy kepada riauaktual.com, Senin (18/5/2026).

Menurutnya, kenaikan biaya pupuk menjadi perhatian utama karena porsi pemupukan dalam biaya perawatan kebun sawit cukup besar. Ia menyebut biaya pemupukan mencapai sekitar 40 persen dari total biaya perawatan tanaman.

“Biaya pemupukan sekitar 40 persen dari biaya perawatan, jadi kalau harga pupuk naik akan membebani,” katanya.

Meski demikian, Eddy mengakui pelemahan rupiah di sisi lain juga dapat mendorong kenaikan harga komoditas sawit di dalam negeri karena transaksi ekspor menggunakan dolar AS. Kondisi tersebut membuat pendapatan eksportir berpotensi meningkat dalam jangka pendek.

Namun, menurutnya, keuntungan tersebut tidak serta-merta menjadi kabar baik apabila pelemahan rupiah berlangsung lama. Sebab, lonjakan biaya produksi akibat mahalnya barang impor pada akhirnya dapat menekan margin usaha perusahaan sawit.

“Walaupun dengan pelemahan rupiah harga dalam negeri juga naik. Tetapi ini kalau jangka panjang justru tidak menguntungkan,” jelasnya.

Eddy menambahkan, pemerintah perlu melakukan deregulasi agar industri sawit nasional tetap mampu berjalan dengan baik di tengah tekanan nilai tukar dan meningkatnya biaya produksi.

“Ya sebaiknya harus melakukan deregulasi agar industri sawit masih bisa berjalan dengan baik, misalnya jangan ditambah aturan yang memberatkan seperti DHE ditahan 50 persen selama 1 tahun, ini akan menambah biaya juga,” ungkapnya.

Ia menilai kebijakan yang menambah beban likuiditas perusahaan berpotensi memperbesar tekanan terhadap industri, terutama ketika pelaku usaha juga harus menghadapi kenaikan biaya operasional akibat pelemahan rupiah.

Karena itu, Eddy berharap pemerintah dapat menjaga keseimbangan kebijakan agar sektor sawit tetap kompetitif dan mampu mempertahankan kontribusinya terhadap ekspor serta devisa negara.

“Sebaiknya harus melakukan deregulasi agar industri sawit masih bisa berjalan dengan baik. Misalnya jangan ditambah aturan yang memberatkan seperti DHE ditahan 50 persen selama 1 tahun. Ini akan menambah biaya juga,” ujarnya. 

Industri kelapa sawit sendiri masih menjadi salah satu penopang utama ekspor Indonesia. Stabilitas nilai tukar dan kebijakan yang mendukung dunia usaha dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan industri sawit nasional di tengah dinamika ekonomi global.

Diketahui, saat ini rupiah tengah mengalami pelemahan. Pada perdagangan Senin (18/5/2026), rupiah bahkan sudah berada di angka Rp17.630 per dolar AS.

Tags

Terkini

Terpopuler