Faktor Psikologis di Balik Keinginan Makan Manis

Selasa, 12 Mei 2026 | 06:02:55 WIB
Makan makanan manis.

RIAUAKTUAL (RA) - Pernahkah Anda merasa sangat ingin menyantap cokelat atau minuman manis saat sedang merasa tertekan atau lelah? Keinginan kuat ini, atau yang sering disebut sebagai sugar craving, ternyata bukan sekadar urusan perut lapar.

Secara psikologis, keinginan mengonsumsi gula sering kali menjadi mekanisme pertahanan diri saat otak mengalami stres atau tekanan emosional yang tinggi. Fenomena ini erat kaitannya dengan sistem reward atau penghargaan di otak kita.

Melansir studi dari Harvard Medical School, konsumsi gula memicu pelepasan dopamin, zat kimia di otak yang menciptakan perasaan senang dan tenang secara instan. Inilah yang menyebabkan seseorang cenderung mencari makanan manis sebagai bentuk "pelarian" sesaat untuk meredakan kecemasan atau memperbaiki suasana hati yang buruk.

Selain itu, kondisi psikologis seperti kurang tidur juga menjadi pemicu utama di balik keinginan makan manis. Mengutip penelitian yang diterbitkan oleh Journal of Applied Psychology, kurang istirahat dapat mengganggu fungsi hormon leptin dan ghrelin yang mengatur rasa lapar. Akibatnya, otak akan mengirimkan sinyal palsu bahwa tubuh membutuhkan energi cepat, yang biasanya ditemukan dalam makanan dengan kadar gula tinggi.

Tren "self-reward" dengan makanan manis juga sering disoroti oleh para tokoh publik di media sosial. Content creator kesehatan yang juga seorang dokter, dr. Tirta Mandira Hudhi, dalam berbagai edukasi digitalnya sering mengingatkan bahwa keinginan makan manis berlebih sering kali muncul karena kelelahan mental. Beliau menyarankan agar masyarakat lebih waspada dan tidak menjadikan makanan manis sebagai satu-satunya cara untuk mengatasi stres agar tidak terjebak dalam siklus ketergantungan gula.

Secara emosional, kebiasaan ini juga sering disebut sebagai emotional eating. Seseorang mungkin tidak merasa lapar secara fisik, namun secara psikologis ada kekosongan yang ingin diisi. Perasaan kesepian atau kebosanan sering kali memicu seseorang untuk meraih camilan manis sebagai teman aktivitas, yang jika dilakukan secara berulang akan membentuk pola kebiasaan yang sulit dihentikan.

Untuk mengatasi hal ini, penting bagi masyarakat untuk mulai mengenali pemicu emosional sebelum memutuskan untuk mengonsumsi gula. Mengalihkan perhatian dengan aktivitas fisik ringan, meditasi, atau sekadar minum air putih dapat membantu menenangkan sinyal "palsu" dari otak. Pola pikir yang sehat dalam memandang makanan adalah kunci agar kita tetap bisa menikmati rasa manis tanpa harus merusak kesehatan mental maupun fisik.

Memahami faktor psikologis di balik sugar craving adalah langkah awal menuju gaya hidup yang lebih seimbang. Dengan mengelola stres secara lebih bijak dan beristirahat dengan cukup, keinginan makan manis yang berlebihan dapat dikendalikan. Mari lebih peka terhadap sinyal tubuh dan pikiran kita demi kualitas hidup yang lebih baik di masa depan.

Terkini

Terpopuler