JAKARTA (RA) - Di tengah dinamika ekonomi global yang terus berubah, sektor kelapa sawit tetap menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia. Komoditas ini tak sekadar menjadi sumber devisa, tetapi juga menopang kehidupan jutaan masyarakat di Tanah Air.
Hal itu disampaikan oleh Ahli Ilmu Pertanian dan Pembangunan Pertanian yang juga merupakan Menteri Pertanian RI Tahun 2001, Prof Bungaran Saragih, dalam kegiatan yang dihadiri riauaktual.com belum lama ini. Ia menegaskan bahwa sawit merupakan "mega sektor" yang memiliki dampak luas terhadap pembangunan nasional.
"Ketika kita berbicara tentang masa depan sawit Indonesia, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang masa depan jutaan rakyat," ujarnya.
Bungaran memaparkan, kontribusi sektor sawit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 3 hingga 9 persen. Bahkan jika dihitung dari seluruh rantai nilai, dari hulu hingga hilir, angka tersebut bisa menembus 17 persen.
Tak hanya itu, sekitar 12 hingga 17 persen ekspor nonmigas Indonesia juga berasal dari sawit dan produk turunannya. Di balik angka tersebut, terdapat sekitar delapan juta orang yang menggantungkan hidup pada sektor ini, mulai dari petani kecil hingga pelaku industri.
"Ini bukan sektor pinggiran, tapi penopang utama kedaulatan ekonomi," tegasnya.
Menariknya, sekitar 40 persen lahan sawit nasional dikelola oleh petani kecil. Artinya, masa depan sawit juga identik dengan masa depan ekonomi desa dan pemerataan kesejahteraan.
Meski memiliki peran besar, sektor sawit masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu yang paling krusial adalah rendahnya produktivitas petani kecil yang rata-rata hanya mencapai 13 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun.
Selain itu, banyak tanaman sawit milik petani yang telah berusia di atas 20 tahun, sehingga produktivitasnya menurun. Program peremajaan (replanting) pun dinilai belum optimal.
"Masalahnya bukan hanya dana, tapi juga regulasi yang masih rumit," kata Bungaran.
Ia juga menegaskan bahwa Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan ekspansi lahan. Ke depan, fokus harus bergeser pada peningkatan nilai tambah dan inovasi.
Dalam visinya, sawit tidak hanya dipandang sebagai komoditas ekspor, melainkan sebagai basis pembangunan inklusif dan berkelanjutan.
"Sawit bisa menjadi pohon kehidupan jika dikelola dengan ilmu, inovasi, dan hati nurani," ujarnya.
Ia mendorong agar sektor ini menjadi contoh industrialisasi berbasis sumber daya alam yang modern, adil, dan berpihak pada rakyat.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Bungaran menggariskan empat pilar utama. Pertama, inovasi teknologi. Menurutnya pemanfaatan pertanian presisi, big data, dan platform digital dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas petani kecil serta mempersempit kesenjangan dengan perusahaan besar.
Kedua, iovasi kelembagaan. Bungaran mengatakan bahwa penguatan akses pembiayaan, koperasi modern, hingga sertifikasi seperti ISPO dan RSPO harus menjadi alat peningkatan daya saing, bukan sekadar kewajiban.
Ketiga, inovasi rantai nilai. Hilirisasi menjadi kunci. Indonesia didorong untuk mengembangkan produk turunan seperti oleokimia, bioplastik, hingga bioenergi agar nilai tambah tetap di dalam negeri.
Dan keempat, inovasi sosial. Menurutnya pelibatan perempuan, pemuda, dan komunitas lokal dinilai penting agar keberlanjutan benar-benar terasa hingga ke tingkat masyarakat.
Bungaran juga menilai sektor sawit berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Bahkan, ia menyebut target pertumbuhan tinggi hanya realistis jika ditopang sektor ini.
"Kalau ingin pertumbuhan ekonomi tinggi, sawit harus menjadi motor utamanya," ujarnya.
Menurutnya, sawit telah terbukti mampu meningkatkan pendapatan petani hingga 25 persen dibandingkan sektor sebelumnya, meski masih perlu peningkatan produktivitas.
Sebagai produsen terbesar dunia, Indonesia dinilai memiliki peran strategis dalam memimpin industri sawit global, khususnya di kawasan Asia.
Bungaran menekankan pentingnya harmonisasi standar keberlanjutan, integrasi regional, serta keberanian Indonesia untuk membangun narasi sendiri di tengah dominasi perspektif Barat.
"Indonesia harus tampil sebagai pemimpin, bukan hanya secara produksi, tetapi juga secara moral dan intelektual," tegasnya.
Bungaran juga menegaskan bahwa sawit bukan sekadar komoditas, melainkan fondasi masa depan ekonomi rakyat Indonesia.
"Inovasi bukan hanya soal teknologi, tetapi keberanian untuk berpikir berbeda dan menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan," ujarnya.
Dengan potensi besar yang dimiliki, sawit diyakini akan tetap menjadi simbol kekuatan ekonomi Indonesia sekaligus harapan bagi kesejahteraan jutaan masyarakat.