BPDP-Aspekpir Genjot Hilirisasi Sawit: Dari Limbah Jadi Pakan Ternak hingga Biochar

Jumat, 10 April 2026 | 13:51:13 WIB
BPDP-Aspekpir Genjot Hilirisasi Sawit: Dari Limbah Jadi Pakan Ternak hingga Biochar

LABUHANBATU (RA) – Kementerian Keuangan melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia memperkuat peran strategis sektor sawit dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus mendorong pemberdayaan UMKM berbasis sawit. 

Komitmen itu ditunjukkan dalam kegiatan pelatihan dan praktik pengolahan biomassa sawit di Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, Kamis (9/4/2026), yang diikuti ratusan petani plasma, pengurus koperasi, hingga pelaku UMKM. 

Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menekankan pentingnya peningkatan kapasitas petani agar mampu mandiri secara ekonomi. 

"Petani sawit harus punya kemampuan yang mumpuni dan kesejahteraan yang berkelanjutan. Itu yang terus kami dorong bersama BPDP," ujar Helmi kepada riauaktual.com, Jumat (10/4/2026). 

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pelatihan langsung mulai dari pengolahan daun sawit menjadi pakan ternak, pembuatan biochar dari tandan kosong sawit (tankos), hingga pemanfaatannya untuk mendukung pertanian pangan. 

Helmi juga mengungkapkan, BPDP berhasil menghimpun dana sawit mencapai Rp31,5 triliun sepanjang 2025. Dana itu dialokasikan untuk berbagai program strategis, mulai dari beasiswa, riset, pengembangan biodiesel, hingga pelatihan petani. 

Menurutnya, peran sawit semakin penting di tengah dinamika global, terutama terkait ketahanan pangan dan energi. Indonesia bahkan tengah menuju implementasi biodiesel B-50 pada Juli 2026. 

"Ke depan, bukan tidak mungkin kita menuju B-100 jika produktivitas terus ditingkatkan. Sawit bukan hanya soal energi, tapi juga pangan," katanya. 

Sementara itu, Sekretaris Umum Aspekpir Indonesia, Syarifuddin Sirait, mengapresiasi kolaborasi BPDP dan PTPN IV PalmCo Regional 1 dalam mendorong pemberdayaan petani melalui inovasi berbasis UMKM. 

Menurutnya, pemanfaatan limbah sawit seperti biochar, pakan ternak dari daun, hingga pengolahan tankos menjadi langkah konkret untuk meningkatkan nilai tambah. 

"Petani tidak lagi hanya bergantung pada tandan buah segar, tapi bisa mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi," ujarnya. 

Ia menambahkan, inovasi tersebut tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan. 

Dukungan juga datang dari PTPN IV PalmCo Regional 1. Perwakilan Regional Head Labuhanbatu, Ihsan Sinuraya, menegaskan komitmen perusahaan dalam memperkuat kemitraan dengan petani. 

"Kami dorong pemanfaatan biomassa sawit seperti tankos, lidi, dan daun agar memiliki nilai tambah," katanya. 

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara terus mendorong integrasi sektor perkebunan dan peternakan melalui program Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA). 

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumut, Marthin Sibagariang, menyebut Indonesia memiliki posisi strategis di industri sawit global dengan kontribusi sekitar 41 persen terhadap produksi dunia. 

"Kalau sawit Indonesia terganggu, dampaknya bisa global. Ini menunjukkan betapa strategisnya komoditas ini," ujarnya. 

Meski begitu, ia menilai pengembangan sektor sawit masih perlu didorong lebih merata, terutama melalui peningkatan nilai tambah dan integrasi dengan sektor lain seperti peternakan. 

Melalui pelatihan berbasis praktik dan penguatan UMKM, program ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem sawit yang lebih mandiri, berkelanjutan, dan menyejahterakan petani di masa depan.

Tags

Terkini

Terpopuler