PEKANBARU (RA) – Limbah cair kelapa sawit yang selama ini identik sebagai sumber pencemar, kini justru disulap menjadi energi bernilai tinggi.
PTPN IV Regional III memanfaatkan palm oil mill effluent (POME) menjadi biogas untuk bahan bakar pabrik hingga pembangkit listrik.
Transformasi limbah menjadi energi ini diwujudkan melalui pengoperasian enam instalasi biogas yang tersebar di sejumlah unit usaha di Provinsi Riau.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memperkuat kemandirian energi sekaligus menekan dampak lingkungan dari industri sawit.
Dari total enam fasilitas tersebut, empat unit dimanfaatkan sebagai co-firing untuk mendukung operasional pabrik kelapa sawit, yakni PTBg Sei Pagar, PTBg Lubuk Dalam, PTBg Sei Rokan, dan PTBg Tapung.
Sementara dua lainnya, yakni PLTBg Terantam dan PLTBg Tandun, difokuskan untuk menghasilkan energi listrik.
Region Head PTPN IV Regional III, Bambang Budi Santoso, mengatakan pengembangan biogas dari limbah sawit merupakan langkah strategis dalam menjawab tantangan energi sekaligus isu lingkungan.
"Pemanfaatan limbah sawit menjadi energi biogas tidak hanya memberikan nilai tambah, tetapi juga menjadi solusi nyata dalam mendukung transisi energi bersih dan berkelanjutan," ujarnya, Sabtu (4/4/2026).
Ia menjelaskan, melalui teknologi tersebut, limbah cair diolah menjadi gas metana yang kemudian dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.
Selain meningkatkan efisiensi operasional, inovasi ini juga membuka peluang pengembangan energi listrik berbasis limbah di masa depan.
Tak hanya soal energi, pemanfaatan biogas juga berdampak signifikan terhadap penurunan emisi karbon. Pengelolaan gas metana yang optimal dinilai mampu menekan emisi gas rumah kaca yang selama ini menjadi perhatian global.
Menurut Bambang, pengoperasian instalasi biogas ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung target net zero emission (NZE).
Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari efisiensi energi hingga pemanfaatan energi baru terbarukan.
"Biogas menjadi salah satu pilar penting dalam roadmap kami menuju net zero emission, karena mampu mengurangi emisi sekaligus menghasilkan energi," katanya.
Selain itu, perusahaan juga menjalankan berbagai inisiatif keberlanjutan yang mengacu pada standar global seperti sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
Implementasi ini memastikan proses produksi sawit dilakukan secara bertanggung jawab dari aspek lingkungan, sosial, hingga tata kelola.
Sejumlah langkah lain yang turut diperkuat meliputi penerapan good agricultural practices, pengelolaan limbah terpadu, konservasi kawasan bernilai tinggi, hingga komitmen zero burning dalam pembukaan lahan.
Tak berhenti di situ, perusahaan juga mengembangkan konsep ekonomi sirkular dengan mengolah limbah menjadi produk bernilai, seperti biogas dan kompos.
"Pendekatan ini memastikan bahwa limbah bukan lagi beban, tetapi menjadi sumber daya yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan," tambahnya.
Dengan pengoperasian enam instalasi biogas tersebut, PTPN IV Regional III kian menegaskan perannya sebagai pelopor pemanfaatan energi terbarukan di sektor perkebunan sawit, khususnya di Riau.
Inisiatif ini diharapkan menjadi contoh bagi industri sejenis dalam mendorong praktik usaha yang lebih hijau dan berdaya saing global.