DHARMASRAYA (RA) - Bantuan pupuk dan herbisida senilai Rp5,6 miliar dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mulai disalurkan kepada petani sawit di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat.
Bantuan ini diberikan melalui program sarana dan prasarana (sarpras) sebagai upaya mendorong produktivitas kebun rakyat.
Salah satu penerima bantuan adalah KUD Bukit Jaya, yang berada di Nagari Koto Beringin, Kecamatan Tiumang. Ketua KUD Bukit Jaya, Edy Setyawan, mengatakan bantuan tersebut akan dimanfaatkan untuk lahan sawit seluas 222,5 hektare milik anggota koperasi.
"Lahan ini merupakan kebun yang sebelumnya mengikuti program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) tahap pertama. Saat ini usia tanaman sekitar 5 tahun," kata Edy kepada riauaktual.com, Kamis (2/4/2025).
Ia menjelaskan, KUD Bukit Jaya telah tiga kali mengikuti program PSR. Ke depan, seluruh lahan yang telah diremajakan juga akan diajukan untuk mendapatkan bantuan intensifikasi serupa.
"Kami sudah tiga tahap ikut PSR, dan semuanya akan kita ajukan juga untuk bantuan sarpras berupa pupuk ini," ujarnya.
Edy mengaku bantuan tersebut sangat membantu petani, terutama di tengah kenaikan harga pupuk yang cukup tinggi. Ia berharap dukungan ini dapat meningkatkan hasil produksi sekaligus memperkuat peran koperasi.
"Tentu kami sangat bersyukur. Harapannya produktivitas meningkat dan anggota semakin merasakan manfaat berkoperasi," tambahnya.
Sementara itu, Dinas Pertanian Kabupaten Dharmasraya menyambut baik penyaluran bantuan tersebut. Kepala Bidang Perkebunan, Pentri, menyebut bantuan ini diharapkan mampu meningkatkan hasil panen sekaligus kesejahteraan petani.
"Dengan bantuan pupuk ini, kami berharap petani bisa memanfaatkannya secara maksimal sehingga produksi meningkat dan kesejahteraan mereka semakin baik," ujar Pentri.
Ia menjelaskan, pihaknya selama ini terus mendampingi kelompok tani, mulai dari proses pengajuan hingga verifikasi dan penerbitan rekomendasi teknis.
Pentri mengakui, sebelumnya proses rekomendasi teknis kerap menjadi kendala karena memakan waktu cukup lama. Namun kini, proses tersebut dinilai semakin cepat dan efisien.
"Alhamdulillah, untuk Dharmasraya prosesnya sudah lebih baik sehingga manfaat program bisa segera dirasakan petani," jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, BPDP, dan kelembagaan petani agar program berjalan optimal dan berkelanjutan.
Menurutnya, bantuan ini juga diharapkan mengubah pola pengelolaan kebun petani menjadi lebih intensif.
"Dulu petani cenderung hanya menanam tanpa perawatan maksimal. Sekarang didorong untuk lebih serius merawat kebun agar hasilnya optimal," katanya.
Selain peningkatan produksi, program ini juga membuka peluang peningkatan kualitas sumber daya manusia petani, termasuk menuju sertifikasi ISPO serta kemitraan dengan pabrik kelapa sawit (PKS).
Dengan produktivitas dan kualitas yang meningkat, harga jual tandan buah segar (TBS) petani diharapkan menjadi lebih kompetitif di pasar.
"Ke depan tidak berhenti di bantuan ini saja. Akan ada peningkatan kapasitas SDM dan peluang kemitraan dengan PKS agar nilai jual hasil petani semakin baik," tutup Pentri.