Kasus Dokter Meninggal karena Campak, Haruskah Orang Dewasa Vaksin?

Ahad, 29 Maret 2026 | 06:13:40 WIB
Ilustrasi campak pada orang dewasa.

RIAUAKTUAL (RA) - Kasus meninggalnya seorang dokter muda akibat campak menjadi pengingat bahwa penyakit yang kerap dianggap ringan ini masih bisa berakibat fatal, bahkan pada usia dewasa.

Seorang dokter berinisial AMW (26) meninggal dunia setelah terinfeksi campak saat menjalani masa internship di RSUD Cimacan, Cianjur, Jawa Barat, Kamis (26/3/2026).

Sebelum meninggal, korban mengalami gejala seperti demam tinggi, ruam kemerahan di kulit, hingga sesak napas berat.

Peristiwa ini memunculkan pertanyaan di masyarakat, terutama terkait kebutuhan vaksin campak bagi orang dewasa yang selama ini lebih identik dengan imunisasi anak.

Melansir dari Kompas, epidemiolog dari Universitas Griffith, dr. Dicky Budiman, M.Sc.PH. menegaskan, vaksin campak tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak, tetapi juga penting bagi orang dewasa.

“Vaksin campak pada dewasa itu ada dan cukup efektif. Sangat dianjurkan pada orang dewasa apalagi di daerah tersebut sedang terjadi wabah campak dan dia juga belum pernah terkena campak,” jelas dr. Dicky.

Dalam praktik imunisasi global, vaksin campak umumnya diberikan dalam bentuk vaksin kombinasi seperti MMR (measles, mumps, rubella), yang tidak hanya melindungi dari campak, tetapi juga gondongan dan rubella.

Dr. Dicky menjelaskan, vaksinasi campak sangat direkomendasikan bagi orang dewasa yang belum pernah divaksin atau tidak memiliki catatan imunisasi yang jelas.

“Untuk orang dewasa yang belum pernah divaksin atau tidak punya bukti imunisasi pernah divaksin MMR atau vaksin campak, direkomendasikan untuk menerima vaksin, apalagi dia tenaga kesehatan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, kelompok tertentu memiliki risiko lebih tinggi, sehingga perlu mendapatkan perlindungan tambahan melalui vaksinasi.

“Bukan hanya dokter, tetapi orang-orang yang sering menangani kasus-kasus pasien dengan infeksi campak seperti ini juga boleh divaksin lagi,” lanjutnya.

Hal ini penting mengingat tenaga kesehatan dan individu yang sering terpapar pasien memiliki kemungkinan lebih besar tertular virus.

Salah satu kekhawatiran masyarakat adalah apakah vaksin masih efektif jika diberikan saat dewasa.

Namun, dr. Dicky memastikan bahwa efektivitas vaksin campak tetap tinggi, terlebih jika vaksin tersebut diberikan sejak berusia dini.

“Efektivitas vaksin ini satu dosis itu 93 persen proteksi terhadap campak, dengan dua dosis meningkat menjadi 97 persen,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa efektivitas tersebut tidak mengalami penurunan signifikan meski diberikan pada usia dewasa.

“Efektivitas ini tidak menurun signifikan meskipun diberikan saat dewasa, karena vaksinnya bekerja dengan memicu respons imun adaptif,” jelas dr.Dicky.

Sistem kekebalan tubuh tetap mampu merespons vaksin secara optimal, sehingga perlindungan terhadap infeksi campak tetap maksimal.

Dalam beberapa tahun terakhir, kasus campak tidak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga meningkat pada kelompok usia remaja dan dewasa muda.

“Banyak Kejadian Luar Biasa campak dalam 5 tahun terakhir terjadi pada remaja dan dewasa muda yang tidak lengkap imunisasinya,” kata dr. Dicky.

Ia menyebut kelompok ini sebagai kelompok dengan “immunity gap” atau celah kekebalan, yaitu kondisi ketika seseorang tidak memiliki perlindungan imun yang cukup terhadap penyakit tertentu.

“Vaksinasi dewasa adalah intervensi penting dalam menutup celah kekebalan populasi atau herd immunity gap,” tambahnya.

Dengan demikian, vaksinasi pada orang dewasa bukan hanya melindungi individu, tetapi juga berperan penting dalam mencegah penyebaran penyakit secara luas di masyarakat.

Kasus meninggalnya dokter muda ini menjadi pengingat bahwa campak bukan sekadar penyakit anak, melainkan ancaman serius yang dapat dicegah melalui imunisasi yang lengkap, termasuk pada usia dewasa.

Terkini

Terpopuler