PEKANBARU (RA) - Balai Besar KSDA Riau bersama aparat dan masyarakat berhasil mengamankan seekor anak Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang sebelumnya dilaporkan beberapa kali memangsa ternak warga di wilayah Tanjung Pulai. Satwa dilindungi tersebut kini telah dievakuasi untuk menjalani perawatan dan pemantauan kesehatan.
Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono, mengatakan kemunculan harimau di sekitar permukiman warga sudah terpantau sejak beberapa waktu terakhir dan sempat menimbulkan konflik dengan masyarakat.
"Satwa ini sudah beberapa kali dilaporkan muncul di sekitar permukiman dan memangsa ternak warga. Tim langsung melakukan mitigasi konflik dengan pemasangan kandang jebak di lokasi yang sering dilaporkan," kata Supartono, Kamis (12/3/2026).
Peristiwa terbaru terjadi pada Senin (9/3/2026) sekitar pukul 20.00 WIB, ketika seekor Harimau Sumatera kembali memangsa kambing milik warga di dalam kandang di wilayah sekitar Simpang Tiga menuju Desa Pulau Muda. Lokasi tersebut dalam beberapa bulan terakhir memang kerap dilaporkan menjadi titik kemunculan satwa liar.
Menindaklanjuti kejadian itu, tim Balai Besar KSDA Riau bersama masyarakat kembali memasang kandang jebak pada Selasa (10/3/2026) sekitar pukul 11.00 WIB dengan memanfaatkan sisa ternak yang dimangsa sebagai umpan.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Pada malam harinya sekitar pukul 21.00 WIB, saat tim melakukan monitoring, harimau tersebut terpantau telah masuk ke dalam kandang jebak sehingga berhasil diamankan.
"Selanjutnya pada Rabu (11/3/2026) tim melakukan evakuasi dengan memindahkan satwa dari kandang jebak ke kandang angkut melalui prosedur pembiusan yang dilakukan dokter hewan BBKSDA Riau," ujar Supartono.
Dari hasil pemeriksaan awal, satwa tersebut diketahui merupakan anak Harimau Sumatera berjenis kelamin betina dengan perkiraan umur kurang dari satu tahun. Kondisi kesehatannya secara umum baik, tidak ditemukan luka pada tubuh, namun kondisi fisiknya terlihat agak kurus.
Saat ini, harimau tersebut ditempatkan di pusat penyelamatan satwa milik Yayasan Arsari Djojohadikusumo untuk pemantauan dan pemulihan kondisi sebelum diputuskan langkah selanjutnya.
"Setelah proses pemantauan dan perbaikan kesehatan selesai, kami akan mempertimbangkan kemungkinan rilis ke habitat alaminya sebagai langkah terbaik bagi keberlangsungan hidup satwa tersebut," jelas Supartono.
Ia juga mengapresiasi peran masyarakat, TNI, Polri, serta pihak perusahaan di sekitar lokasi yang ikut membantu proses mitigasi konflik satwa liar tersebut.
Supartono mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan tidak melakukan tindakan berbahaya apabila menemukan tanda-tanda keberadaan Harimau Sumatera di sekitar permukiman.
"Segera laporkan kepada petugas atau hubungi call center BBKSDA Riau agar bisa dilakukan penanganan yang tepat. Keselamatan masyarakat dan kelestarian satwa liar harus sama-sama kita jaga," tutupnya.