Serba-serbi Dokumen Kasus Predator Seksual 'Epstein Files' Bikin Gempar

Rabu, 04 Februari 2026 | 06:33:19 WIB
Dokumen kasus mendiang Jeffrey Epstein.

RIAUAKTUAL (RA) - Dokumen kasus terkait mendiang terpidana kejahatan seksual Jeffrey Epstein yang baru dirilis menggemparkan publik. Dokumen ini berisi banyak hal mengejutkan terkait kasus si predator seksual.

Dokumen ini dirilis oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) pada Jumat (30/1/2026). Kasus Epstein menggemparkan AS karena menyeret nama-nama tokoh terkemuka di dalamnya, termasuk Presiden Donald Trump.

Dirilisnya dokumen kasus Epstein ini ke publik, memenuhi ketentuan undang-undang yang diloloskan oleh parlemen AS pada November tahun lalu, yang mewajibkan diungkapnya semua dokumen terkait kasus tersebut.

Wakil Jaksa Agung AS Todd Blanche, seperti dilansir Reuters dan AFP, Sabtu (31/1/2026), mengatakan dalam konferensi pers bahwa kumpulan dokumen kasus Epstein yang dirilis pada Jumat (30/1) ini menandai akhir dari rencana publikasi yang direncanakan pemerintahan Trump berdasarkan undang-undang.

"Menandai akhir dari proses identifikasi dan peninjauan dokumen yang sangat komprehensif untuk memastikan transparansi kepada rakyat Amerika," sebutnya, dikutip dari detikcom.

Kumpulan dokumen yang dirilis ini, sebut Blanche, mencakup lebih dari tiga juta halaman dokumen, 2.000 video, dan 180.000 gambar.

Dia menjelaskan bahwa dokumen yang dirilis juga mencakup dokumen yang disensor secara "ekstensif", mengingat pengecualian hukum yang mengizinkan dokumen tertentu untuk disensor saat diungkap ke publik. Bagian yang disensor mencakup informasi identitas korban atau materi terkait investigasi aktif.

Publikasi dokumen Epstein sebelumnya melibatkan banyak sensor, yang menuai kritikan dari beberapa anggota parlemen AS.

Lebih lanjut, Blanche memberikan pembelaan mengenai lambatnya proses publikasi dokumen Epstein ini, dengan mengatakan bahwa berkas-berkas yang sangat banyak itu membutuhkan ratusan pengacara bekerja siang dan malam selama berminggu-minggu untuk meninjau dan mempersiapkannya untuk dirilis ke publik.

Dia menyebut ada kebutuhan untuk melakukan penyensoran secara teliti demi melindungi identitas korban Epstein, yang jumlahnya diduga melebihi 1.000 orang.

Undang-Undang Transparansi Dokumen Epstein menyerukan agar semua dokumen yang dipegang oleh Departemen Kehakiman AS dipublikasikan paling lambat tanggal 19 Desember 2025. Namun para pejabat terkait mengatakan mereka membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengkaji dokumen-dokumen tersebut.

Trump yang berteman dengan Epstein pada tahun 1990-an hingga awal tahun 2000-an sebelum akhirnya berselisih, sempat menolak publikasi dokumen tersebut selama berbulan-bulan hingga Kongres AS, mencakup Partai Republik, mengajukan undang-undang yang mengatur publikasi dokumen Epstein meskipun dia keberatan.

Trump belum secara resmi dituduh melakukan pelanggaran hukum apa pun terkait Epstein, dan dia telah membantah mengetahui tindak kejahatan Epstein.

Dalam siaran pers saat mengumumkan publikasi dokumen Epstein pada Jumat (30/1), Departemen Kehakiman AS menyebut beberapa dokumen berisi "klaim tidak benar dan sensasional" mengenai Trump.

"Beberapa dokumen berisi klaim yang tidak benar dan sensasional terhadap Presiden Trump, yang diserahkan kepada FBI tepat sebelum pemilu tahun 2020. Untuk memperjelas, klaim tersebut tidak berdasar dan salah, dan jika memiliki sedikit kredibilitas, tentu saja sudah akan digunakan sebagai senjata melawan Presiden Trump," kata Departemen Kehakiman AS.

Blanche, dalam konferensi pers, menegaskan bahwa Gedung Putih "tidak memberitahu departemen ini soal bagaimana melakukan peninjauan kami, apa yang harus diperiksa, apa yang harus disensor, apa yang tidak boleh disensor".

Blanche yang pernah menjadi pengacara pribadi Trump ini, juga menepis tuduhan soal materi memalukan tentang Trump dalam dokumen Epstein telah disensor.

"Kami tidak melindungi Presiden Trump. Kami tidak melindungi siapa pun," tegasnya.

Epstein yang seorang pemodal terkemuka asal New York, ditemukan tewas gantung diri di sel penjara tempatnya ditahan pada tahun 2019, saat menunggu persidangan atas tuduhan perdagangan seks. Meskipun kematiannya dinyatakan sebagai bunuh diri, hal itu memicu teori konspirasi selama bertahun-tahun.

Skandal Epstein telah menjadi masalah politik yang tak berkesudahan bagi Trump, yang menghadapi penurunan angka kepuasan publik dalam berbagai isu, termasuk caranya menangani ekonomi dan penindakan keras terhadap imigrasi.

Nama-nama tokoh terkemuka dunia disinggung dalam kumpulan berkas sebanyak 3 juta halaman tersebut, salah satunya pendiri Microsoft Bill Gates. Nama Bill Gates disebut berulang kali dalam email-email Epstein yang diungkap ke publik. Salah satu email tertanggal 3 Maret 2017, seperti dilansir media Turki, Haberler, Selasa (3/2/2026), mengungkapkan serangkaian topik penting, mulai dari simulasi pandemi hingga senjata neuroteknologi terkait keamanan nasional.

Email yang membahas soal simulasi pandemi itu menjadi sorotan, karena pembahasan dilakukan sekitar tiga tahun sebelum pandemi virus Corona (COVID-19) melanda dunia.

Isi email tersebut secara khusus membahas soal detail teknis kolaborasi antara Epstein, yang merupakan pemodal terkemuka AS, dengan Gates dan timnya.

Dalam email yang dikirimkan dengan subjek "bgc3 Deliverables and Scope" tersebut, Epstein tampaknya menawarkan proposal di berbagai bidang, mulai dari keamanan nasional hingga kesehatan.

Korespondensi email itu ditujukan secara langsung kepada Gates yang disapa dengan akrab sebagai "Bill". Email itu juga ikut dikirimkan kepada Larry Cohen.

Nama Larry Cohen dikenal sebagai CEO dan mitra pengelola Gates Ventures, perusahaan jasa pribadi milik Gates. Hingga tahun 2018, Gates Ventures disebut sebagai bgC3, yang lebih merupakan lembaga kajian tentang masalah kesehatan dan pembangunan global, serta portofolio investasi teknologi.

Dalam isi email tersebut, disebutkan bahwa pekerjaan sedang dilakukan untuk lima topik utama, yakni simulasi pandemi, senjata neuroteknologi, data kesehatan digital, penyakit kronis dan ilmu otak, dan ekonomi kesehatan.

Topik simulasi pandemi itu menyebutkan soal "rekomendasi tindak lanjut/atau spesifikasi teknis untuk simulasi strain pandemi". Sedangkan topik senjata neuroteknologi menyebutkan soal "buku putih tentang neuroteknologi sebagai senjata dalam intelijen dan pertahanan nasional".

Topik data kesehatan digital membahas soal "rancangan dan/atau rekomendasi untuk sistem digital berbasis 'zero-knowledge proof' guna mengamankan informasi kesehatan pribadi sekaligus memungkinkan akses ke informasi pribadi yang telah disensor secara digital".

Topik penyakit kronis dan ilmu otak membahas soal "rekomendasi tentang neuroteknologi yang berkaitan dengan penyakit kronis/degeneratif". Sementara topik ekonomi kesehatan membahas soal "pengeluaran kesehatan konsumen di AS".

Menurut email tersebut, Epstein menyatakan bahwa setelah pembicaraannya dengan Gates, dia bekerja sama dengan sekelompok ahli yang mencakup nama-nama seperti "Rodger, Mark, Chris, Trevor, dan Geoff" untuk menghasilkan proyek-proyek tersebut.

Pada bagian akhir email, Epstein menyampaikan rasa terima kasih atas kesempatan yang diberikan, dan menyatakan "siap membantu dengan cara apa pun".

Isi email tersebut memicu berbagai spekulasi karena menunjukkan pembahasan soal pandemi jauh sebelum COVID-19 melumpuhkan dunia.

Namun terlepas dari itu, otoritas terkait telah menekankan bahwa dokumen Epstein itu merupakan bagian dari peninjauan yang sedang berlangsung dan mendesak kehati-hatian dalam menafsirkan isinya.

Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Bill Clinton dan istrinya, Hillary Clinton, bersedia memberikan kesaksian langsung dalam penyelidikan DPR AS terkait mendiang pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein. Nama Bill Clinton disebut berulang kali dalam dokumen kasus Epstein yang dirilis ke publik pekan lalu.

Bill dan Hillary, seperti dilansir AFP, Selasa (3/2/2026), pada awalnya menolak hadir langsung di hadapan anggota parlemen yang menyelidiki bagaimana otoritas AS menangani penyelidikan sebelumnya terhadap Epstein, yang memiliki koneksi dan korespondensi dengan para elite bisnis dan politik dunia.

"Mantan Presiden dan mantan Menteri Luar Negeri akan hadir. Mereka berharap dapat menetapkan preseden yang berlaku untuk semua orang," kata juru bicara Clinton, Angela Urena, dalam pernyataan via media sosial X. Hillary pernah menjabat Menlu AS pada era Presiden Barack Obama tahun 2009-2013.

Perdana Menteri (PM) Inggris, Keir Starmer, mengatakan bahwa mantan Pangeran Andrew seharusnya beraksi di hadapan komite Kongres Amerika Serikat (AS), menyusul pengungkapan terbaru tentang hubungannya dengan mendiang pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein.

Dokumen itu mencakup sejumlah email yang menunjukkan adik laki-laki Raja Inggris Charles III itu tetap berkomunikasi rutin dengan Epstein selama lebih dari dua tahun setelah dia dinyatakan bersalah atas kejahatan seksual terhadap anak.

Dokumen tersebut juga mencakup foto-foto yang tampaknya menunjukkan Andrew sedang berjongkok dan menyentuh pinggang seorang perempuan tak dikenal yang terbaring di atas lantai. Wajah perempuan itu tampak disensor.

Starmer mengatakan bahwa Andrew harus hadir langsung di hadapan anggota Kongres AS untuk menjelaskan semuanya yang dia ketahui tentang Epstein untuk membantu para korbannya.

"Siapa pun yang memiliki informasi harus siap untuk membagikan informasi tersebut dalam bentuk apa pun yang diminta," kata Starmer, saat berbicara kepada wartawan di dalam pesawat yang terbang ke Jepang setelah kunjungan empat hari ke China.

"Anda tidak bisa berpusat pada korban jika Anda tidak siap untuk melakukan itu," ujarnya.

Pada November tahun lalu, sejumlah anggota komite Kongres AS yang menyelidiki kasus Epstein menyerukan agar Andrew menjawab sejumlah pertanyaan.

Raja Charles telah melucuti gelar pangeran dari Andrew dan mengusirnya dari kediaman resminya di Kastil Windsor pada November lalu, setelah terungkap hubungannya dengan Epstein.

Mantan pangeran berusia 65 tahun itu kini menggunakan nama keluarga Andrew Mountbatten-Windsor. Dia membantah telah melakukan pelanggaran hukum terkait hubungannya dengan Epstein, dan sebelumnya membantah terus menjalin kontak dengannya setelah Epstein dihukum pada tahun 2008, kecuali kunjungan ke New York pada tahun 2010 untuk mengakhiri hubungan mereka.

Terkini

Terpopuler