Bukan Kopi, Ternyata Cara Ini Lebih Ampuh Usir Rasa Ngantuk saat Kerja

Senin, 26 Januari 2026 | 06:36:58 WIB
Ilustrasi

RIAUAKTUAL (RA) - Rasa ngantuk saat bekerja sering kali 'dilawan' dengan kopi atau bahkan camilan manis. Padahal, kebiasaan ini belum tentu menjadi solusi terbaik dan justru bisa menimbulkan masalah kesehatan dalam jangka panjang, termasuk risiko diabetes karena asupan tinggi gula.

Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), Doddy Izwardy, mengungkapkan penyebab paling sering seseorang mengantuk saat beraktivitas bukanlah karena kurang kafein, melainkan kurang cairan.

"Coba bayangkan, lagi kerja tiba-tiba ngantuk berat. Apa yang biasanya dilakukan? Minum kopi atau jajan yang manis-manis. Itu salah," kata Doddy, mengutip dari detikcom.

Menurutnya, saat tubuh kekurangan cairan, salah satu sinyal yang muncul adalah rasa lelah dan mengantuk. "Coba tes saja. Kalau ngantuk, ambil air dua gelas, minum, yang hangat ya. Biasanya hilang ngantuknya," jelasnya.

Doddy menekankan, kopi memang bisa membuat mata melek, tetapi efeknya hanya sementara.

"Dikasih kopi itu segarnya cuma sebentar, habis itu lemes lagi, begitu juga dengan camilan manis. Yang ada ngantuk lagi dan kalau kebiasaan, lama-lama ginjal yang kena," wanti-wantinya.

Karena itu, ia menilai kebiasaan mengandalkan kopi atau minuman manis setiap kali mengantuk bukanlah solusi yang sehat.

Doddy menyebut, prinsip-prinsip dasar untuk mencegah diabetes hingga obesitas sebenarnya relatif sederhana.

"Minumlah air putih dua liter sehari, lakukan gerak atau jalan kaki 30 menit, timbang berat badan setiap bulan, ukur tinggi badan tiap empat bulan. Itu pesan-pesan sederhana, tapi sering tidak didengar," katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya aktivitas fisik. Menurutnya, makan enak tapi tidak bergerak adalah kombinasi berbahaya bagi kesehatan.

"Kalau kita makan semuanya enak tapi nggak bergerak, itu bahaya," tegasnya.

Terkait pola makan, Doddy menekankan pentingnya keanekaragaman pangan.

"Makanlah beragam, jangan ada yang dibatasi, kecuali memang ada alasan agama, kepercayaan, atau kondisi medis tertentu," ujarnya.

Ia mencontohkan, perubahan lingkungan tidak otomatis mengubah pola makan seseorang.

"Kita pergi ke Jogja, bisa ngurangin gula? Nggak juga. Kita ke Padang, bisa ngilangin santan dan lemaknya? Nggak juga. Itu susahnya," katanya.

Karena itu, kunci utamanya bukan melarang total, tetapi mengatur keseimbangan dan gaya hidup secara keseluruhan.

Doddy juga menyebut, masalah gizi seperti obesitas atau diabetes tidak bisa diselesaikan dengan satu pendekatan untuk semua orang.

"Kalau ada yang tanya, 'Pak, anak saya obesitas makan apa?' ya kita ukur dulu tinggi dan berat badannya. Pendekatannya beda-beda tiap orang," jelasnya.

Terkini

Terpopuler